Selama ini orang mungkin hanya tahu kalau Ustadz Abu Bakar Ba’asyir adalah terpidana kasus terorisme yang divonis 15 tahun dan sudah menjalani 7 tahun. Padahal dalam catatan media, ia termasuk orang yang berjasa dalam pembebasan dua jurnalis Metrotv ketika disandra kelompok Mujahidin di Irak tahun 2005. Keduanya adalah Meutya Hafidz dan Budiyanto.

Tidak berlebihan kiranya jika kita menengok ke belakang sebentar di hari-hari Ba’asyir menjalani hukuman dan pengobatannya karena sakit di usianya yang sudah 80 tahun.

Kamis siang (1/3/2018) Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menjalani pemeriksaan kesehatan karena pembengkakan kaki akibat gangguan katup pembuluh darah vena. Pemeriksaan kesehatan ini merupakan realisasi dari perintah Jokowi agar Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mendapat perawatan semestinya.

Meutya Hafid sekarang jadi anggota DPR (dok)

Sebelumnya Ketua MUI KH Ma’ruf Amin mengatakan bahwa ia memang pernah meminta kepada Presiden agar membantu perawatan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di rumah sakit pemerintah, mengingat sakitnya berat dan usianya sudah lanjut.

Bahkan Ma’ruf Amin berharap Presiden bisa memberikan grasi kepada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di hari-hari tuanya. Namun Presiden Joko Widodo Kamis siang (1/3/2018) seperti diberitakan di Tvone, menyatakan belum ada surat permohonan grasi dari keluarga Ba’asyir.

Saat ini Ustadz Abu bakar Ba’asyir ditahan di Lapas III Gunung Sindur Bogor. Sebelumnya ditahan di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Sebelum disangkut-pautkan dalam aksi terorisme, karena ada jamaahnya melakukan aksi teror, Abu Bakar Ba’asyir adalah Ketua MMI atau Majelis Mujahidin Indonesia. Posisi Abu Bakar Ba’asyir inilah yang mungkin didengar suaranya di luar negeri, khususnya Timur Tengah.

Buku catatan selama disandra (dok)

Maka, ketika dua jurnalis Metrotv disandra pasukan Mujahidin Irak dalam tugas liputannya tahun 2005 (dua tahun pasca agresi militer Amerika Serikat di negara itu), Abu Bakar Ba’asyir menyerukan kepada penyandra untuk membebaskan kedua jurnalis itu, karena keduanya hanya bertugas melakukan peliputan tentang apa yang terjadi di Irak. Suaranya didengar karena disiarkan melalui jaringan internasional.

Tidak lama setelah itu memang akhirnya kedua jurnalis Metrotv, Meutya dan Budiyanto) dibebaskan. Memang bukan hanya peran Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, tetapi kita tahu bahwa jalur informal biasanya lebih didengar daripada jalur formal, seperti yang terjadi di Moro Filipina Selatan.

Meutya Hafid sendiri dalam buku yang ditulisnya, berjudul “168 Jam dalam Sandera, Memoar Seorang Jurnalis Indonesia yang disandera di Irak” mengabadikan goresan pena Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di buku tersebut.

Media massa pun ikut mempublikasikan ucapan terima kasih pihak keluarga Meutya Hafid yang disampaikan ibundanya, Metty Hafid. Seperti disebut Tempo.co (22/2/2005), Metti Hafid, mengucapkan terima kasih kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, mantan presiden Abdurrahman Wahid, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Din Syamsuddin, Amien Rais, dan Jafar Umar Thalib, sebagai tokoh-tokoh yang telah berjasa bagi putrinya.

Kini Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam kondisi sakit di dalam tahanan. Keikhlasan perjuangannya akan menguatkan kedudukannya. (fur).