Cakrawala News
Portal Berita Online

Luhut Binsar Panjaitan: Bagaimana Ia Memimpin?

0

Luhut Binsar Pandjaitan:  Bagaimana Ia Memimpin?

Penulis: Almeira Khalinda, Ilmu Administrasi Negara, Universitas Indonesia.

 

Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan, M.P.A, seorang negarawan yang menghabiskan lebih dari 30 tahun masa hidupnya sebagai salah satu kebanggaan militer Indonesia. Ia bergabung dengan TNI pada tahun 1970 sampai 1999 dan sudah mengukir banyak prestasi luar biasa di ranahnya.

Setelah mengukir banyak prestasi dalam masa abdinya sebagai TNI, beliau akhirnya pensiun dan mulai masuk jajaran pemerintahan dengan ditugaskan oleh Presiden B.J Habibie sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura pada tahun 1999 sampai 2000.

Setelah berhasil memperbaiki hubungan tegang antara Indonesia dan Singapura saat itu, Luhut dipilih oleh Presiden Abdurrahman Wahid sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada tahun 2000 sampai 2001.

Setelah itu pada masa kepresidenan Jokowi, Luhut bergabung dalam Kabinet Kerja Jokowi.

Pada Kabinet Kerja Jilid I, Luhut telah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, dan Menteri Perdagangan. Kemudian pada Kabinet Kerja Jilid II, Luhut menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

 

Gaya Kepemimpinan Luhut

 Pemimpin merupakan seorang individu yang memiliki kelebihan dan kemampuan lebih dalam mempengaruhi individu atau kelompok organisasi untuk mencapai tujuan secara bersama-sama. Pemimpin, sebagai individu yang bersifat unik, memiliki latar belakang, karakter, serta nilai yang berbeda-beda akan mempengaruhi gaya kepemimpinan mereka.

Kepemimpinan adalah kemahiran seorang individu dalam mempengaruhi, memotivasi, dan membuat individu lain mampu memberikan kontribusinya yang bertujuan dalam mewujudkan efektivitas dan keberhasilan organisasi (House dalam Yukl, 2013)

Sedangkan gaya kepemimpinan menurut Saul. W. Gellerman (2003) adalah bagaimana seorang pemimpin melaksanakan fungsi kepemimpinannya dan bagaimana ia dilihat oleh mereka yang berusaha dipimpinnya atau mereka yang mungkin sedang mengamati dari luar.

Luhut sebagai seseorang yang telah lama terjun dalam dunia militer dan juga tak sebentar masuk ke dalam ranah pemerintahan, tentu memiliki gaya kepemimpinannya sendiri. Banyak masyarakat memandang Luhut sebagai seseorang yang tegas, berani, dan berpengaruh. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan Luhut dapat dikatakan sebagai kepemimpinan kharismatik.  Gaya kepemimpinan kharismatik adalah gaya kepemimpinan yang mampu menarik atensi banyak orang, karena Ia memiliki daya tarik spesial yang unik (Kartono, 2010).

Pemimpin karismatik menekankan tujuan-tujuan ideologis yang menghubungkan tugas dengan nilai-nilai, cita-cita, serta gagasan bersama dalam organisasi. Pemimpin tipe ini menciptakan suasana motivasi untuk pengikutnya yang beralaskan komitmen sesuai gaya pemimpin. Pemimpin karismatik memiliki peran dominan dalam menakhlikkan perubahan.

Berbicara tentang perubahan, tentu selalu ada aktor kuat di belakangnya. Dalam hal organisasi, perubahan tak lepas dari pemimpin yang adaptif. Gaya kepemimpinan ini disebut dengan gaya kepemimpinan tranformasional.

Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang mampu memberi motivasi dan memperhatikan kebutuhan pengikutnya untuk memaksimalkan potensi diri mereka demi perubahan ke arah yang lebih baik sehingga tujuan organisasi dapat tercapai.

Walapun Luhut merupakan seseorang yang telah terjun lama di bidang pemerintahan, namun beliau selalu menghargai kinerja bawahannya dengan sering melontarkan apresiasi dalam beberapa kesempatan di depan publik. Ini menunjukkan bahwa Luhut memberikan perhatian kepada para pengikutnya yang bekerja dalam jajaran kementrian yang dipegangnya. Selain itu, sifat transformatif beliau tercermin dari setiap pengambilan keputusan beliau di tengah kondisi ketidakpastian Covid-19, yang cepat tanggap.

Mengenal Para Pengikut Luhut

Tingginya posisi yang dimiliki Luhut hingga disebut sebagai tangan kanan Presiden Jokowi, tidak membuat Luhut tinggi hati. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Luhut memiliki apresiasi tinggi kepada jajarannya. Kita sering menemukan Luhut menyebutkan nama staf-staf yang membantunya dalam setiap kebijakan yang berhasil diterapkannya. Contohnya saat Luhut mendapatkan tugas dari Presiden Jokowi untuk menekan kasus Covid-19 pada April 2020 lalu. Ia menyebut dirinya hanyalah seorang manajer yang baik, dibantu oleh banyak orang dari generasi muda yang pintar dalam proses pelaksanaan tugas ini. “Saya bukan epidemiolog memang betul, tapi saya dibantu banyak orang pintar, anak-anak muda epidemiolog seperti Monica yang dari UI dan lulus dari Harvard untuk epidemiologi. Selain Monica, saya juga dibantu Jona dari UI, Nando dari ITB, Seto dari UI, dan Purbaya dari UI juga,” ujar luhut dalam konferensi pers Digital Launch of Indonesia’s Multi-Stakeholder Action Plan 22 April tahun lalu.

