Cakrawala News
Portal Berita Online

Mafia Politik; Menyandera Untuk Menang

(Cara Kanibal Merebut Jabatan)

Penulis : Moh. Abd. Ghalieb I. Lahidjun, SE, MM

(Politisi Muda Partai GOLKAR)

 

Istilah MAFIA jika dirujuk dalam bahasa italia sebagai La Cosa Nostra adalah panggilan kolektif untuk beberapa organisasi rahasia di Sisilia dan Amerika Serikat. Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang didirikan oleh orang-orang dari sisilia pada abad pertengahan untuk tujuan memberikan perlindungan illegal, pengorganisasian kejahatan berupa kesepakatan dan transaksi secara ilegal, abritase perselisihan antar kriminal, dan penegakan hukum sendiri (main hakim). Konfederasi ini kerap kali terlibat dalam kegitan perjudian, penipuan, perdagangan narkoba, pembunuhan dan penggelapan dana.

Anggota Mafia disebut “mafioso”, yang berarti “pria terhormat”. Mafia melebarkan sayap ke Amerika Serikat melalui imigrasi pada abad ke-19. Kekuatan Mafia mencapai puncaknya di AS pada pertengahan abad ke-19. Rentetan penyelidikan FBI pada tahun 1970-an dan 1980-an agak mengurangi pengaruh mereka. Meski kejatuhannya tersebut, Mafia dan reputasinya telah tertanam dalam budaya populer Amerika, dan difilmkan di televisi dan bahkan dalam iklan-iklan. Istilah “mafia” kini telah melebar hingga merujuk kepada kelompok besar apapun yang melakukan kejahatan terorganisir (seperti Mafia Rusia, Yakuza di Jepang), dan Triad di China).

Mungkin saja tidak ada sumber paling akurat yang dapat dijadikan rujukan bagi kita untuk menggambarkan secara rinci kehidupan para mafia, kecuali dapat kita lihat dalam beberapa tayangan film-film Hollywood. Singkat cerita, ada beberapa pengamatan mendasar yang mungkin dapat kita simpulkan sebagai tabiat para mafia; Pertama ; Mafia memiliki visi yang selalu berorientasi pada ambisi pengendalian dan perebutan kekuasaan serta penguasaan lahan bisnis.

Kedua ; mafia selalu bertindak sadis, anarkis dan tak manusiawi, memang bukan mafia jika tidak menggunakan cara bengis dalam menjalankan operasinya, tujuannya adalah melenyapkan siapapun yang dianggap penghalang, dan mengancam siapa yang dianggap berpengaruh dan memegang kunci penting pengelola kepentingan umum. Polanya beragam, mulai dari membiayai pertarungan politik, agar pemenangnya nanti dapat dikendalikan, mencari titik lemah dan menyendera penyelenggaraan negara seperti presiden, gubernur, walikota, bupati, aparat hukum, peradilan, para senator dan semua elemen yang dianggap strategis, untuk tunduk dibawah ketiak para Mafia, mengkriminalisasi orang-orang baik, menciptakan peta konflik, bahkan bisa sampai pada cara penyiksaan dan penghilangan nyawa tanpa rasa bersalah. Biasanya dalam kasus seperti ini para mafia selalu memanfaatkan para pejabat dan aparat korup, untuk memuluskan aksinya.

Ketiga ; mafia mahir menggalang dan merekrut tokoh dan kelompok-kelompok penjahat, perompak, dan para begal, sebap kekuatan dan image utama Kelompok mafia adalah terletak pada kesadisan dan kemampuan berbuat jahat, sehingga kelompok mafia yang paling kuat biasanya adalah kelompok yang di dalamnya berisi banyak tokoh dan gerbong yang terkenal jahat, maka kesan menakutkan akan muncul dimata para korban sehingga siapapun merasa sangat takut untuk berhadapan apalagi melawan keinginan mereka.

Keempat ; Mafia sangat terlatih untuk berpura-pura baik dan dermawan dimata publik, untuk menutupi kejahatannya dari kecurigaan publik. biasanya pimpinan dan kelompok elite para mafia memiliki program sosial yang secara terbuka sengaja dikesankan sangat peduli kepada masyarakat, membantu pembangunan, menafkahi orang miskin, taat beribadah dan berbagai taktik lainnya, sehingga publik terhipnotis untuk mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang baik yang sangat peduli terhadap lingkungan sekitar, padahal sebenarnya itu adalah kamuflase semata untuk menutipi kejahatan besar yang mereka lakukan.

