Cakrawala News
Portal Berita Online

Limbah Popok Bayi Jadi Media Tanam : Salah Satu Solusi Bangkit di Masa Pandemi

0 127

MADIUN, CAKRAWALA.CO – Popok sekali pakai (Pospak) adalah penemuan jenius bagi orang tua yang memiliki bayi dan balita. Tapi limbah dari solusi kepraktisan ini menimbulkan masalah lingkungan. Apalagi saat ini masuk musim penghujan, dikhawatirkan limbah popok yang banyak dibuang di sungai oleh warga, dapat mengakibatkan banjir.

Keresahan ini juga dirasakan Irwan Budiyanto, warga Desa Sambirejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Ia yang juga memiliki bayi dan menggunakan pospak, sempat dilema dengan limbahnya. Menurut mitos dari para orang tua mengatakan, bahwa membakar pospak bayi bisa berakibat sang bayi terkena penyakit kulit. Namun Irwan juga paham, membuang pospak ke sungai bisa berakibat bencana banjir.

“Saya sempat bingung, mau dibakar mitosnya anak bisa kena sakit kulit, dibuang disungai bisa berakibat fatal, sedangkan dikubur proses penguraiannya lama dan bisa merusak tanah, sedangkan saya tidak punya lahan yang cukup luas untuk itu,” kata Irwan mengawali ceritanya.

ads bukopin

Tak habis akal, Irwan yang lulusan S2 Manajemen Agribisnis Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini memiliki ide yang tak biasa. Yakni mengolah limbah pospak menjadi pupuk tanaman dan menjadi media tanam. Ide ini didapat pemilik kios tanaman hias dan tanaman pertanian ini dari sejumlah penelitian yang tertulis dalam jurnal ilmiah.

Dijelaskan bapak satu anak ini, sampah pospak yang baru digunakan tidak bisa langsung dijadikan media tanam, karena masih terdapat kencing yang mengandung amonia tinggi. Dikatakannya, senyawa tersebut ketika langsung diberikan ke tanaman maka tanaman tersebut bisa mati, jadi harus melalui proses fermentasi.

“Proses fermentasi butuh waktu 10 sampai 14 hari, setelah selesai, gel popok itu bisa digunakan untuk media tanam sedangkan airnya bisa digunakan sebagai pupuk,” ujarnya.

Irwan menjelaskan proses fermentasinya pertama, sekitar 5 pospak diambil gel nya, kemudian di campurkan mikroorganisme lokal (Mol) dan didiamkan selama 10 sampai 14 hari. Sementara, untuk mol nya Irwan mengaku membuatnya sendiri, yakni campuran dari keong sawah, air cucian beras dan tetes tebu.

“Bisa saja membeli mol di toko pertanian, tapi saya sengaja membuatnya sendiri dengan memanfaatkan limbah di sekitar karena lebih ramah lingkungan dan ekonomis,” kata Irwan.

Irwan menyebut keuntungan menggunakan gel diaper untuk media tanam adalah tidak perlu sering menyirami tanaman. Karena gel tersebut memiliki daya untuk menyimpan air. Selain itu gel yang digunakan untuk media tanam juga menjadi pupuk, sehingga pemberian pupuk bisa dikurangi. Yakni, jika biasanya pemberian pupuk selama dua pekan sekali, dengan media gel pospan bisa tiga minggu sekali.

“Ini bisa jadi solusi hemat ditengah kesulitan ekonomi pada masa pandemi seperti ini, karena bisa lebih menghemat biaya tanam,” ujarnya.

Cara pemanfaatan limbah pospak ini juga ditularkan kepada warga lingkungan sekitar yang datang ke rumahnya. Melalui edukasi tersebut, Irwan berharap warga bisa memanfaatkan sampah pospak ini bisa lebih berguna. Selain itu juga mengurangi pembuangan sampah popok di sungai.*(Ayu)

Leave A Reply

Your email address will not be published.