Cakrawala News
Portal Berita Online

Kebijakan Merdeka Belajar sebagai Upaya Pemerintah dalam Pembangunan Manusia

0 21

JAKARTA, Cakrawala.co – Dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Pembangunan Manusia, Abetnego Tarigan menyampaikan tentang Kebijakan Merdeka Belajar sebagai Upaya  Pemerintah dalam Pembangunan Manusia dengan judul, “Upaya Strategis KSP dalam  Menyelaraskan Visi Permbangunan Manusia Indonesia”, Rabu (12/08/2020). Kebijakan tersebut disampaikan dalam Seminar Daring ke-2 kolaborasi Indonesia Peace and Conflict Resolution Association (IPCRA) bersama Ikatan Alumni Universitas Pertahanan (IKA Unhan) bertajuk “Totalitas Menuju Indonesia Maju”.

Di dalam konteks pembangunan manusia ada tiga hal, pertama itu pendidikan, kesehatan, kemudian juga perlindungan sosial. Kali ini, Abetnego khusus  membicarakan tentang pendidikan. Dalam slogan Pemerintah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) terdapat 4 (empat) hal yangpenting yaitu pendidkan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, partisipasi publik, deregulasi dan debirokratisasi.

Pada Pendidikan Dasar dan Menengah, penerapan USBN (Ujian Skala Berbasis Nasional) 2020 dan juga Ujian Nasional 2020 dihapuskan. Kemudian juga ada revisi RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), kemudian Sistem Zonasi, Guru Penggerak dan Sekolah Penggerak.

ads bukopin

Terkait dengan pendidikan tinggi, kemudahan bagi PNT/S untuk membuka program studi baru, semua ini memang sedang berjalan. Mengganti sistem kredit semester menjadi program kerja luar kelas. Sistem akreditasi perguruan tinggi. Kemudian kemudahan PTN menjadi PTNBH (Perguruan Tinggi Berbadan Hukum).

Terkait Partisipasi Publik, peluang organisasi dan kelompok masyarakat sebagai organisasi penggerak dalam rangka Sekolah Penggerak untuk menigkatkan kualitas belajar siswa dengan pengembangan kemampuan guru dalam  mengajar.

Terakhir deregulasi dan debirokratisasi, Ini memang peru mendapat perhatian kita karena kalau kita lihat di dalam konteks otonomi dan fleksibilitas ini perlu diperluas terutama di dalam pemanfaatan BOS. Kemudian juga, dana langsung di sekolah nanti akan punya otonomi dan fleksibilitas di dalam pengelolaan-pengelolaan untuk itu. Sehingga memang otonomi sekolah sebagai institusi pendidikan itu tumbuh dan berkembang dan bagaimana bisa menyesuaikan dengan perkembangan pendidikan lapangan di dalam kegiatan belajar mengajar.

KSP tidak sedikit mendapat informasi, masukan dan juga dari berbagai diskusi-diskusi yang dilakukan bahwa perbedaan penafsiran indikator terhadap capaian pembelajaran. Dimana tantangan pada poin merdeka belajar di dalam USBN adalah penafsiran indikator atau standar kompetensi lulus yang berbeda.

Kemudian yang berikutnya yaitu persepsi masyarakat terhadap sekolah unggulan. Dengan adanya zonasi minimal 50% untuk tingkat SMP dan SMA,  secara otomatis dalam jangka panjang akan menyamaratakan kualitas pendidikan dan menghapus dominasi sekolah unggulan. Sekolah unggulan ini dalam tanda petik ya karena sebenarnya tidak ada dalam terminologi kita itu sekolah unggulan tetepi itu menjadi bahan yang selalu dikomunikasikan menjadi kesepakatan umum bahwa ‘x’ itu sekolah unggulan. Oleh sebab itu, sehingga kesenjangan-kesenjangan tadi itu bisa kita kurangi.

Indonesia diharap KSP harus harus kembali kepada Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara sebagai pendukung merdeka belajar. Yaitu, pertama, pendidikan itu di keluarga, pendidikan itu di sekolah dan di perguruan tinggi, pendidikan itu juga di masyarakat. Oleh sebab itu, sinergi diantara 3 (tiga) elemen penting ini menjadi sangat strategis-

“Mungkin sebelum pandemi COVID-19 kita sudah terjebak terlalu lama bahwa pendidikan itu ada disekolah. Kemudian ketika pandemi COVID-19 dimana anak-anak dan seluruh  peserta baik mahasiswa itu belajar di rumah banyak keluarga yang kesulitan melakukan pendampingan. Oleh sebab itu, ini mengingatkan kita bahwa sedari awal pendidikan itu dibutuhkan kerja sama di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat. Di dalam keluarga tentu bagaiamana ekosistem belajar itu bisa tumbuh dan berkembang di dalam keluarga” harap Abetnogo. (sdk)

Leave A Reply

Your email address will not be published.