Kelima ; Kehidupan mafia selalu penuh perselisihan internal dan penghianatan, utamanya dilevel perwira tinggi, karna disana diperebutkan orang kepercayaan serta mandat pimpinan lapangan, untuk memegang kendali pasukan, kewenangan penggunaan uang, aset dan logistik, sehingga suasana saling sikut dan menjatuhkan cukup hangat dilevel itu demi memperebutkan kepercayaan bos besarnya. Bahkan biasanya seorang perwira yang selalu mendapatkan kepercayaan khusus berupa pelimpahan kewenangan yang besar, pada akhirnya selalu “silau mata” sehingga secara perlahan-lahan akan mulai membangun kekuatan baru dalam kelompok, dan setelah merasa telah kuat, maka akan terjadi kudeta kekuasaan, menggunting dalam lipatan, menikam dari belakang menumbangkan pimpinan dan mengambil alih kekuasaan, situasi ini sangat mungkin terjadi mengingat kelompok mafia adalah rumah besar bagi perkumpulan para penjahat, sehingga semua bentuk kejahatan apapun dapat terjadi kapan dan dimana saja.

Keenam ; Kisah mafia selalu dipenuhi dengan cerita penderitaan dan pembalasan para korban yang biasanya adalah orang-orang baik. Banyak dari para korban yang setelah melewati proses penyiksaan dan telah memenuhi semua keinginan para mafia, ternyata pada akhirnya tetap akan dihabisi juga untuk sekedar menghilangkan jejak. oleh karena itu korban yang memiliki jiwa kesatria selalu berfikir keras melihat peluang dan menunggu kesempatan untuk menyudahi penderitaannya, sekaligus untuk menghentikan praktek jahat para mafia, dan menyelamatkan lebih banyak lagi orang yang mungkin akan menjadi korban selanjutnya.

Ketujuh ; Cerita para mafia selalu berakhir tragis. Tidak ada kejahatan yang sempurna, itu sekiranya yang membuat setiap bentuk kejahatan apapun pasti akan selalu berakhir dengan kehancuran dan kehinaan, sebap sudah menjadi hukum alam dalam sejarah kehidupan umat manusia, bahwa sehebat dan sekuat apapun kejahatan menyombongkan diri, pasti pada akhirnya akan datang kebaikan sebagai anti tesis dari keadaan semula, mungkin ini hanya soal waktu saja.

Jika kita mencermati secara seksama perkembangan dinamika politik nasional, khsusnya diprovinsi Gorontalo akhir-akhir ini, kita dapat menemuka suatu gejala pergerakan politik yang terlihat seolah memiliki kesamaan dengan pola kerja para mafia, dimana munculnya suatu blok kekuatan politik, yang terlihat tak segan-segan menghalalkan segala cara didalam mentargetkan kemenangan politiknya.

Memang biasanya, dalam menghadapi hajatan ritual demokrasi pemilihan umum seperti saat ini, paling tidak ada dua rumus dasar strategi politik umum yang biasa digunakan para politisi matematis, pertama terus mendongkrat peningkatan daya elektoral calon sekuat mungkin, dan ke dua adalah berupaya melemahkan lawan yang dianggap potensial sebagai pesaing utama. Artinya, setiap kontestan politik apakah lembaga maupun personal calon, memang harus terus memaksimalkan kerja-kerja politiknya seperti blusukan, membangun jejaring, kampanye, tatap muka, dan berbagai serangan darat, laut dan udara lainnya, guna melakukan penggalangan dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya, namun memang skema ini hanya relevan jika dilakukan dalam jedah waktu yang panjang serta dilakukan oleh politisi lokal yang telah lama menjaga basisnya masing-masing, namun bagi pendatang baru, yang menargetkan kemenangan besar, di sisa waktu yang cukup singkat ini, biasanya rumus kedua “pembegalan politik” akan diambil sebagai jalan pintas untuk menuju kemenangan, apalagi jika produk yang dijual adalah lembaga politik yang ambisius serta sosok politisi yang karena status sosial dan wibawa publiknya berada pada makom yang cukup tinggi, serta memiliki sumberdaya ekonomi dan akses pada kekuasaan nasional yang baik, maka menang menjadi suatu keharusan baginya demi menjaga wibawa dan kehormatan politiknya, mungkin bisa dibilang tidak boleh ada kata “kalah” dalam kamus mereka, sehingga negative campaign, black campaign, sandera-menyandera tokoh berpengaruh, propaganda publik, fitnah, menebar hoks, jorjoran logistik dan berbagai pola kanibal lainnya akan tampak mewarnai pergerakan politik kelompok itu.

Saya percaya bahwa publik Gorontalo telah banyak membaca dan mengamati dinamika politik kita saat ini, dan tentu saja telah memberikan catatan-catatan penting tentang pola main partai politik dan para calon legistif sehingga tidak sulit bagi masyarakat Gorontalo untuk menentukan pilihan yang tepat didalam tempat Pemungutan Suara (TPS) nanti pada tanggal 17 April 2018. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi daerah ini dari kehancuran dan kebinasaan. Wallahu’alam Bisawab.****

%d bloggers like this: