Cakrawala News
Portal Berita Online

Matinya Politik Gorontalo

Funco Tanipu

(Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo)

Wajah politik Gorontalo akhir-akhir ini memperlihatkan kecenderungan perubahan ke arah situasi yang di dalamnya dirayakan aspek-aspek politik yang bersifat permukaan atau rendah saja.

Arena politik dipenuhi oleh berbagai pertunjukan, tontonan, tepuk tangan, foto bersama, tayangan, dan tindakan-tindakan yang mengeksploitasi berbagai bentuk dengan nilai yang rendah dan tak substantif.

Politik dianggap sebagai arena untuk kegiatan yang bersifat transaksional, yang menggunakan model-model strategi dan psikologi massa budaya populer, dalam rangka mencari popularitas, memobilisir massa, memenangkan pemilihan, mendapatkan pengikut, meningkatkan rating atau mencari keuntungan (Yasraf Amir Piliang, 2008).

Politik semata-mata ditujukan untuk merayakan hasrat yang tak terbatas (desire/nafs), namun rendah.

Belum lagi jika kita mengamati maraknya fenomena “koprol” yang telah menjadi bagian dari politik keseharian kita. Sungguh kita memasuki sebuah era yang dinamakan matinya politik. Bagi Michael Foucault (2004), matinya politik bukan nanti tidak ada lagi politik, melainkan bahwa akan hilang konsep politik sebagai suatu arena dan kategori istimewa dalam pemikiran kita untuk membebaskan masyarakat dari tirani negatif.

Kini, kita hidup di sebuah era yang bisa disebut sebagai “era matinya politik”, era matinya segala sesuatu. Politik kehilangan peran sentralnya dalam peradaban, politik hanya menjadi instrumen teknis untuk merayakan segala sesuatu yang privat. Politik yang hadir adalah politik tanpa gagasan, tanpa ikhtiar dan tanpa ide.

Perayaan Hasrat, Pendangkalan Politik
Kini, kecenderungan di dalam politik lokal Gorontalo telah menggiring ke arah pendangkalan dan kerendahan di dalam budaya politik. Perspektif kedangkalannya itulah yang menyebabkan aktifitas politik lebih cenderung mengeksploitasi berbagai bentuk histeria massa (mass histeria), yaitu pola memanipulasi emosi publik, sehingga mencapai kondisi puncak tak terkendali, yang diperlihatkan dalam berbagai bentuk teriakan, tangisan atau kesedihan massa dalam melihat idolanya (Jean Baudrillard, 2005).

Sehinga realitas hanya bisa disaksikan oleh mata, bukan lagi oleh nurani, lalu wajar kemudian jika banyak dari idola-idola tersebut walau tersangkut kasus hukum namun tetap ditangisi. Artinya, setiap yang menghibur, menyenangkan, mempesona, dan menghanyutkan, mendapat ruang ruang yang mewah dan istimewa di dalam arena politik kita, dalam memori kolektif Gorontalo. Sebaliknya yang berkaitan dengan pembangunan peradaban, pendidikan karakter, perayaan gagasan dan pembelaan hak rakyat justru tidak mendapatkan ruang hidup.

Kecenderungan yang ada saat ini, politik adalah instrumen untuk memuaskan hasrat diri meskipun kepuasan itu tak pernah terpenuhi. Lihat saja kediaman politisi kita seperti galeri mobil, bangunan megah bak istana dan perternakan properti yang tak ada habisnya. Pada taraf itu, hasrat terus-menerus mencari pemuas melebihi batas yang diperbolehkan, sehingga hal-hal yang amoral dan anti sosial terlampaui oleh hasrat itu sendiri.

Agama pun lebih banyak dijadikan alat legitimasi politik. Jubah dan ornament agama hanya sekedar menjadi fashion politik semata. Program yang bertema spiritual hanya menjadi kedok bagi mobilisasi suara dan pengalihan opini publik agar citra menjadi positif. Bukan untuk penataan karakter masyarakat dan peningkatan mutu manusia Gorontalo. Gorontalo dianggap lagi bukan sebagai Serambi Madinah, namun sebagai “bekas” Serambi Madinah.

Rumi, seorang sufi klasik ternama, mengatakan bahwa dunia adalah penjara hasrat yang tinggi, tetapi kuburan bagi hasrat yang rendah. Hasrat yang tinggi adalah hasrat pengabdian untuk kemanusiaan yang semata-mata ditujukan sebagai persembahan pada Pencipta, arenanya menembus batas-batas ruang dan waktu. Berbeda dengan hasrat rendah yang hanya diabdikan dan dikelola di seputar dunia dan dibawah langit.

Politik Emansipasi
Politik pada akhirnya kehilangan kepemimpinan yang hakiki, yang ada tinggal idola-idola yang bekerja untuk kepentingan personal dan kelompok ketimbang kepentingan publik. Politik seolah menjadi pasar, dimana orang lalu-lalang sambil memperdagangkan jualannya, ada lapak-lapak, ada pembeli, semuanya serba transaksional. Pada ujungnya hanya dimaksudkan pada pencarian laba yang bersifat eksploitatif.

Dalam meneropong arah politik Gorontalo di masa depan, harus ada upaya-upaya untuk mengendalikan hasrat, banalitas, dan popularisme politik. Berbagai upaya untuk menciptakan politik alternatif harus digalang, dalam rangka menciptakan wajah politik yang lebih produktif, substantif, humanis, dan bermakna, yang di dalamnya warga tidak lagi menjadi pengikut, melainkan sebagai sesuatu yang aktif, yang mampu secara inovatif, dinamis dan kreatif membangun arena politiknya sendiri. Hal itu dinamakan politik emansipasi oleh Slavoj Zizek, filsuf politik asal Slovenia yang termasyhur abad ini.

Maka dengan itu, kedepan perlu penguatan politik yang lebih humanis, bermakna dan luhur dengan memperbanyak generasi ‘aktifis politik’, yaitu manusia yang mempunyai daya kritis, daya kreativitas, jiwa kepeloporan, keinginan berprestasi, hasrat inovasi tinggi, dan spiritualitas kuat, yang secara bersama-sama mampu membangun sebuah masyarakat Gorontalo yang tidak lagi dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan luar (kapitalisme, globalisasi), tetapi secara kreatif mampu memproduksi tafsir politiknya secara terang.

Pemilu yang tinggal beberapa hari ini adalah momentum untuk mengembalikan harkat dan kewibawaan Gorontalo sebagai Serambi Madinah, yakni jazirah yang menumbuhkembangkan gagasan kebudayaan untuk peradaban Islam, ikhtiar moderat untuk peradaban hingga model pengelolaan politik yang lebih maju dan berkarakter.

Selamat menentukan masa depan Gorontalo. Semoga semua upaya kita beroleh ridha dari Allah SWT.

%d bloggers like this: