Cakrawala News
Portal Berita Online
Banner Sky Kiri
Banner Sky Kanan

Menelusuri Granat di Banjarnegara di Markas Ki Ageng Penjawi

 

BANJARNEGARA, CAKRAWALA.CO,- Penemuan 29 granat aktif di Banjarnegara menguatkan praduga bahwa kawasan ini memang bekas daerah jajahan Belanda, setidaknya pernah dilintasi Belanda, atau menjadi markas para pejuang republik.

Sisa-sisa perjuangannya dapat dilihat dari penemuan granat tersebut. Ke-29 granat aktif ditemukan seorang pembuat batu bata bernama Selam di pekarangan dekat kuburan Babakan di Desa Kebanaran, kecamatan Mandiraja, Banjarnegara (20/8/2017). Lokasi penemuan granat tidak jauh dari rumah Pak Sutarmo (sekitar 100 meter).

 

Ketika Polisi mengamankan penemuan 29 granat aktif di desa Kebanaran, Ke. Mandiraja, Kab. Banjarnegara Minggu, 20/8/2017 (foto: istimewa)
Granat yang ditemukan warga di Kebanaran Mandiraja Banjarnegara (foto: Syaeful)

 

Adalah Ustadz Amin Suradilaga yang membenarkan bahwa almarhum Pak Sutarmo (ayahnya) yang juga seorang veteran pernah bercerita bahwa dia memang pernah mengubur berbagai senjata. Namun Amin sendiri tidak mengetahui dimana lokasi penguburannya. Karena cerita itu ia dengar semasa kecil. Sementara Pak Sutarmo meninggal tahun 1993.

Tidak menutup kemungkinan bukan hanya granat tetapi juga senjata lain berupa senapan ikut dikubur, termasuk sejumlah keris peninggalan para orang tua jaman dahulu juga dikuburkannya.

Peran Pak Sutarmo ketika itu adalah pemuda yang ikut ke sana kemari bersama para pejuang. Pak Sutarmo bertugas membawa perbekalan perang termasuk logistik. Pak Sutarmo pula yang mengurus keperluan para pejuang saat itu. Satu yang masih diingat adalah “jenderal”  Sudrajat yang singgah di Kebanaran.

Ketika Belanda kembali datang tahun 1948, Pak Sutarmo bersama para pejuang bergegas menyingkir dan mengamankan dokumen termasuk senjata. Mereka menyingkir ke tempat yang aman, yakni di wilayah yang tidak diklaim sebagai wilayah Belanda. Batasnya (garis demarkasi) adalah desa Joho Kecamatan Bawang Banjarnegara. Batas itu sekarang ditandai dengan monumen Renville. Dari monumen ke arah Timur adalah wilayah Republik, sedang Joho ke arah Barat adalah wilayah pendudukan Belanda.

Tugu Renville di Joho Banjarnegara, sebagai tanda perbatasan wilayah pendudukan Belanda dan Republik (foto Istimewa).

Saksi sejarah saat ini sudah sulit dilacak, karena sudah banyak yang meninggal. Di antaranya adalah Dulbari, yang juga seorang veteran.  Ada juga Chalimi veteran yang saat ini usianya sekitar 90 tahun dan masih bisa bercerita. Beberapa lainnya sudah sulit dimintai keterangan karena faktor usia lanjut yang tak lagi segar ingatannya, sehingga penelusuran sejarah diperoleh melalui cerita yang terekam oleh anak cucu para pejuang.

Sejarah menyebut  bahwa Kebanaran adalah daerah penting masa lalu, karena di sini pernah menjadi markas keturunan kerajaan Mataram yang menyingkir karena konflik internal. Di antaranya adalah Ki Ageng Penjawi, yang tidak lain adalah Adipati Pesanten (Pati Jawa Tengah).

Alkisah berawal sejak jaman Kerajaan Mataram. Kala itu hubungan antara Kerajaan Mataram dengan Kadipaten Pesanten sedang kurang baik. Hal ini disebabkan Sang Adipati Pesanten beberapa kali diundang dalam persidangan tidak hadir. Akhirnya Sang Adipati mendapat peringatan keras dari Kanjeng Sultan Mataram. Demi memperbaiki hubungan Kadipaten Pesantenan dengan Mataram, Sang Adipati pada suatu pisowanan hadir. Namun apa yang terjaadi? Rupa-rupanya para nayaka praja dan para kadang sentana Mataram telah terlanjur kurang simpati terhadap Sang Adipati. Bahkan mereka menganggap sikap sang Adipati sebagai suatu pertanda ‘mbalela’. Maka tidak heran kalau kehadirannya di Mataram mendapat tanggapan dingin, bahkan mendapat ejekan yang menyakitkan hati.

Atas tanggapan tersebut, Adipati Pesantenan marah, terjadilah pertengkaran yang berakhir peperangan. Sudah barang tentu Sang Adipati tidak mampu menandingi prajurit Mataram yang jumlahnya sangat banyak. Mundurlah Ia dan hijrah menuju ke arah barat menuju ke daerah Banyumas. Sampailah ia di daerah yang sekarang bernama Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Di daerah ini ia berganti nama menjadi Ki Ageng Penjawi.

Ki Ageng Penjawi kemudian dikenal juga dengan nama Kyai Kedung Lumbu karena bertempat tinggal di Dukuh Kedunglumbu Desa Kebanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Di daerah tersebut, ia terkenal menjadi orang berilmu dan sering berbagi ilmu kepada masyarakat sekitar. Sampai akhirnya ia  meninggal dunia di lokasi tersebut, dan dimakamkan juga dilokasi tersebut dengan nama pemakaman Kedunglumbu.

Makam Kedunglumbu di Desa Kebanaran, Mandiraja, Banjarnegara (foto: istimewa)

Kedung Lumbu berada di lekukan/tikungan tepi Kali Sapi. Daerah itu banyak “kedung” (air dalam dan sering menghanyutkan karena terjadi pusaran air). Di kanan kirinya terdapat tanaman talas jenis lumbu.

Dari otak-atik ini warga setempat menyebut daerah itu disebut kedung lumbu. Pemakaman di sekitar kedung lumbu dimana Ki Ageng Penjawi dimakamkan, kemudian juga disebut pemakaman Kedung Lumbu. Dan Ki Ageng Penjawi banyak disebut dengan Mbah Kedung Lumbu.

Kedung Lumbu sebagai kedung (air yang dalam) saat ini tidak tampak lagi karena sudah menjadi daerah genangan waduk Gajanguling yang membendung Kali Sapi di desa Glempang, tetangga desa Kebanaran, kec. Mandiraja, Banjarnegara.

Selain peninggalan berupa makam, Ki Ageng Penjawi juga meninggalkan beberapa macam pusaka. Namun untuk menemukan peninggalan Ki Ageng Penjawi terbilang sangat susah karena terkesan disembunyikan dan dirahasiakan (sumber: http://adigunaku.blogspot.co.id/2015/07/makam-kedunglumbu-mandiraja.html). Tidak ada museum penyimpan pusakan. Yang ada adalah disimpan di beberapa orang tua yang suka benda keramat.  Yang lain dikubur karena tidak bisa merawatnya.

Saat ini keturunan Ki Ageng Penjawi alias Mbah Kedung Lumbu adalah para anak cucunya yang bisa jadi tergabung dalam keluarga Bani Haji Iskhaq, karena merekalah yang merawat makam Mbah Kedunglumbu. Pemakaman itu berada di pinggir Kali Sapi Desa Kebanaran, Mandiraja, Banjarnegara. (Syaefurrahman Albanjary).

%d bloggers like this: