Cakrawala News
Portal Berita Online
Banner Sky Kiri
Banner Sky Kanan

Lebaran dan Kemesraan Yang Redup

Oleh: Funco Tanipu

Idul Fitri bagi saya di sekitar tahun 80 dan 90 an adalah lebaran yang berkesan. Saya sering diajak oleh Ayah dan Ibu untuk berlebaran ke tiap keluarga. Kami berhimpitan di motor Honda 70, satu-satunya harta yang Ayah saya miliki saat itu. Kami mesti menyusuri jalan rusak, gang dan melintasi berbagai desa untuk bisa berjabat tangan, dengan erat, dan saling menatap untuk memohon maaf antar sesama. Bagi yang jauh, biasa kami berkirim kartu Lebaran. Telepon belum ada saat itu.

Idul Fitri bagi warga kampung begitu semarak, sebelum itu banyak even kampung yang digelar di penghujung Ramadhan. Kami merasakan kehangatan Ramadhan dan kemesraan Idul Fitri. Idul Fitri begitu kental nuansa kekeluargaanya. Lebaran ini saya singkat dengan LEBARAN 1.0.

Pada medio tahun 2000 an, saya banyak mengirim serta menerima sms, minal aidin dan permohonan maaf lebaran dipersingkat dalam beberapa karakter sms. Handphone juga telah memfasilitasi pengantaran suara dari satu wilayah ke wilayah lain. Email, Friendster pun memfasilitasi itu. Ada juga yang menggunakan Yahoo Messenger, sebagian menggunakan MiRc. Lebaran menjadi lebih datar, minal aidin wal faidzin dianggap diterima seiiring bunyi delivery report di sms atau media lain. Suasana lebaran semakin renggang. Pesan ruhaniah telah diformat menjadi paket digital yang simpel. Kemesraan mulai redup, kehangatan hanya sebatas rangkaian kata-kata lucu dan hal menarik lainnya. Lebaran selesai di layar handphone berukuran 3 x 4 cm ; LEBARAN 2.0

Memasuki era teknologi 3G lalu HSDPA, dari tahun 2010 hingga hari ini, Lebaran semakin diperpadat. Kemajuan teknologi ikut memberi kontribusi pada seberapa besar data yang dikirim dan seberapa cepat data itu tiba. Teknologi yang semakin maju pun memfasilitasi Lebaran dalam bentuk komunikasi face to face dengan lebih murah. Facebook, skype, twitter, Line, Viber, Youtube dan beberapa media sosial lain, berlomba untuk mengantarkan paket Lebaran yang berisi ucapan minal aidin wal faidzin. Kata-kata dikemas dalam infografis, wajah dipercantik melalui kamera 360, pesan dalam bentuk ayat dan hadits lebih mudah dibagi karena hampir semua media sosial memiliki fasilitas membagi pesan baik itu share, retweet, dan sebagainya. Hanya dengan beberapa kali klik, semua orang bisa ditandai, di mention, di broadcast untuk satu tujuan ; pesan terkirim. Apakah dalam status ‘delivery’ maupun ‘read’ atau ‘writing message’.

Pun telah diperkenalkan tipe bahasa yang lebih baru ; bahasa alay. Bahasa yang hanya dimengerti oleh penggunanya itu memang rumit, tapi intinya pesan diterima dengan baik. Belum lagi dengan banyaknya simbol dan emoticon yang bertebaran. Line mungkin yang paling maju kalau soal emoticon, mulai emoticon sahur, buka puasa, cinta, raisya, hingga AADC. Di Line, kita bisa saling mengirim stiker untuk mewakili perasaan dan hasrat kita.

Media sosial mengalami perubahan dan kemajuan yang luar biasa. Semua pesan dicoba dan dipaksakan untuk direpresentasikan melalui stiker, emoticon, teks, picture maupun video (contohnya ; dubsmash). Era hari ini, ‘representasi’ memang mencoba memantaskan diri untuk mewakili semau hasrat manusia dari level manapun. Lebaran pun dicoba untuk direpresentasikan melalui teknologi digital. Kemesraan dan kehangatan digeser untuk semakin digital. Saya memaknai Lebaran saat ini adalah LEBARAN 3.0.

Refleksi pasca Lebaran tahun ini serasa ‘kering’ ketika kehangatan dan kemesraan telah menjadi digital. Pelukan diganti dengan emoticon ‘pelukan’. Kasih sayang direduksi maknanya pada guratan teks yang sangat terbatas. Lebaran semakin kehilangan maknanya seiring klaim ‘kemajuan’ di bidang teknologi digital.

Friedman benar, “world is flat”. Kini dunia telah datar. Tak ada lagi kendala ‘space’ and ‘time’. Teknologi digital telah menghancurkan batas-batas itu. Pada saat yang sama, kemanusian akhirnya disimpulkan dalam logika biner. Kemanusian dibatasi dalam kerangka sempit yang terkerangkeng dalam prinsip efisien dan efektif.

Akankah kita membiarkan itu terus terjadi? Akankah silaturrahmi itu kita digitalkan? Akankah kehangatan itu redup dan pada akhirnya lenyap? Ataukah kita mesti menafsirkan kembali seperti apa silaturrahmi, kehangatan, kemesraan hari ini? Pilihan ada pada kita masing-masing.

Semoga kehangatan dan kemesraan yang mulai redup itu kembali seperti sediakala.***