Cakrawala News
Portal Berita Online

Marosok, Tradisi Unik Jual Beli Sapi Qurban dengan Kode Jari di Padang Pariaman

42

PADANG PARIAMAN, CAKRAWALA.CO,- Menjelang hari raya Idul Adha, pasar ternak di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, ramai dikunjungi pembeli. Khususnya bagi yang hendak membeli sapi untuk Qurban. Namun ada tradisi unik untuk bertransaksi jual-beli sapi-sapi tersebut yang dikenal dengan sebutan Marosok.

Seperti yang terjadi Pasar ternak ini berlokasi di Nagari Sungai Sarik Kecamatan Tujuh Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Menjelang datangnya hari raya Idul Adha, pasar ternak ini ramai dikunjungi pembeli. Hari pakan atau hari pasaran di tempat ini tidak berlangsung setiap hari, namun hanya pada hari-hari tertentu saja, di luar hari pakan pasar ternak ini tidak buka dan biasanya terjadi setiap hari rabu.

Untuk membeli sapi-sapi di sini, tidak dilakukan dengan cara tawar-menawar seperti biasanya, namun memiliki tradisi unik yang disebut Marosok. Marosok adalah proses tawar-menawar sapi yang dilakukan antara calon pembeli dengan penjual, menggunakan kode-kode jari tangan, yang dilakukan di bawah kain. Jari-jari tertentu menunjukkan angka penawaran dan penjualan. Tujuannya agar tidak diketahui oleh calon pembeli lainnya berapa nilai yang ditawarkan. Sebab harga satu ekor sapi dengan sapi lainnya berbeda-beda dan tawar menawar harga pedagang satu dengan lainya juga berbeda. Jika kesepakatan tercapai, pembeli langsung membayar sesuai harga yang disepakati. Jika tidak, maka pembeli akan mencari penjual sapi lain.

ads bukopin

Sebagai contoh lima jari menguncup berarti 5 juta rupiah, ibu jari bisa berarti 2,5 juta rupiah, bisa berarti 250 ribu rupiah, bisa juga berarti 25 juta rupiah. Jari telunjuk bisa berarti 1 juta, bisa berarti 10 juta rupiah, bisa juga 100 ribu rupiah, tergantung pasaran harga sapi saat itu, semuanya tergantung dari penawaran awal.

“Marosok itu tradisi para penjual sapi di Padang Pariaman sudah sejak turun temurun agar para pedagang tidak saling mengetahui agar tidak terjadi kecurigaan antar satu pedagang dengan pedagang lainnya jika harga tidak cocok.  Marorok ini sendiri sudah terjadi sejak jamannya nenek moyang Minangkabau karena orang Minangkabau sudah sejak dulu sudah berdagang sapi,” ujar Tasman Toyo, pedagang sapi.

Sedangkan sapi yang diperdagangkan berasal dari peternak luar daerah yaitu dari Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Lima Puluh Kota, dan dari Padang Pariaman sendiri. **Aziz/Dio/Ruly

Comments are closed.