Cakrawala News
Portal Berita Online

Akibat Maraknya Penambangan Pasir Sungai Progo Abrasi Pantai Trisik Makin Menggila Warga Dusun Sidorejo Resah

0 26

Kulon Progo, Cakrawala.co – Akibat abrasi terus – menerus menerjang Pantai Trisik, ratusan pemukian warga di Dusun 13 Sidorejo, Desa Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY), dikawatirkan hilang ditelan gelombang.

Pemukiman warga dengan penduduk sedikitnya 600 orang, dari 160 kepala keluarga tersebut semula berjarak lebih dari 500 meter dari bibir pantai, namun akibat abrasi yang semakin menggila kini jarak pemukiman dengan bibir pantai tinggal 225 meter dari pantai.

“Ini data yang kita up date dari tahun 1990, jika kita menggali data dari tahun 70-an maka angkanya lebih ngeri lagi. Karena jarak antara pemukiman dengan bibir pantai konon lebih dari 700 meter,” ujar Edy Yulianto Ketua Pokdarwis Pantai Trisik, ( 14/2).

Menurut Edy Yulianto, abrasi itu telah menghancurkan kawasan pertanian dan wisata pantai lebih dari 500 meter sepanjang pantai, sejak menggilanya penambangan pasir di hilir Sungai Progo.

Ia menambahkan, berdasarkan data lingkungan hidup, ada kenaikan garis pantai sekitar 30 meter dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.

“ Jika dihitung, abrasi di Pantai Trisik rata-rata sekitar 10 meter setiap tahunnya, dan  kemungkinan terburuk kurang dari 5 tahun kedepan rumah – rumah warga yang akan terdampak,” tandasnya.

“ Bagaimana dengan dampak abrasi 10 – 20 tahun lagi? Wallahu A’lam Bishawab, Semoga skenario ( kenyataan, red) terburuk tersebut masih bisa kita cegah. Tentu harus mulai dari sekarang dengan amar ma’ruf nahi munkar, kita ingatkan semua pihak terutama pemerintah, aparat yang berwenang, bahwa makin menggilanya penambangan pasir, terutama penambangan sedot apalagi model penambangan bor itu sama halnya dengan membunuh ratusan warga di Dusun Sidorejo, Pantai Trisik,” katanya menjelaskan.

Edy Yulianto, yang juga warga asli Dusun Sidorejo, Pantai Trisik menambahkan, bahwa posisi rumahnya kini tinggal berjaral 225 meter dari bibir Rumah kulo mawon cuma 225 meter dari bibir pantai.

“ Rumah saya, agak ke tengah, nah apalgi rumah warga yang berada di ujung selatan paling tepi, tentu jaraknya kurang dari 200 meter dari bibir pantai. Anda tahu sendiri seperti apa abrasi. Jika gelombang laut besar menerjang, 200 meter itu bisa sekejap hilang ditelan gelombang, ini yang kadang dilupakan oleh siapapun terutama instansi pemerintah yang memberi izin penambangan, pengawas penambangan, lingkungan hidup, dan semua pihak yang sedang melakukan penambangan pasir di hilir Sungai Progo,” tegasnya.

Edy Yulianto menambahkan, berdasarkan data korban abrasi selama tiga tahun terakhir, maka sudah sangat banyak investasi pemerintah di sektor wisata yang hancur. Seperti Gardu Pandang, Bangunan Tempat Pelelangan Ikan ( TPI), tempat parkir dan sebagainya.

“Sebelumnya bahkan banyak pemukiman warga tidak permanen, bangunan milik warga seperti warung, kios, bangunan bisnis warga seperti kamar mandi umum, dan sebagainya sudah lebih dahulu lenyap dalam sekejap diterjang abrasi. Orang luar daerah yang kini menjadi pengelola tambang pasir di hilir Sungai Progo, para pemilik izin penambangan, investor yang kebanyakan orang entah darimana, mungkin tidak pernah mengerti cerita pedih ini, “ katanya.

Bahkan kawasan pelestarian penyu, yang semula menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, karena memang kawasan seperti ini langka, kini perlahan hilang. Dan kemungkinan terburuk, berbagai bangunan tempat konservasi pun akan lenyap, tambah Edy Yulianto, yang juga Ketua Karang Taruna Desa Banaran, itu.

Sementara Koordinator Forum Rakyat Sipil Banaran, Agung Prastowo, mengatakan, [ihaknya sudah terus menerus mengingatkan semua pihak soal ancaman abrasi akibat penambangan pasir di hilir Sungai Progo.

“ Bahayanya penggunaan mesin sedot untuk menambang pasir itu banyak. Ya, jalan – jalan rusak, bahkan saking rusaknya pemerintah pun ogah memperbaiki semua jalur yang rusak ini selama bertahun-tahun. Siapa yang jadi korban ? Ya rakyat Desa Banaran. Lalu rakyat dapat apa ? Dapat status korban maraknya penambangan kan ? “ paparnya.

Ia menambagkan, akibat menggilanya penambangan sedot ini pula alur Sungai Progo berbelok makin ke arah barat, atau mendekati pemukiman penduduk. Ini riil, dan ini menjadi ancaman terberat bagi rakyat desa ini,” tegasnya.

Baru kemudian terjadinya laju abrasi Pantai Trisik yang semakin cepat. Serta kuatnya interusi (masuknya air asin, red)  ke darat saat musim kemarau. “ Sumur-sumur warga Desa Banaran rata-rata mengering di musim kemarau. Disertai interusi air asin, maka semua sumber air di pemukiman warga kini tak layak konsumsi,” kata Agunf Prastawa.

Agung Prastowo mengingatkan semua pihak, agar melihat kasus abrasi Pantai Trisik dan interusi air di pemukiman warga ini dengan pikiran obyektif dengan sudut pandang humanisme ( kemanusiaan,red ) bukan dengan emosional sempit apalagi subyektif karena kepentingan uang, atau perut semata.

“Mari jernihkan cara pandang kalian semua, baik yang ada di pemerintahan, aparat penegak hukum, investor, penambang dan semua pihak terkait. Jika kondisi seperti ini, ratusan warga terancam lenyap, mau minum dari sumber airnya sendiri saja susah, nurani kalian bicara apa ? Kita tahu semua ini sumber uang dan isi perut kalian, tetapi pernahkah terpikirkan, isi perut kalian adalah tangisan rakyat ? “ ujar Agung Prastowo, sembari mengusap air matanya yang meleleh perlahan. ( gon)

Leave A Reply

Your email address will not be published.