Cakrawala News
Portal Berita Online

Langgar UU Cagar Budaya,Pembangunan Tiang Baliho di Kawasan Keraton Solo Diprotes

0 367

 

SOLO CAKRAWALA.CO,-Pembangunan tiang baliho di depan siti hinggil alun alun selatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang merupakan kawasan cagar budaya di tentang oleh ketua Lembaga Dewan Sdat karaton surakarta maupun Masyarakat Adat Karaton Surakarta dan sentono dalem perwakilan trah PB II sampai PBXIII.Pasalnya pembangungan tiang baliho berbahan dasar pondasi cor dan tiang besi besar tersebut selain melanggar estetika juga melanggar UU 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

 

 

Pembangun tiang permanen dengan kedalamaman sekitar 1,5 meter didepan pagar siti hinggil yang merupakan bangunan cagar budaya tersebut dilakukan oleh orang-orang yang mengaku mendapat dapat perintah Raja.Hal tersebut merupakan kesalahan yang berpotensi merusak benda maupun bangunan cagar budaya.Bahkan orang orang yang mengaku suruhan raja sebelumnya juga melakukan kesalahan dengan memasang tiang baliho besar di depan kamandungan karaton surakarta.Ini jelas tidak pada tempatnya pasalnya berada di depan Keraton yang dijunjung tinggi marwahnya Karaton yang sakral dan bebas iklan malah jadi seperti reklame pemetasan kethoprak di gedung wayang orang.

ads bukopin

Terlepas itu perintah sinuwun atau tidak yang jelas hal tersebut merupakan kesalahan dan melanggar estetikan maupun UU Cagar Budaya.

GKR. Wandansari yang merupakan adik kandung PB XIII sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Senin(14/09/20)menyayangkan atas sikap dan tidakan kesewenang-wenangan yang dilakukan orang-orang maupun oknum-oknum yang mengatasnamakan perintah sinuwun,Kesalahan ini bukan hanya dilakukan sekali dua kali, melainkan sudah terlalu sering. Dan ini meresahkan & menyakiti hati kami semua baik sentono dalem, abdi dalem dan masyarakat adat di dalamnya. Karena hanya menegaskan yang harusnya menjadi pengayom tidak bisa menjaga marwahnya sendiri bagi masyarakat adatnya,”jelasnya.

 

Belaiu lupa bahwa bisa menjadi pemangku adat itu kan bukan sebuah prestasi yang ia capai sendiri, lha kami yang menjadikannya sehingga ia bisa duduk di singgasana karena kami patuh pada aturan adat. Dan ketika 2004 ada orang yang membuat raja tandingan kamilah yang membela dan menjadikan Hangabehi ini pemangku adat sesui dengan paugeran adat (aturan adat).”Lha kok malah setelah duduk berlaku semena-mena memusuhi kami ,bangunan-bahunan kraton semuanya di gembok, fasilitas layanan umum ,juga fasilitas pendidikan & sosial juga ditutup, adik-adik sekandung, anak & cucu juga kandung, sentono dalem cucu cicit raja terdahulu tidak boleh masuk karaton, malah mengusir-ngusir sentono darah dalem yang sebelumnya menjadikannya pemangku adat dan membela habis-habisan ketika ada raja tandingan.”

 

GKR. Wandansari menambahkan,”Keberadaan kami(LDA) justru melindungi yang bersangkutan dan memposisikan yang tertinggi sebagaimana mestinya. Jangan sampai apa yang di lakukannya itu melanggar hukum seperti memasang tiang baliho permanen di area kawasan cagar budaya seperti yang terjadi saat ini,dimana tiang baliho besar permanen di depan Kamandungan Keraton surakarta atau di depan persis fassade Kearaton Surakarta dan 1 lagi aliho besar permanen di depan fassade Sitihinghil Kidul Karaton Surakarta yang sudah di tetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

 

Sementara itu, Balai Pelestarian Cagar Budaya BPCB Jawa Tengah. Wahyu Broto.selaku kapokja kawasan Keraton Surakarta dalam pesan singkatnya mengatakan,(Pada dasarnya yang di perbolehkan adalah. Tidak bersifat permanen dan bisa setiap saat dibongkar tidak apa apa,Tempat tidak di depan tepat sehingga menutupi fassade keraton,Apabila tidak masuk dalam kriteria hal ini masih dapat dipertimbangkan lebih lanjut).(AgB)

Leave A Reply

Your email address will not be published.