Cakrawala News
Portal Berita Online

Jika Tio Pakusadewo Direhabilitasi, Apa yang Dilakukan?

5

Oleh Syaefurrahman Al-Banjary

Kabar terbaru aktor senior Tio Pakusadewo (54) dalam kasus narkoba saat ini adalah berkas perkaranya sedang dipertajam. Artinya polisi akan menjeratnya dengan Undang-undang pidana dengan menggunakan pasal 114 ayat (1) subsider pasal 112 ayat (1) lebih subsider pasal 127 ayat (1) huruf a UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Hukumannya maksimal 5 tahun penjara. Itu cara pertama.

Polisi juga bisa menggunakan cara kedua yaitu dengan merehabilitasi yang bersangkutan di Pusat Rehabilitasi Narkoba Milik Polri (BNN) di Lido Bogor. Cara ini biasa dilakukan polisi, karena polisi memiliki berbagai pertimbangan, dengan kewenangan diskresi (discretion) menghadapi beragam kasus narkoba, apalagi Tio ditangkap dalam posisi sebagai pemakai, bukan bandar atau penjual narkoba. Dalam konteks ini ia bisa tidak dipidana, melainkan direhabilitasi. Lihatlah kronologi penangkapannya, ia pasrah dan mengakui terus terang, bahkan ia menyerahkan barang bukti yang ada di jaketnya.

ads bukopin

Tio Pakusadewo ditangkap polisi di rumah kontrakannya di kawasan jalan Ampera Jakarta Selatan Selasa (19/12/2017). Polisi menyita barang bukti sabu 1,06 gram, seperangkat alat sabu, dan satu telepon genggam dari tangan Tio.

Dalam konferensi pers yang berlangsung di komplek Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Tio mengakui kesalahannya lantaran mengonsumsi sabu selama 10 tahun. Tio meminta masyarakat tak terjerat narkoba seperti yang dialaminya. Ia juga mengimbau kepada pengguna narkoba untuk segera berhenti mengonsumsi barang haram tersebut. Tio sendiri mengaku sudah pernah berhenti menggunakan narkoba. Tetapi ketika sakit pasca kecelakaan ketagihan narkoba kambuh lagi untuk mengurangi rasa sakit di kakinya. Memakainya juga di rumahnya sendiri.

Jika hasil assessment medis dan assessment sosianyayang diakukan oleh polisi memungkinkan direhabilitasi, maka bisa jadi nasibnya akan sama dengan artis atau aktor lainnya, seperti Roy Marten dan Ridho Roma. Apalagi jika Tio sudah berusaha lepas dari ketergantungan narkoba, namun karena sifat narkoba membuat kecanduan, sementara lingkungannya juga tidak mendukung, maka harus ada treatment khusus yang dilakukan polisi melalui program rehabilitasi pecandu narkoba.

Alasan rehabi

Tio Pakusadewo menggunakan tongkat karena masih sakit pasca kecelakan (foto: Liputan6.com).

litasi

Untuk menelusuri jaringannya, biasanya polisi melakukan kedua-duanya. Pengguna narkoba diajukan ke pengadilan, setelah ada putusan yang menghukumnya lalu  ditempatkan di panti rehabilitasi milik negara atau melalui rawat jalan. Bisa juga polisi langsung merehabilitasi, tergantung hasil assesment yang dilakukan sebelumnya. Lamanya rehabilitasi ditentukan oleh hasil assessment. Ada yang 6 bulan, ada yang setahun bahkan kalau kecanduan berat bisa sampai dua tahun menjalani rehabilitasi.

Adapun dasar polisi melakukan rehabilitasi adalah merujuk pada Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika, serta Peraturan Presiden (Perpres) No. 23 tahun 2010 tentang Rehabilitasi Sosial Untuk Pecandu Narkoba.

Jika kebijakan polisi maupun putusan pengadilan mengharuskan rehabilitasi, maka ada beberapa langkah yang dilakukan oleh Tio Pakusadewo.

Pertama Tio Pakusadewo akan menjalani rehabilitasi medis berupa detoksifikasi atau proses mengeluarkan racun narkoba yang bersarang di dalam tubuhnya. Dokter akan mempertimbangkan apakah perlu diberikan obat tertentu untuk mengurangi gejala sakau.

Kedua, Tio akan melakukan rehabilitasi nonmedis di tempat khusus yang dimiliki pemerintah. Misalnya yang berada di bawah BNN adalah di daerah Lido (Kampus Unitra), Baddoka (Makassar), dan Samarinda. Di tempat rehabilitasi ini, pecandu menjalani berbagai program diantaranya program therapeutic communities (TC), 12 dua belas langkah, pendekatan keagamaan, dan lain-lain.

Ketiga, adalah tahap bina lanjut (after care). Dalam tahap ini Tio akan diberikan kegiatan sesuai dengan minat dan bakat untuk mengisi kegiatan sehari-hari, agar Tio dapat kembali beraktifitas namun tetap berada di bawah pengawasan BNN.

Begitu pun, langkah ini hanyalah sebuah usaha untuk mengurangi meluasnya korban narkoba. Tak ada yang menjamin narkoba berhasil dihentikan peredarannya, dengan menyatakan pecandu narkoba adalah korban sehingga harus disembuhkan dan direhabilitasi. Berapa duit akan dikeluarkan jika para pecandu diobati pemerintah?

Evaluasi Kebijakan Rehabilitasi

Menurut data BNN, di Indonesia ada 5 juta pengguna narkoba. Sementara menurut Mendagri Tjahjo Kumolo seperti dilansir Merdeka.com (30/10/2017), pemerintah baru bisa menganggarkan Rp3 trilyun untuk merehabilitasi 300 orang pecandu narkoba pertahun. Pastinya untuk mengejar 5 juta pengguna narkoba, pemerintah tak akan sanggup membiayainya sendiri.

Karena itu yang perlu dipikirkan kembali adalah apa yang sering dikatakan Kepala BNN Budi Waseso, agar kebijakan rehabilitasi pengguna narkoba dievaluasi. Penghapusan rehabilitasi narkoba sejalan dengan semangat pemberantasan narkoba yang dicanangkan oleh presiden Joko Widodo.

Sekarang hanya ada dua pilihan: mendukung evaluasi kebijakan rehabilitasi, atau mendukung pintu kolusi dalam menentukan status rehabilitasi. Pastinya para bandar narkoba akan semakin senang jika ada keterlibatan pemerintah merehabilitasi pengguna narkoba. Wallahu a’lam ***

 

Artikel ini diambil dari https://c.uctalks.ucweb.com/detail/595b8b9a850a48dcab1058f56741f4c2?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut

Comments are closed.