Cakrawala News
Portal Berita Online

Larung Tumpeng dan Rebutan Bebek di Bengawan Madiun

2

MADIUN, JATIM, CAKRAWALA.CO-Berbagai cara dilakukan warga dalam merayakan Bulan Muharram / Bulan Suro sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan rejeki-NYA. Serta sebagai nguri nguri budaya jawa mengenang napak tilas sebuah perkampungan yang memiliki icon atau ciri khas kedaerahannya.

Hal ini seperti yang dilakukan ratusan warga Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur dengan menggelar ritual larung tumpeng di Sungai Bengawan Madiun, Jumat (13/10/2017). Dimana daerahnya dulu terkenal dengan budidaya Buah Jeruk Nambangan dan aliran Sungai Bengawan Madiun sebagai jalan utama transportasi perdagangan antar daerah.

Antusias warga cukup tinggi, hal ini terlihat berjam-jam lamanya mereka rela menunggu prosesi larung sesaji tahunan tersebut di sekitar bantaran sungai meski panas matahari menyengat kulit. Dan saat tradisi larung sesaji dimulai, diawali dari Kantor Kelurahan Nambangan Lor menuju Jembatan Manguharjo aliran Sungai Bengawan Madiun atau tepatnya di Sungai Jembatan Sonokeling atau Gang Pancasila untuk melarung tumpeng beserta jeruk dan bebek.

ads bukopin

Sejumlah warga pun tak sabar langsung menceburkan diri berebut sejumlah bebek dan buah jeruk yang dilarung tersebut. Meski hanya menggunakan ban bekas mereka rela berenang menyeberangi aliran sungai untuk mendapatkan bebek dan jeruk.

“Harapannya agar mendapat berkah dan nantinya bebek ini akan saya masak bersama untuk lauk sekeluarga mas,”ujar Ragil warga setempat.

Sambil terengah engah usai berenang berebut bebek di tengah aliran sungai dirinya menambahkan selain itu juga berharap dengan tradisi ini nantinya kami warga masyarakat yang tinggal disekitar aliran Sungai Bengawan Madiun selalu mendapatkan berkah dan kondisi air Bengawan tetap selalu bersih.

Sementara menurut sesepuh Kelurahan Nambangan Lor menjelaskan bahwa acara larung sesaji ini, selain upaya nguri-nguri budaya juga sebagai napak tilas kampung yang dulunya pernah terkenal dengan Kampung Jeruk Nambangan.

“Kami menggelar tradisi ini setiap tahun agar masyarakat umum dan khususnya warga Nambangan tahu cerita asal muasal kampungnya. Dimana kampung sini terkenal dengan Buah Jeruk Nambangan yang beda rasanya dibanding dengan jeruk dari daerah lain. Bedanya dalam bertanam jeruk menggunakan kaldunya sapi, kalau didaerah lain menggunakan pupuk organik,” kata Sampoerna, Sesepuh Nambangan Lor.

Meski saat ini keberadaan buah jeruk khas Nambangan sulit dicari, namun kedepannya pihaknya sebagai generasi penerus berencana akan kembali membangkitkan dan membudidayakan buah jeruk khas nambangan serta akan bekerja sama dengan Instansi terkait seperti Dinas Pertanian Kota Madiun dan lainnya dengan memanfaatkan lahan di sepanjang Bantaran Sungai Bengawan Madiun. (Wawan/Zen)

Comments are closed.