Cakrawala News
Portal Berita Online

Masjid Agung Kraton Surakarta.Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Solo

0 6
idul Fitri Cakrawala

 

SOLO CAKRAWALA.CO,-Negara Indonesia Tidak pernah lepas dari ritual keagamaan. Sebagai salah satu negara yang dikenal dengan mayoritas penduduk pemeluk agama Islam terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak peninggalan sejarah berbentuk bangunan masjid.Beberapa masjid dibangun jauh di masa lampau saat masa kerajaan-kerajaan Islam berkuasa di Indonesia dan masih kokoh berdiri hingga sekarang.

 

Salah satunya,Masjid Agung Kraton Surakarta.masjid milik kerajaan (Surakarta Hadiningrat) dan berfungsi selain sebagai tempat ibadah juga sebagai pusat syiar Islam bagi warga kerajaan.

Masjid Agung dibangun oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Masjid ini merupakan masjid dengan katagori masjid jami’, yaitu masjid yang digunakan untuk salat berjemaah dengan ukuran makmum besar.

menempati lahan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta merupakan bangunan bergaya tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka (mahkota). Gaya bangunan tradisional Jawa ini adalah khusus untuk bangunan masjid.

Di dalam kompleks Masjid Agung dapat dijumpai berbagai bangunan dengan fungsi kultural khas Jawa-Islam. Juga terdapat maksura, yang merupakan kelengkapan umum bagi masjid kerajaan.

Keanggunan Masjid Agung Surakarta yang dulunya bernama Masjid Besar itu terletak pada bentuk bangunan dan keasliannya.

Bangunan seluruh pilar atau lainnya dari kayu jati yang berasal dari hutan Donoloyo (Alas Donoloyo) yang usianya sudah sangat tua. Yang menarik lagi, konon kubah Masjid itu pada zaman dulu dilapisi dengan emas murni seberat 7,5 Kg terdiri dari uang ringgit emas sebanyak 192 buah. Pemasangan lapisan kubah Masjid itu diprakarsai oleh Sri Susuhunan PB VII pada tahun 1878 atau tahun Jawa 1786 dengan condro sangkolo Rasa Ngesti Muji ing Allah.

Menempati lahan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan dari lingkungan sekitar dengan tembok pagar keliling setinggi 3,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta merupakan bangunan bergaya tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka (mahkota). Gaya bangunan tradisional Jawa ini adalah khusus untuk bangunan masjid.

Secara kultural, dari masa pra-kemerdekaan hingga sekarang,Masjid Agung masih tetap ada kaitan dengan acara keraton, seperti Sekaten, yang digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Malem Selikuran untuk memperingati 10 hari terakhir Ramadhan. Kemudian kirab pusaka 1 Sura untuk memperingati Tahun Baru Islam serta sejumlah Grebeg lainnya.(AgB)

 

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: