Cakrawala News
Portal Berita Online

Mendidik Siswa di Era Digital

0

 

KABUPATEN  BANDUNG JABAR CAKRAWALA.CO – Guru kini memiliki tanggung jawab lebih kepada para generasi era digital bukan hanya sekadar mendidik. Namun, di era revolusi industri 4.0, guru juga perlu mengenalkan literasi digital. Terutama media sosial yang kini banyak digunakan anak zaman sekarang.
Selain mengenalkan mengenai etika menggunakan media sosial, guru perlu juga memaparkan mengenai manfaat media sosial sebagai sarana komunikasi di mana kita bisa bersosialisasi mempertemukan teman lama, menambah teman baru, mengetahui informasi terkini, menambah pengetahuan.


Secara menyeluruh, media sosial berfungsi sebagai hiburan, cerita, gambar kutipan dan video hiburan serta berkumpulnya para pengguna dengan minat dan hobi yang sejenis. “Ajarkan juga para siswa dari segi ekonomi, media sosial ini bermanfaat untuk media promosi dan iklan serta mempertahankan, memperkenalkan usaha yang dimiliki pokoknya memanfaatkan semaksimal mungkin untuk hal-hal yang positif,” kata Sagina Budi Yulis, guru penggerak Literasi sekolah SMPN 2 Bojonggede saat jadi pembicara Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis, (2/12/2021).


Sagina Budi Yulis mengingatkan para pendidik untuk memberi pemahaman pada siswa mengenai bahaya media sosial seperti berkurangnya kemampuan berkomunikasi dan maraknya pornografi. Ini penting mengingat minimnya penyaring terhadap berita-berita yang kurang pantas dilihat oleh anak-anak juga konten kesadisan hingga penipuan.


“Banyak terjadi kemerosotan moral karena mereka menganggap internet itu sebagai ruang yang tanpa batas, tanpa ada etika. Liat juga cara kita menulis, perhatikan ejaan dan tata bahasa. Ketika ada informasi harus betul-betul saring sebelum sharing. Jangan suka sebar berita yang tidak benar dan tidak penting,” ungkapnya.


Kemudian etiket dalam berkomunikasi di media sosial juga wajib diketahui oleh para siswa. Di dalam etika media sosial ada etika dan etiket, jadi di alam dunia maya itu juga sama dengan di dunia nyata, hanya kita tidak bertemu secara langsunnh. Jadi, kalau kita berkomunikasi di alam dunia maya yakni di media sosial bukan kita berkomunikasi sendiri. Kita ibarat sedang berbicara di satu panggung dengan penonton yang sangat banyak.


Sehingga salah satu etika berkomunikasi di media sosial adalah tidaj mengumbar informasi pribadi karena ini sangat berbahaya untuk mengundang kejahatan di dunia cyber. Kemudian menggunakan kata-kata yang layak dan sopan serta perhatikan tulisan tidak menggunakan huruf besar semua atau banyak. Tidak lupa menghargai hasil karya orang lain lalu tinjau ulang kebenaran berita lalu jangan menilai berita dari judulnya saja karena ada judul yang menipu.


“Hindari media sosial jika sedang emosi, para anak muda yang sedang berjiwa labil ini harus diingatkan, jangan bikin status jika sedang emosi. Karena nanti ada yang salah tanggap, kita buat untuk siapa ternyata yang tersinggung siapa. Jadi, bijaklah dalam membagikan informasi dan berkomunikasi dalam media sosial,” jelasnya.

Mereka juga wajib tahu etiket yang harus ada di dalam media sosial, perhatikan waktu. Safina bercerita, jika di sekolah dia sudah membuat aturan etika dalam bermedia sosial dengan anak muridnya. Jadi ada grup WhatsApp kemudian kita sudah ada peraturan jam berapa mereka bisa menghubungi guru kemudian kata-katanya harus seperti apa. Kemudian anak-anak dikenalkan dengan hoaks.


Dengan kemajuan dalam bidang digital itu istilah hoaks jadi banyak digunakan ya awalnya hoaks itu ada sebagai candaan atau lelucon. Menjadi candaan yang serius untuk sendiri. Beberapa contoh berita hoaks, mengenai sumbatan di dalam usus akibat kebanyakan makan mie. Seorang siswanya ada yang bertanya benar atau tidak berita itu. Dia pun menggiring siswa untuk berpikir kritis, karena dia melihat gumpalan mie di usus masih berbentuk panjang.


“Biarkan anak mencerna berita yang ada dengan pelajaran yang sudah mereka terima. Mungkinkan mie yang sudah dikunyah, sudah kecil kecil masuk ke mulut lalu kerongkongan dan sampai usus panjang kembali dan menggumpal. Biarkan mereka berpikir dan nanti akan menemukan jawabannya sendiri. Jika sudah tahu dia akan paham berita itu bohong atau tidak,” lanjutnya.


Menggiring ke ilmu pengetahuan dari hoaks itu supaya anak paham dengan materi yang diajarkan. Kita dapat mengambil hal positif dari hoaks, dapat menjadi sumber pelajaran bagi anak untuk berpikir kritis agar kedepannya mereka melakukan hal serupa. Harus berpikir kritis ketika mendapat informasi yang aneh dan tidak jelas.


Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Kamis (2/12/2021) ini menghadirkan pembicara lain, Herman Pasha (Senior Trainer), Indira Wibowo (public speaker), Ridho Wibowo (instruktur VCT Jawa Barat) dan dr. Wafika Andira sebagai Key Opinion Leader.

Leave A Reply

Your email address will not be published.