Cakrawala News
Portal Berita Online

Marak Kasus Pelanggaran Aparat Kepolisian, Bagaimana Konsep Kepemimpinannya?

0 438

Marak Kasus Pelanggaran Aparat Kepolisian, Bagaimana Konsep Kepemimpinannya?

Oleh Detia Indrianti – Mahasiswi Universitas Indonesia

 

Seperti yang kita ketahui, akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan seputar pelanggaran norma dan etika kepolisian yang dilakukan oleh Bripda Randy Bagus Hari Sasongko terhadap korban yang tak lain kekasihnya sendiri. Baru-baru ini bahkan ramai akan rumor respon aparat kepolisian terhadap pelaporan kasus kriminalitas yang ada dinilai lamban ditangani. Sebenarnya, kasus-kasus pelanggaran yang ada di etika kepolisian ini dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Namun siapa sangka imbas dari kejadian tersebut menyebabkan akhir-akhir ini badan Kepolisian Republik Indonesia juga tengah menjadi sorotan dan dipertanyakan mengenai pendidikan aparat kepolisian itu sendiri. Kepolisian sebagai salah satu lembaga yang ada di sektor publik, dalam hal ini kita akan membahas mengenai bagaimana konsep kepemimpinan yang saat ini dipegang dan diamanahkan kepada Komisaris Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo selaku Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) yang berpengaruh pada eksistensi lembaga Kepolisian NKRI saat ini.

Konsep Kepemimpinan, Pola Kepemimpinan, dan Budaya Kepemimpinan Kepolisian Republik Indonesia

Sebelum kita membahas tentang bagaimana kepemimpinan Sigit selaku Kapolri saat ini, tahukah anda apa itu kepemimpinan? Kepemimpinan merupakan suatu keterampilan yang dimiliki seseorang dalam mengarahkan, dan mempengaruhi orang lain agar dapat melaksanakan perintahnya dengan baik (Sullivan & Decker, 1989). Dalam hal ini kita ketahui bahwa berarti dalam hal ini, Bapak Sigit sebagai Kapolri pada era ini memang memiliki kemampuan yang mumpuni dalam melakukan arahan dan memanajemen organisasi atau lembaga dari Kepolisian Republik Indonesia dalam menjalankan tata kelolanya. Dalam lembaga kepolisian, interaksi antara tingkatan pemimpin dengan jajaran dan anggota lainnya sangat menjunjung tinggi akan respect dan hirarki. Sehingga konsep kepemimpinan dalam lembaga Kepolisian Republik Indonesia ini menganut pola kepemimpinan yang bersifat hierarki. Hierarki dalam hal ini dianggap bahwa semakin tinggi pangkat seseorang, menggambarkan bahwa orang tersebut memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih dalam dan mumpuni dibandingkan dengan pangkat-pangkat dibawahnya.

Maka tentu kita tidak perlu heran bilamana di dalam tubuh lembaga Kepolisian Republik Indonesia sangat kental akan rasa respect ke sesama ataupun antar tingkat golongan pangkat yang ada di dalamnya. Selain budaya hierarki, budaya disiplin pada lembaga kepolisian merupakan hal yang dijunjung tinggi di segala kalangan baik pada pemegang jabatan maupun perangkat-perangkat kepolisian terendah. Meski begitu, nyatanya dengan adanya pola budaya hierarki dan disiplin tinggi dalam tubuh kepolisian negara ini tidak semerta-merta bersifat ‘kaku’ sebagaimana yang kita bayangkan. Hierarki dalam hal ini diibaratkan sebagai batasan seseorang dalam meraih pencapaian sesuatu untuk berkembang ke pangkat yang lebih tinggi, sehingga secara tidak langsung hal ini sebenarnya memberi pengaruh pada tumbuhnya motivasi anggota Kepolisian Republik Indonesia untuk terus berkembang dan meningkatkan kapasitas diri.

