Cakrawala News
Portal Berita Online

Kisah Sekolah Seberangi Sungai Pakai Ban Mobil

1

JOGJAKARTA, CAKRAWALA.CO,- Bersyukurlah anda yang bisa berangkat sekolah dengan nyaman diantar jemput jemput mobil atau menggunakan kendaraan bermotor atau naik sepeda di jalan aspal yang halus, sehingga sampai sekolah dengan tenang dan nyaman. Sejumlah anak murid Sekolah Dasar Kedungmiri Sriharjo Imogiri Bantul Yogyakarta, setiap hari harus menyebrangi sungai Oya, salah satu sungai besar di Yogyakarta ketika berangkat dan pulang sekolah. Sebanyak 5 murid SD Kedungmiri warga dusun kedungjati Selopamioro Imogoro bantul Yogyakarta, setiap hari diseberangkan oleh orangtua masing – masing dengan menggunakan ban dalam bus yang sudah dimodifikasi dengan ember sehingga sang anak tidak basah ketika menyeberang sungai Oya. Para orang tua berenang memegangi ban dalam yang ditumpangi anak – anak mereka untuk berangkat sekolah. Kejadian ini telah berlangsung hampir selama dua bulan pasca terjadinya banjir besar yang melanda yogyakarta akhir tahun 2017 lalu.

“Sejak banjir besar beberapa waktu lalu, setiap hari kami menyeberangkan anak – anak kami ketika akan berangkat dan pulang sekolah. Sebab jembatan yang biasa dilewati putus diterjang banjir,” Ujar Kastopo, warga dusun Kedungjati Selopamioro Imogiri Bantul Yogyakarta ketika ditemui di rumahnya usai menyeberangkan Devan anaknya yang duduk di kelas 3 SD Kedungmiri yang berada di seberang Sungai Oya, Jumat ( 9/2/2018).

Kastopo menambahkan, banjir bandang yang terjadi pada akhir tahun 2017 lalu telah mengakibatkan jembatan gantung yang menghubungkan dusun kedungjati Selopamioro dengan dusun Kedungmiri Sriharjo putus. Akibatnya sebanyak 5 siswa SD warga dusun kedungjati yang sekolah di SD Kedungmiri  harus menyeberang sungai Oya setiap hari untuk berangkat dan pulang sekolah. Jika arus sungai sangat deras dan membahayakan, maka  anak – anak memilih tidak masuk sekolah.

ads bukopin

“Kami terpaksa menyeberang sungai Oya ini karena jika lewat darat, jalannya memutar lebih dari 10 kilometer dan membutuhkan waktu lebih dari setengah jam. Sedangkan kalau menyeberang hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit,” Jelas Kastopo.

Ban yang kami gunakan untuk menyeberang ini, imbuh Kastopo, lebih baik daripada ban mobil yang kami gunakan sebelumnya. Ban dalam ukuran besar dimodifikasi dengan diberi ember untuk tempat duduk anak yang diseberangkan ini merupakan bantuan dari sarlinmas Parangtritis. Sehingga ketika diseberangkan anak – anak tidak basah karena masuk kedalam ember.

“Beberapa hari lalu, kami menerima bantuan dari sarlinmas Parangtritis berupa pelampung untuk dewasa dan anak – anak serta alat untuk menyeberangkan anak – anak berupa ban dalam bus dan truk yang ukurannya besar yang dimodifikasi dengan ember besar sebagai tempat duduk anak – anak yang diseberangkan,” ungkap kastopo.

Sementara itu, Ibnu Nugroho, salah satu anggota sarlinmas Parangtritis menjelaskan, pihaknya memberikan bantuan  tersebut sesuai keinginan warga dusun kedungjati. Para warga membutuhkan pelampung dewasa dan anak – anak serta alat untuk menyeberangkan anak – anak.

“Awalnya kami tawarkan perahu getek dari bambu, tetapi warga mengaku tidak bisa mengoperasikan. Mereka meminta ban dalam mobil ukuran besar. Sehingga kami buatkan alat untuk menyeberangkan anak dengan ban dalam bus dan truk ukuran besar yang tengahnya kami masukkan ember besar untuk tempat duduk anak agar tidak basah kena air,” terang Ibnu Nugroho.

Setelah dijuicoba, imbuh Ibnu, alat tersebut bisa digunakan untuk menyeberangkan anak – anak warga dusun kedungjati dan tidak basah terkena air. Sehingga kami serahkan dan sekarang sudah digunakan oleh warga. ( okta )

Comments are closed.