Cakrawala News
Portal Berita Online

Maraknya Pinjaman Online Ilegal: Bagaimana dengan Penerapan Etika Bisnis?

1 541

Maraknya Pinjaman Online Ilegal: Bagaimana dengan Penerapan Etika Bisnis?

Oleh: Alya Ahshaina Saleh, Azzahra Putri Triarto, Sophie Nakia Harjono Putri (Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia)

Perkembangan pinjaman online terus meningkat. Berbagai kemudahan yang diberikan pinjaman online membuat banyak masyarakat Indonesia memilih untuk mencari uang melalui pinjaman online. Akan tetapi, literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah. Riswinandi, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengatakan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 38,03%. Angka ini sangat rendah apabila dibandingkan dengan indeks inklusi keuangan sebesar 79,16%. Dengan demikian, banyak masyarakat yang terjebak dalam pinjaman online ilegal.

Pelanggaran Prinsip Etika Bisnis pada Praktik Pinjaman Online Ilegal

Tindakan yang seringkali dilakukan pinjaman online ilegal terhadap kliennya pada umumnya tidak sesuai dengan prinsip etika bisnis. Pinjaman online ilegal seringkali melakukan penagihan pinjaman dengan ancaman dan intimidasi secara langsung maupun tidak langsung, melalui media sosial maupun bertemu langsung. Hal tersebut semakin diperparah dengan terdapat unsur pornografi dan kekerasan dalam melakukan penagihan. Dengan ini, pinjaman online ilegal tidak memperhatikan kerugian yang dialami oleh kliennya. Hal ini juga tidak sejalan dengan prinsip otonomi yang ada dalam etika bisnis karena perusahaan tidak membuat keputusan dan bertindak sesuai dengan etika dan norma yang ada.

Pinjaman online ilegal pada umumnya seringkali menawarkan proses peminjaman yang mudah dan cepat, bunga yang rendah, serta tawaran-tawaran menarik lainnya, sehingga banyak masyarakat tergiur untuk melakukan pinjaman yang berujung membuat kliennya terjebak dalam utang yang berbelit-belit akibat bunga yang besar. Jebakan dalam penawaran-penawaran tersebut menunjukkan praktik pinjaman online ilegal telah melanggar prinsip kejujuran dalam etika bisnis.

Pinjaman online ilegal juga tidak dapat menjaga data pribadi kliennya, misalnya dengan melakukan akses ke kontak telepon dan media sosial yang ada di ponsel klien. Padahal, data klien seharusnya menjadi rahasia yang harus dijaga perusahaan. Dalam hal ini, pinjaman online ilegal dinilai tidak dapat memegang kepercayaan klien terhadapnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan bunga pinjaman online kategori pinjaman konsumtif adalah 0,8% per hari serta bunga, denda, dan biaya lainnya tidak boleh melebihi utang pokok. Sementara, pinjaman online ilegal pada umumnya menetapkan bunga yang sangat tinggi melebihi penetapan bunga oleh OJK. Hal ini menunjukkan bahwa pinjaman online ilegal melanggar prinsip keadilan, yaitu tidak memperlakukan klien sesuai dengan hukum yang berlaku. Perusahaan juga melanggar prinsip keuntungan bersama karena hanya mementingkan keuntungan perusahaan dengan mematok bunga yang sangat tinggi, tanpa mempertimbangkan keuntungan kliennya.

Secara keseluruhan, pinjaman online ilegal tidak dapat memegang prinsip integritas moral sehingga membuat citra yang dimiliki oleh mereka menjadi buruk. Hal ini juga menunjukkan bahwa perusahaan gagal menginternalisasi moral dan etika yang baik pada perusahaannya sehingga berujung pada kegagalan dalam membuat keputusan yang tepat dan bertindak berdasarkan etika dan norma.

Mencegah Terjerat Pinjaman Online Ilegal

Agar tidak lagi terjebak dalam praktik pinjaman online ilegal, anda dapat melakukan beberapa langkah preventif. Pertama, sebelum menerima suatu tawaran pinjaman online, pastikan legalitasnya terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan menghubungi Kontak OJK 157 atau mengunjungi laman https://kontak157.ojk.go.id/. Kedua, pastikan untuk selalu menghapus pesan singkat yang dikirim secara personal mengenai tawaran pinjaman online. Ketiga, selalu waspada menjaga data pribadi, sebisa mungkin hindari mengunduh aplikasi sembarang yang menuntut anda untuk mengunggah scan KTP atau data pribadi lainnya.

Selanjutnya, ada juga langkah represif yang dapat dilakukan jika sedang terjerat pinjaman online ilegal. Jika pihak pemberi layanan melakukan tindak ancaman atau intimidasi yang berlebihan, klien dapat melaporkan oknum tersebut kepada polisi karena perbuatan yang tidak menyenangkan, tindakan pemerasan, UU ITE, dan hak atas perlindungan konsumen. Selain itu, jangan melakukan pembayaran cicilan pokok dan bunga kepada pihak yang melakukan praktik pinjaman online ilegal karena perjanjian utang yang dimiliki oleh kreditur dan debitur yang dinilai tidak sah di mata hukum.

Referensi
Agustiyanti. (2021, October 26). OJK Minta Bunga Pinjol Dipangkas, Berikut Tawaran Bunga 10 Fintech – Keuangan Katadata.co.id. Katadata. Diakses pada Desember 9, 2021, melalui https://katadata.co.id/agustiyanti/finansial/6177f078aed32/ojk-minta-bunga-pinjol-dipangkas-berikut-tawaran-bunga-10-fintech

Kesuma, S. A., Risanty, R., Mubarok, M. H., & Marisa, C. (2020). Business ethics: A connection to good corporate governance implementation. Jurnal Perspektif Pembiayaan dan Pembangunan Daerah, 8(2), 185-194.

Nurhidayat, D. (9 November 2021). OJK: Literasi Keuangan Rendah Jadi Penyebab Masyarakat Terjebak Pinjol Ilegal. Media Indonesia. Diakses pada 1 Desember 2021, melalui https://mediaindonesia.com/ekonomi/445769/ojk-literasi-keuangan-rendah-jadi-penyebab-masyarakat-terjebak-pinjol-ilegal

Tim Tempo. (2021, May 1). Pinjaman Online Terus Meningkat – Ekonomi dan Bisnis. Koran TEMPO. Retrieved December 9, 2021, from https://koran.tempo.co/read/ekonomi-dan-bisnis/464417/pinjaman-online-terus-meningkat

Leave A Reply

Your email address will not be published.

1 Comment
  1. cocoTLogi.com says

    Kurangnya literasi masyarakat dan mencari informasi tentang pinjaman online di berbagai media menambah banyaknya masyarakat yang terjerat pinjaman online…

    Menurut saya baiknya lembaga seperti OJK dan Afpi juga harus selalu mengedukasi dengan memberikan informasi seputar pinjaman online yang legal….

    Masyarakat yang terjerat pinjaman online, kebanyakan dari mereka mengalami serangan psikologi yang mengakibatkan mental mereka down…

    Biasanya serangan psikologis yang oknum DC pinjaman online lakukan adalah:

    Meneror dengan kata-kata yang kasar
    Meneror kontak yang mereka kumpulkan dari nasabahnya
    Menyebarkan foto KTP dan rekaman video saat verifikasi wajah….

    Dampak bagi mereka yang menjadi korban dari oknum pinjaman online ini biasanya berupa sanksi sosial

    Dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat
    Depresi
    Bercerai
    Hingga bundir….

    Mengerikan memang

Leave A Reply

Your email address will not be published.