Gaya Kepemimpinan yang Diterapkan di Kepolisian Republik Indonesia

Ketika kita mendengar kata ‘polisi’ , mungkin kita berpikir bahwa polisi merupakan suatu profesi yang sering disandingkan dengan aparat TNI. Jika berbicara seputar TNI/POLRI, sebenarnya keduanya pun sama-sama memiliki latar belakang pendidikan berpola militer seperti adanya jalur tamtama, bintara, maupun akademi tersendiri seperti akademi kepolisian maupun akademi militer. Dalam hal ini, tentu kita kita tidak heran jika gaya kepemimpinan otoriter yang ada di dunia militer juga diterapkan di dunia kepolisian. Namun apa yang kamu pikirkan tentang gaya kepemimpinan otoriter dalam dunia kepolisian? Keras? Kaku? Menghambat perkembangan diri? Jika itu yang anda pikirkan, maka jawaban anda salah. Otoriter dalam lembaga kepolisian dan lingkungan militer sebenarnya dianggar sebagai cara yang efektif dalam situasi yang genting, atau ketika dihadapkan untuk mengambil langkah yang cepat. Bagaimana hal ini bisa dikatakan efektif? Mungkin kalian bertanya-tanya tentang ‘efektivitas’ seperti apa yang di dapatkan oleh lembaga kepolisian dengan penerapan gaya kepemimpinan otoriter ini.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa baik pihak kepolisian maupun militer memiliki peranan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dan negara Republik Indonesia. Keadaan pertahanan keamanan suatu negara memang bukanlah hal yang bisa kita prediksi, ancaman bisa datang kapan saja. Maka dari itu pihak kepolisian dan angkatan militer kian melakukan persiapan dan diperlukan pengambilan langkah yang cepat. Dalam kondisi seperti ini, kepolisian terlatih dan melatih anggota-anggotanya untuk bergerak cepat dalam mengambil keputusan. Maka dari itu gaya otoriter ini dinilai efektif dalam lingkungan kepolisian karena pemegang jabatan dalam lembaga kepolisian sebelumnya pasti sudah melalui berbagai macam prestasi, pengalaman, dan bahkan pengetahuan yang mumpuni, ditandai dengan capaian pangkat yang ada pula. Pada intinya, gaya otoriter sebenarnya tidak melulu tentang kontrol yang bersifat keras dan kaku. Kita perlu memahami bahwa gaya otoriter dapat digunakan dengan tepat dan efektif di beberapa lingkungan, seperti di lembaga kepolisian contohnya. Perlu kita ketahui dengan adanya satu komando, diharapkan memberi kemudahan pada pasukan kepolisian untuk dapat bertindak cepat dalam segala situasi dan kondisi.

Learning Organization Pada Lembaga Kepolisian

Di tengah berita-berita miring yang kita dengar seputar aparat kepolisian, perlu kita ketahui bahwa sebenarnya pihak lembaga kepolisian juga kian berupaya maksimal dalam memberikan pelayanannya kepada masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan adanya learning organization yang diterapkan pada lembaga Kepolisian NKRI. Apa yang kalian ketahui tentang learning organization? learning organization merupakan suatu organisasi yang dilatih dan terlatih untuk menciptakan dan meraih pengetahuan/informasi sebagai pelajaran untuk menjadi cerminan perubahan di waktu yang akan datang.

Dari pengertian tersebut dapat kita pahami bahwa learning organization ini penting adanya untuk organisasi yang cenderung menghadapi perubahan lingkungan yang cepat. Sebagaimana yang kita bahas sebelumnya bahwa kepolisian merupakan salah satu lembaga pertahanan dan keamanan yang harus sigap dalam melakukan pengambilan langkah yang cepat. Sebagai salah satu lembaga sektor pubik, learning organization dalam lembaga kepolisian ini dijadikan landasan di lingkungan kepolisian sebagai bentuk peningkatan layanan dan kredibilitasnya kepada masyarakat dari waktu ke waktu. Hal ini dibuktikan dengan adanya tindakan cepat lembaga Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menyikapi kasus-kasus atau pelanggaran yang terjadi pada anggota kepolisian melalui sidang disiplin.

Perlu di ketahui bahwa sidang disiplin merupakan sidang yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan dan memutuskan perkara pelanggaran disiplin yang dilakukan anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dari adanya gambaran tersebut dapat menjadi salah satu ilustrasi penerapan learning organization pada lembaga Kepolisian Republik Indonesia dalam memecahkan suatu permasalahan untuk nantinya diambil keputusan sebagai acuan dalam mencegah kasus serupa terjadi. Selain itu dalam menerapkan learning organization di lembaga Kepolisian NKRI, Polri juga membentuk adanya pendidikan kepolisian melalui berbagai jalur mulai dari Tamtama, Bintara, Akademi Kepolisian, hingga Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) dengan tujuan perluasan aparat kepolisian yang mumpuni akan pengetahuan dan SDMnya. Bahkan dalam menerapkan learning organization ini, pertukaran informasi dan pengetahuan saat ini dijalankan dengan adanya pemberian beasiswa kepada sekitar 876 putra putri anggota Polri berpresetasi untuk mendukung persiapan Sumber Daya Manusia (SDM) Polri yang unggul.

Konsep Kepemimpinan Komisaris Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo selaku Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri)

Dari apa yang telah kita bahas seputar konsep kepemimpinan, pola kepemimpinan, gaya kepemimpinan, dan budaya kepemimpinan pada badan Kepolisian NKRI sebagai badan sektor publik yang mengayomi masyarakat, pada kali ini kita akan berbicara seputar konsep kepemimpinan yang diterapkan oleh Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo selaku Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri).

Jenderal Sigit menjelaskan dan menerangkan konsep kepemimpinannya kepada para jajaran-jajaran kepolisian bahwa seorang pemimpin harus mau turun ke lapangan dan mendengarkan aspirasi masyarakat juga anggotanya secara langsung. Beliau meyakini bahwa kesatuan yang kuat dibutuhkan rasa saling menghormati pula antara pimpinan dengan jajarannya. Bapak Sigit juga menerapkan dan menjelaskan konsep kepemimpinan melalui konsep Presisi (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan). Beliau meyakini dengan konsep kepemimpinan Presisi ini jika dijalankan dengan sungguh-sungguh dapat mewujudkan lembaga Polri sebagai institusi yang dicintai masyarakat.

“Itu yang saya tuangkan dalam konsep Presisi. Bagaimana kita menghadirkan pemolisian yang prediktif, responsibilitas, dan mampu melaksanakan semua secara transparan dan memenuhi rasa keadilan. Ini menjadi harapan masyarakat dan tugas rekan-rekan untuk mampu mewujudkan semua ini dari level pemimpin sampai dengan pelaksana,” kata Sigit, Sigit juga menekankan, dalam menjalankan tugas, pemimpin tidak boleh mudah terpancing emosinya. Hal itu dapat berpengaruh pada tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat.

Kesimpulan
Tentu kita ketahui Kepolisian NKRI sebagai lembaga sektor publik yang memiliki tanggung jawab dan peran pada masyarakat tentunya selalu menjadi sorotan bagi masyarakat. Maraknya oknum-oknum kepolisian membuat konotasi polisi mungkin seringkali menjadi makna yang negatif. Tapi sebenarnya perlu kita pahami, bahwa terlepas dari oknum-oknum kepolisian yang ada pihak kepolisian pun juga kian berupaya memberantas dan meningkatkan kredibilitasnya kepada masyarakat melalui learning organization.

Meski konsep kepemimpinan yang ada pada Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo selaku Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) telah dibentuk sedemikian mungkin baiknya untuk membentuk institusi yang baik, namun kita tidak bisa mengelakkan integritas oknum-oknum aparat kepolisian yang rendah masih ada pada tubuh kepolisian. Meski begitu, hal ini mungkin bisa menjadi sorotan dan perhatian khusus akan pembentukan pasukan Kepolisian dari Tamtama dan Bintara yang biasanya cenderung bekerja dan turun langsung ke lapangan, berdasarkan perintah atasan terkait agar kredibilitas dari pendidikan-pendidikan kepolisian memanglah SDM yang mumpuni dan berguna bagi masyarakat dan negara.

Leave A Reply

Your email address will not be published.