Cakrawala News
Portal Berita Online

Mendorong Nilai Ekspor, Gubernur Gorontalo Gandeng Eksportir

6

GORONTALO CAKRAWALA.CO,- Nilai ekspor Gorontalo dalam kurun waktu tahun 2018 terbilang rendah, padahal Gorontalo merupakan daerah yang potensi komoditi alamnya sangat berlimpah. Menurut Kepala Kantor Bea Cukai, Dede Hendra Jaya, saat ini Provinsi Gorontalo baru menyumbang ekspor 0,03% dari total nilai nasional.

Penyebab rendahnya nilai ekspor Provinsi penghasil jagung ini dikarenakan banyak para eksportir mengirim barang lewat daerah lain. Sementara Gorontalo sendiri sudah memiliki fasilitas pengiriman yang cukup memadai, proses perizinan kepabeanan yang begitu mudah.

“Eksportir masih banyak yang mengirim barang mereka melalui daerah lain seperti Surabaya dan Jakarta. Padahal secara teknis perizinan kepabeanan dan fasilitas pengiriman, di Gorontalo sudah cukup memadai. Nah ini yang ingin kita dorong agar ekspor komoditi daerah bisa langsung dikirim dari Gorontalo,” terang Dede usai pertemuan.

ads bukopin

Data KPPBC Gorontalo menyebutkan, ekspor Provinsi Gorontalo selama periode Januari sampai Agustus 2018 terdiri dari komoditi jagung 109.800 ton senilai USD29.438.625, komoditi molases 24.006 ton senilai USD1.950.045 dan komoditi bungkil kopra 6.000 ton senilai USD930.000. Ketiganya diangkut dengan kapal curah. Sedangkan untuk ekspor ikan tuna sebanyak 15 ton dengan nilai USD139.957 diangkut dengan maskapai Garuda Indonesia.

Untuk mendorong peningkatan nilai ekspor, tim optimalisasi yang terdiri dari Bank Indonesia Perwakilan Gorontalo, Bea Cukai, PT Pelindo IV Gorontalo, PT Garuda Indonesia dan Diskumperindag datang menghadap Gubernur Rusli Habibie. Kedatangan mereka untuk meminta dukungan dari Gubernur Rusli dalam membuat perjanjian kerjasama dan merangkul semua eksportir yang selama ini masih mengirim barang lewat daerah lain.

Sementara itu, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menyambut baik upaya peningkatan ekspor tersebut. Menurutnya, Gorontalo punya banyak komoditi kuliatas terbaik namun belum dimaksimalkan. Selain jagung, ikan tuna dan udang ada potensi kelapa butir yang telah di ekspor.

“Mungkin karena eksportir belum mendapatkan informasi yang baik tentang perizinan dan fasilitas kita yang semakin baik. Sebenarnya tidak ada masalah soal ekspor, cuma belum tersosialisasi. Mereka berpikir Gorontalo masih seperti 10 tahun lalu (fasilitas belum memadai),” jelas Rusli.

Gubernur berencana mengundang para eksportir daerah untuk duduk bersama membahas permasalahan tersebut. Ia berharap semua pihak bisa satu persepsi dan komitmen agar nilai ekspor daerah bisa melejit untuk meningkatkan devisa negara.****

Comments are closed.