Cakrawala News
Portal Berita Online

Ki Sabdo: “Batuk”nya Gunung Agung Isyarat “Goro-Goro” Nasional

100

SURABAYA, CAKRAWALA.CO – Aktifitas vulkanik Gunung Agung di pulau Bali sampai saat ini masih kritis dan terus menunjukkan perkembangan yang mengkawatirkan. Meski status menjadi awas namun masyarakat diminta terus mewaspadainya karena sewaktu-waktu bisa meletus.

Nah, bagaimana aktifitas Gunung di pulau Dewata ini apabila dilihat dari perspektif metafisika? Benarkah aktifitas Gunung tersebut sebuah isyarat atau tanda-tanda bagi negeri ini akan terjadi ‘goro-goro’ nasional sebagaimana sejarah Gunung Agung pada tahun 1963 yang menyusul dua tahun kemudian terjadi pembantaian yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI)?

Seorang  spiritualis asal kota Surabaya Ki Sabdo Jagadraya menegaskan hasil penerawangan setelah melakukan meditasi dan ritual di patung Joko Dolog Surabaya, isyarat atau tanda-tanda dari alam itu harus tetap diwaspadai oleh manusia.

“Terutama bagi penguasa negeri ini mulai dari tingkat Presiden, Gubernur sampai dengan Walikota dan Bupati harus ikut prihatin dengan keadaan alam semesta,” tutur Spiritualis spesalis politik dan hukum ini, Jum’at (13/10/2017).

Ki  Sabdo Jagadraya menambahkan, ‘batuk-batuk’nya Gunung Agung di pulau Bali ini juga tidak sekedar aktifitas vulkanik biasa melainkan juga sebuah tanda bagi Penguasa negeri ini bahwa kekuasaan tidak pernah abadi, sekokoh apa pun penguasa negeri pada waktunya akan luruh sebagaimana lelehan lahar gunung merapi.

Karena itu, KI Sabdo Jagadraya menghimbau agar para Penguasa tidak memikirkan diri sendiri, tidak melakukan korupsi dan tindakan sewenang-wenang, serta tidak mengkhianati amanat dari rakyat. “Apabila kekuasaanya sudah lepas bisa jadi mereka akan sangat menderita dan sengkara,” ujarnya.

Terkait pertanda dari erupsi Gunung Agung ini Ki Sabdo mengingatkan bahwa sejarah meletusnya gunung tersebut pada tahun 1963 tmenjadi pertandang bagi Peguasa dan Rakyat pada saat itu. “Namun mereka tak mengetahui jika tanda alam itu merupakan isyarat ‘goro-goro’ nasioanl, yakni dua tahun kemudian pada tahun 1965 terjadi pembantain Dewan Jenderal, dan banyak rakyat yang dibunuh oleh PKI,” ungkap Ki Sabdo.

Nah, bagaimana dengan fenomena erupsi Gunung Gede di pulau Bali ini yang membuat ribuan rakyat mengungsi? Akankah juga menjadi  isyarat alam menjadi pertanda ‘goro-goro’ nasional?

“Ya kita lihat saja nanti seperti apa kenyataanya. Yang jelas pada dua tahun mendatang akan digelar pemilu, hajat besar negeri ini memilih pemimpin. Ini yang patut kita waspadai. Dan yang terpenting pejabat atau penguasa harus lebih prihatin dan peduli kepada rakyatnya,” tukas Ki Sabdo dengan mantap. (Mosair/Zen)

Comments are closed.