Salah satu Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi di Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya juga sempat menjabat menjadi Deputi Staf Kepresidenan saat Luhut masih menjabat menjadi Kepala Staf Kepresidenan, menjadi pilihan Presiden Jokowi untuk menggantikan posisi Halim Alamsyah menjadi Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.

Pemimpin (leader) dan pengikut (follower) bersama-sama menciptakan hubungan kepemimpinan (leadership). Peter B. Guy (2019) mendefinisikan pengikut adalah proses dimana satu orang atau lebih menerima pengaruh orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Dilihat dari hubungan luhut dengan para bawahannya yang positif, jika kita lihat dari tipe-tipe followership model Zaleznik bisa dikatakan tipe followers Luhut selama duduk di pemerintahan cenderung ke arah Masochistic (tunduk dan aktif). Tipe followers Masochistic bersifat patuh dan senang terhadap pemimpin mereka yang memegang kendali atas mereka. Followers tipe ini mengikuti perintah pemimpinnya dengan semangat dan antusisame yang tinggi.

 

Luhut Sebagai Pemimpin Laki-laki

 Gender sering digunakan dalam menentukan kemampuan dan kualitas seseorang dalam menjadi pemimpin dan pengendali di dalam suatu organisasi.

Gender mengacu kepada karakteristik perempuan dan laki-laki yang dikonstruksi secara sosial, yaitu ciri-ciri sosial laki-laki dan perempuan yang berdasarkan dari perbedaan peran, tanggung jawab, batasan dan pengalaman seseorang di dalam pandangan masyarakat umum.

Menurut Reid (2000) laki-laki cenderung akan menjalin hubungan baik yang saling menguntungkan satu sama lain, dan berdasarkan Bem Sex Role Inventory (dalam Handayani dan Novianto, 2004) laki-laki juga cenderung lebih berpikir analitis dengan melihat sebab akibat. Tercermin dari kepemimpinan Luhut, dimana sejak Ia menjadi duta besar Singapura berhasil memulihkan kembali hubungan Indonesia – Singapura yang sempat renggang renggang melalui diplomasinya. Kinerja Luhut saat di periodenya menjabat sebagai Menkomarves pun tak diragukan lagi. Luhut berhasilmenarik banyak investor ke Indonesia, mulai dari investasi industri farmasi dan green energy dengan Korea Selatan, investasi jumbo DARI UAE senilai Rp 637 T, memperkuat kerja sama dengan Cina dengan membentuk High Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM), dan masih banyak lagi.

 

Kekuatan Luhut, Sang Menteri Favorit Jokowi

Luhut Binsar Pandjaitan disebut sebagai ‘one of the country’s powerful men’ karena kekuasaan dan jabatannya sebagai Kepala Staf Kepresidenan Jokowi saat itu. Selain itu, Luhut juga disebut sebagai ‘the gatekeeper’ bagi Jokowi karena latar belakang militer dan keahlian ekonomi yang kuat padanya. Bahkan juga mendapatkan penghargaab ‘The Best Minister‘ dalam CNBC Indonesia Awards 2021. Kehadiran Luhut penting untuk membantu Jokowi mengkonsolidasikan kekuasaan. Ia dahulu merupakan ketua dari tim suksesi Jokowi. Di tahun 2014, Luhut mendirikan Cakra 19, tim pemenangan yang bertugas untuk menghimpun para purnawirawan jenderal militer dalam Pilpres 2014.

Luhut disebut-sebut sebagai tangan kanan Presiden Jokowi, karena terlihat bahwa Luhut sering mendapatkan tugas khusus dari presiden yang membuat sebagian masyarakat terheran-heran seperti tidak ada menteri selain Luhut di kabinet. Beberapa tugas yang diemban Luhut di luar tugas sebagai Menkormarves antara lain seperti Koordinator PPKM Jawa-Bali, komando penanganan Covid-19 di delapan provinsi, wakil ketua KPC-PEN, Ketua Dewan Pengarah Penyelamatan Danau Prioritas Nasional, dan Ketua Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas-BBI).

Namun memang dapat kita lihat bahwa sebenarnya kinerja Luhut menghasilkan outcome yang positif, sehingga dapat dikatakan Jokowi puas dengan kinerja Luhut, dan semakin memercayakan Luhut untuk beberapa penugasan lain diluar tugas jabatannya sebagai Menkomarves.

Menurut Richard L. Daft, kekuasaan (power) adalah kemampuan satu orang atau departemen dalam suatu organisasi untuk mempengaruhi orang lain untuk membawa hasil yang diinginkan. Jika kita lihat dari pendekatan kekuasaan (power), jenis kekuasaan individu, Luhut memiliki sumber kekuasaan dari formal power yaitu legitimate power, dari jabatan resmi yang sudah diembannya sebagai Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Kabinet Kerja Jilid II. Luhut juga memiliki sumber kekuasaan dari personal power, yaitu referent power, karena karakteristik personal Luhut yang memang berjiwa pemimpin tinggi, penuh dengan karisma, sehingga mendapatkan kepercayaan publik, bahkan kepercayaan Presiden, selama Ia bekerja di pemerintahan.

Luhut Binsar Pandjaitan, sosoknegarawan yang telah menghabiskan waktunya untuk mengabdi kepada negara, telah berupaya untuk membantu Indonesia ke arah yang lebih baik, dan menjadi salah satu kebanggaan Indonesia. Dengan semua pencapaian beliau, maka tak berlebihan jika kita menjadikannyaa sebagai sebagai sumber motivasi dan inspirasi bagi calon pemimpin Indonesia di masa depan.

 

Daftar Referensi:

https://bit.ly/ReferensiArtikelLBPBIM

Leave A Reply

Your email address will not be published.