Cakrawala News
Portal Berita Online

Marah Tidak Selesaikan Masalah

0 29

 

By Suryadi
Pemerhati Budaya

DI dunia ini, Indonesia termasuk yg paling demokratis bila sekadar dilihat dari kebebasan untuk memenuhi pekik aspirasi pemegang daulat (baca: rakyat).

ads bukopin

Dalam logika ini, seharusnya sudah tidak ada lagi kekerasan oleh siapa pun dan terhadap siapa pun.

Kekerasan verbal apalagi kekerasan fisik, masih dalam logika ini menjadi anomali.

Demokrasi adalah ciri modern dalam berpolitik, sementara kekerasan adalah ekspresi primitivisme

Apalagi, ruang kebebasan sudah dibuka bahkan diakomodasi lewat pengamanan-pengamanan yang “care” dalam pemaknaan demokrasi.

Manusiawi tidak bisa dijadikan justifikasi oleh segala sesuatu sehingga apa pun boleh direaksi dengan marah-marah dan kemarahan dengan segala perwujudannya.

Dari waktu ke waktu, masuk di tengah-tengah alam reformasi, marah demi kemarahan sudah terlalu banyak dipertontonkan untuk mereaksi apa pun yang dipandang tidak sesuai keinginan.

Memang, ada alasan yang bisa dijelaskan yaitu harga sebuah komunikasi yang begitu penting untuk mencapai suatu keputusan agar semua merasa terwakili, sempat terlewatkan.

Akan tetapi, penting menjadi catatan pula bagi siapa pun. Untuk penyelesaian apa pun, apalagi yang bersifat politik (baca: baiknya sebuah keputusan bagi kehidupan orang banyak), marah itu tidak pernah menyelesaikan persoalan.

Sebab, jika marah itu menyelesaikan masalah, mengapa tidak marah-marah saja pekerjaan anak bangsa ini.

Terbukti, sudah begitu banyak perilaku marah-marah, toh masih juga harus di selesaikan dalam “ruang” mulai dari dialog sampai kepada pengadilan atau Mahkamah Konstitusi (MK) jika itu yang terkait dengan sebuah produk negara yang dianggap bertentangan dengan konstitusi.

Jadi, bukan dengan marah-marah apalagi sampai melukai aparat.
Sampai malam ini, terkait reaksi massa terhadap telah disahkannya “Omni Buslaw” atau UU Cipta Kerja, saya tidak berharap akan ada kabar lebih buruk daripada itu: aparat dan demonstran baku pukul hingga kedua belah pihak luka-luka dan harus dirawat.

Tidak! Tidak boleh terjadi. Itu anomali terhadap klaim bahwa ini negara demokrasi.

Tak ada demokrasi tanpa kemauan untuk patuh pada keinginan luhur yaitu meletakkan kepatutan dan moral di atas hukum.

Menjunjung kemanusiaan di atas segala-galanya, itulah pada akhirnya yang diacu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.