Khutbah Idul Fitri di Garut, Khotib Ajak Menangkal Hoax Dengan Tabayyun

GARUT JABAR CAKRAWALA.CO ,- Sebagai agama rahmatan Lil alamin, Islam menaruh perhatian cukup besar terhadap perkara hoax atau berita palsu (bohong).

Islam memandang bahwa berita hoax dapat merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat dan agama.

“Berita bohong dapat menggerogoti sendi-sendi keislaman, sehingga umat Islam hanyut dalam silang pendapat dan konflik yang sebenarnya semua itu karena ditopang hoax.” Demikian benang merah khubah Iedul Fitri, 1 Syawal 1439 H oleh KH. Muhammad Mychlas Rowie, di Lapang Sarana Olah Raha (SOR) Gelora Merdeka Kerkoff Garut, Jawa Barat Jum’at (15/6/2018).

KH. Mohammad Muchlas Rowie, adalah Anggota Bidang Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan PP Muhammadiyah membawakan Materi Khutbah ‘Puasa Menjaga Diri dari Hoax”.

Lebih jauh Khotib mencatat sejarah Islam berita bohong (hadits ifki) sebagai penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad.

“Itu terjadi saat terbunuhnya Khalifah Usman Bin Affan yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah besar). Saat itu umat Islam saling menebar berita bohong tentang pembunuhan Khalifah Usman untuk kepentingan politik sehingga terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam, yang bermuara pada peperangan antara Ali dan Muawiyah serta lahirnya sekte-sekte dalam Islam. Karena itu, tak aneh jika Sayyidina Ali buru-buru menasehati ummat Islam agar mereka jangan terjebak dalam kekacauan tersebut lantaran terprovokasi oleh berita bohong.”paparnya.

KH.Mohammad Muchlas juga mengulas bagaimana sejarah mencatat, seseorang bernama Abdullah bin Ubay bin As, sebagai penebar utama berita hoax di jaman nabi dan disebut raja Diraja hoax.

“Sampai-sampai Siti Aisyah r.a., istri Rasulullah terkena imbas berita hoax dirinya. Ia difitnah telah berselingkuh dengan Shafwan ibn Muathol. Fitnah tersebut dengan cepat beredar hingga di Madinah, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan muslimin. Kondisi itu tentu menyebar hingga mencapai satu bulan lamanya. Selama itu pula, tidak ada Wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW, hingga akhirnya Allah SWT mengabarkan berita gembira kepada Nabi Shalallahu alaihi wasallam yang menyatakan Aisyah terbebas dari segala tuduhan perselingkuhan dan fitnah itu. Yaang termaktub dalam Qur’an surat An-Nur ayat 11 s.dm 26.
Kisah ini memberi pelajaran penting, orang-orang munafik seperti Abdullah bin Ubay bin Salul, dari sejak Rasulullah sampai sekarang akan terus menebarkan fitnah dan kebencian kepada orang-orang mulia.”uarainya.

Islam, imbuh Mohammad Muchlas, memberikan solusi untuk menangkal berita hoax melalui konsep “tabayyun”.

“Tabayyun adalah akhlak mulia yang merupakan prinsip penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dan keharmonisan dalam pergaulan. Hadits-hadits Rasulullah SAW dapat diteliti kesahihannya antara lain karena para ulama menerapkan prinsip tabayyun. Begitu pula dalam kehidupan sosial masyarakat, seseorang akan selamat dari salah satu faham atau permusuhan bahkan pertumpahan darah antar sesamanya karena ia melakukan tabayyun dengan baik.”paparnya.

Di bagian akhir, Khotib mengingatkan, di era digital, tentu saja sikap ihsan menjadi hal penting. Di saat orang gemar menebar narasi-narasi kebencian sentimental, dan berita bohong, maka para pelaku puasa mestinya gemar menebar kebajikan dengan menyampaikan narasi-narasi alternatif untuk keadaban digital.

Sementara itu pelaksanaan shalat Iedul Fitri berlangsung Hidmat, ribuan ummat sekitar kecamatan Tarogong Kidul dan sekitarnya memenuhi lapangan. Termasuk hadir Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Garut DR. H. Suherman,SH, Msi.***JMB

Facebook Comments
%d bloggers like this: