Cakrawala News
Portal Berita Online

Menelisik Kepemimpinan Habib Rizieq

0 563

Menelisik Kepemimpinan Habib Rizieq­

Oleh: Karina Putri Prarahmadanty

Saat ini eksistensi gerakan agama khususnya agama Islam meningkat. Peluang terbukanya lingkungan politik dimanfaatkan oleh komunitas penganut agama islam untuk menyampaikan aspirasinya, salah satunya Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin oleh Habib Rizieq Shihab.

Habib Rizieq Shihab dipandang oleh masyarakat sebagai ketua yang keras. Salah satu ajaran islam yaitu amar ma’ruf nahi munkar berarti menuju yang baik dan mencegah yang buruk dipraktikan oleh sebagian besar organisasi islam dalam bersuara. Sebaliknya, Habib Rizieq sebagai pihak yang berseru keras dan lantang dalam menyampaikan aspirasinya.

Cara Habib Rizieq mengubah tujuan menyebarkan ajaran agama islam menjadi kiat yang ‘keras’ tentunya tak luput dari bagaimana ia menunjukkan kewibawaannya untuk memperbesar pengaruhnya. Jusuf Kalla berpendapat bahwa kepopuleran Habib Rizieq sebagai pemimpin didukung oleh karakternya yaitu karismatik. Pemimpin karismatik memiliki keahlian untuk mengubah pengikutnya dengan mengalihkan tujuan, cara, dan proses. Habib Rizieq seringkali menyuarakan narasi berupa doa, ceramah, dan protes secara keras dengan tujuan untuk mengobarkan semangat kebersamaan islam ke pengikutnya. Sejak dahulu, masyarakat Indonesia memang menyukai orasi yang menggelegar seperti Bung Tomo pada peristiwa 10 November atau Ir. Soekarno. Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa sikapnya yang keras dan lantang memberikan semangat yang berapi-api kepada pengikutnya untuk turut menyuarakan dengan cara yang serupa.

Pemimpin yang karismatik memiliki kekuasaan yang bersumber dari pribadi orang tersebut. Hal ini seringkali disebut kekuasaan referensi, yaitu kekuasaan yang berasal dari kepribadian pemimpin yang unik atau dapat mempengaruhi banyak orang. Karismatik dapat lahir apabila pemimpin tersebut memiliki potensi. Perlu ditelusuri bahwa gelar ‘habib’ yang terpatri dalam namanya merupakan sebutan untuk seorang yang memiliki ilmu mendalam mengenai agama, dakwah, dan menjadi teladan bagi masyarakat. Tidak semua orang pula pantas untuk mendapat gelar habib. Apabila dikorelasikan dengan pendidikan dan gelar habib yang diemban Habib Rizieq, hal itu secara eksplisit menunjukkan karismanya dalam menyebarkan ajaran islam sebagai orang yang berpendidikan.

Menurut Robbins dan Judge (2015), kepemimpinan karismatik tidak selalu bersifat stabil dan membawa pengaruh baik secara menyeluruh. Pengaruh mereka yang besar berpotensi untuk memberikan mereka keleluasaan untuk sewenang-wenang dalam mencapai tujuan organisasi. Habib Rizieq sempat dilaporkan kepada pihak berwenang bahwa ia telah menodai lambang serta norma dasar pancasila dan menghina martabat proklamator kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno. Seruan beliau mampu menggiring perspektif baru pengikutnya akan tiang pedoman Indonesia. Meski sudah diberi klarifikasi bahwa hal tersebut hanya berupa kritik, sebagai seorang pemimpin seharusnya ia paham mengenai dampak dari opininya dan mengganti kata-kata yang tak senonoh menjadi lebih baik.

Kontroversi yang ia dapatkan tak menyurutkan jumlah pengikutnya bahkan ketika kasus yang menyeret namanya kian meningkat. Berdasarkan teori Effendy (1989), pengikut yang didasari agama merupakan pengikut yang berani fanatik dan berani mati karena mereka percaya bahwa pemimpinnya adalah orang yang dapat dipercaya dan mengedepankan nilai agama. Fanatisme ini dibuktikan dengan kepercayaan mereka pada Habib Rizieq meski berkali-kali berhadapan dengan lembaga hukum. Pengikut Habib Rizieq selalu meyakini akan dakwahnya mengingat pendidikan dan gelar yang ia pegang meski tak jarang perkataan beliau bertentangan dengan norma dan nilai negara. Selain fanatisme, hal ini juga menunjukkan bahwa pengikutnya mencerminkan sifat konformis, yaitu pengikut yang aktif namun tidak kritis. Apapun yang dikatakan oleh Habib Rizieq selalu diyakini kebenarannya tanpa memerdulikan rasionalitasnya. Mereka menolak mentah-mentah dan mengikuti saran dari Habib Rizieq meski harus menjadi kelompok yang radikal.

Tingginya pengikut Habib Rizieq juga dilatarbelakangi atas pemimpin Indonesia yang tak bisa merangkul seluruh golongan masyarakat. Di Indonesia, mayoritas menggolongkan umat islam sebagai kelompok yang radikal dan teroris. Habib Rizieq hadir sebagai kelompok oposisi yang berani menentang pemerintah dan ketidakbenaran akan stigma tersebut. Ia tak ragu untuk membawa isu sensitif seperti penindasan, kriminalitas, dan ketimpangan yang dirasakan oleh masyarakat muslim. Sosoknya yang tegas, lantang, dan berani melawan yurisdiksi pemerintah menciptakan sense of belonging atas masyarakat Indonesia yang secara sistematis telah tertindas oleh pemerintah.

Terlepas dari bagaimana baik dan buruknya, gaya kepemimpinan Habib Rizieq harusnya dapat dijadikan refleksi untuk pemerintah dimana seorang pihak oposisi mendapatkan atensi yang tinggi dari masyarakat. Bahkan tanpa jabatan strategis dalam pemerintah, ia mampu mengambil hati masyarakat. Hal ini sudah seharusnya menjadi evaluasi dari tata kelola pemerintah untuk menilik kembali bagaimana karakteristik pemimpin yang baik untuk diterapkan di Indonesia.

 

Referensi:

Elen, Trismaya. (2020). Fenomena Habib Rizieq Shihab dalam Krisis Kepemimpinan di Indonesia. Retrieved from https://yoursay.suara.com/news/2020/11/10/164954/fenomena-habib-rizieq-shihab-dalam-krisis-kepemimpinan-di-indonesia

Muchtarom, Zaini. (2011). Konsep Max Weber tentang Kepemimpinan Karismatik. Jurnal Refleksi, 2 (3), 17-21.

Robbins and Judge. (2015). Perilaku Organisasi Edisi 16. Jakarta: Salemba Empat.

Budiarto, Yohanes. (2005). FOLLOWERSHIP : SISI LAIN KEPEMIMPINAN YANG TERLUPAKAN. Jurnal Psikologi, 3 (1), 19-22.

Leave A Reply

Your email address will not be published.