Cakrawala News
Portal Berita Online
Banner Sky Kiri
Banner Sky Kanan

Kesuksesan Kopi Batu Lawang Ala Cicit Pencipta Lagu Hari Merdeka

CIANJUR CAKRAWALA.CO– Kopi Batu Lawang adalah sebuah nama lokasi desa yang namannya berhasil menggaung ditataran kopi nusantara hingga mancanegara. Namun di balik pamor namanya yang mulai kesohor, tak lepas dari sosok petani kopi, Habib Abdul Karim Al-Mutahar, yang mengaliri darah pejuang Indonesia di awal kemerdekaan.

Habib Abdul Karim Al-Mutahar, tumbuh besar di Desa Batu lawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Ia membangun sebuah kedai bambu lengkap dengan asrama penginapan sederhana. Lokasinya hanya berjarak lima kilometer dari taman Wisata Kota Bunga. Setiap akhir pekan lokasi ini padat didatangi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk sekedar melepas lelah ataupun memburu kopi Batu Lawang.

Kang Habib, begitu sapa akrabnya, merintis Kopi Batu Lawang dari nol. Awalnya ia dan rekan bisnisnya prihatin melihat petani yang hanya menjual kopi tanpa pengolahan dan perawatan yang maksimal. Sehingga hasil panen pun dijual ke daerah lain tanpa pernah mengikutsertakan pada acara perhelatan kopi.

“Niat saya hanya ingin kopi daerah ini menjadi kopi terbaik. Menghasilkan kopi yang terbaik. Sudah itu saja,” katanya membuka pembicaraan saat diwawancarai, Rabu 6 November November 2019.

Peralatan kopi seperti mesin penggiling, roasting, pengemasan hingga alat-alat penyedihan ada di Saung Batu Lawang. Semua proses dilakikan di sana oleh warga yang dibina langsung olehnya. Penasaran dengan rasa secangkir Kopi Batu Lawang, Habib pun langsung mengolah sendiri agar pelanggannya yang datang bisa menilai sendiri. Dengan piawai ia menyeduh kopi, dan langsung menyajikan dua jenis Robusta dan Arabika dalam cangkir. Rasa pahit khas robusta dan asam Arabika disuguhkan dengan apik.

“Di sini ada warga jadi ahlinya barista yang seduh kopi. Warga di sini bebas ngopi sepuasanya mana peenah diminta bayar,” katanya sambil tertawa.

Kang Habib berkisah penanaman kopi yang diakunya baru ditekuni tiga tahun silam. Selama itu dirinya belajar bersama teman-temanya hingga menghasilkan kopi terbaik. Mulai dari pemupukan, pemangkasan, pemetikan, hingga pengolaha biji kopi melalui berbagai proses. Dari hasil pertanian itu lah ia dan rekannya berhasil membangun kedai yang luas di kampungnya.

Menurut dia, kesuksesannya saat ini tak lantas berjalan mulus. Penipun bisnis hingga diklaim produknya oleh orang lain sudah pernah menerjangnya. Namun niatnya menyejahterakan pertani terus mengantarkan bisnis kopinya hingga berhasil mengolah produk sendiri. Selain pengolahan, kini sederet penghargaan fesitival kopi dan barista pernah diraihnya.

“Target saya bukan juara tapi bagaimana kopi sini bisa menjadi terbaik dan berharga dimata petani,” cetusnya.

Selain memiliki niat menyejahterakan petani, Habib Abdul Karim Al-Mutahar ini ternyata menyimpan visi memberdayakan anak yatim. Meski tak mau bercerita banyak jumlahnya, namun ia meyakini apa yang dilakulannya itu menjadi buah kesuksesannya saat ini. Bahkan dari karyawanya hasil penjualan saung Kopi Batu Lawang 30 persen dipergunakan untuk kepentingan yatim.

“Iya saya didik menjadi barista. Mereka di bina dan sekarang ditempatkan dihilir Kopi Batu Lawang di Bekasi, Jakarta. Mereka yang bantu saya,” kata Habib.

Bertani Bareng Gatot Nurmantyo Hingga Turunan Pencipta Lagi Hari Merdeka

Suksesnya bisnis kopi yang digeluti sampai di telinga tokoh bangsa Gatot Nurmantyo. Purnawirawan mantan Panglima TNI itu pun tertarik dan ingin mengembangkan bisnis kopi dengan Kang Habib ini. “Ya beliau bicara tentang pertanian kopi, beliau tertarik dan kita sama sama suka kopi. Kita sama-sama pencipta Kopi. Enggak bicara politik,” katanya sambil tertawa guyon.

Dari sang ayah, Habib Abdul Karim Al-Muthahar memiliki silsilah dari Bin Yahya Jafar Al Muthahar, Bin Jafar Al Muthahar, Bin Toha Al Muthahar, hingga Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar atau Haji Muthahar yang tak lain pencipta lagu 17 Agustus 1945 atau Hari Merdeka. Ia juga dijuluki bapak pendiri pasukan pengibar bendera merah putih. Sementara dari garis darah keturunan sang ibu adalah empat keturunan dari Sultan Hamid II, atau Syarif Abdul Hamid Alkadrie, atau yang dikenal pembuat gambar Garuda Pancasila.

“Iya memang dari abah saya Abdul kharim Almuthaahar, Bin Yahya, Bin Jafar, Jafar Bin Abdullah, Abdulah Bin Toha, Toha bin Salim,Salim bin Toha. Dari ibu. Syrifah Mastorah Alkadri Bin Alwi Alkadri, Alwi Alkadri Bin Muhamad Alkadri, Muhamad Bin Umar Alkadri, Umar Alkadri Bin Pangeran Ali Alkadri. Pangeran Ali Bin Sultan Abdurahman Alkadri Bin Kasim mempawah Kalimantan Barat,” katanya merinci. (Abu abizar/doni)