Cakrawala News
Portal Berita Online
ads riau 2

Ini Kata Hendardi Terkait Pemanggilan Komnas HAM Terhadap Pimpinan KPK dan BKN

0 209

JOGJAKARTA,CAKRAWALA.CO- Masalah pemanggilan yang dilakukan Komnas HAM terhadap pimpinan KPK dan BKN mendapatkan tanggapan beragam dari berbagai kalangan. Ada yang pro dfan ada pula yang kontra. Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi menyatakan pemanggilan Pimpinan KPK oleh Komnas HAM tidak tepat.

” Pemanggilan tersebut bukan saja tidak tepat tetapi juga berkesan mengada-ada karena seperti hanya terpancing irama genderang yg ditabuh 51 pegawai KPK yg tidak lulus Test Wawasan Kebangsaan yang jumlahnya kurang dari 5,4 % pegawai KPK,” ungkap Hendardi Ketua Badan Pengurus Setara Institute dalam keterangan persnya Kamis ( 10/6//2021).

Lebih lanjut Hendardi mengatakan TWK yang diselenggarakan KPK melalui vendor BKN dan beberapa instansi terkait yang profesional adalah semata urusan administrasi negara yang masuk dalam lingkup hukum tata negara (HTN). Dan hal ini merupakan perintah UU dalam rangka alih tugas pegawai KPK menjadi ASN.

” Jika ada penilaian miring atas hasil TWK ini mestinya diselesaikan melalui hukum administrasi negara, bukan wilayah hukum HAM, apalagi pidana,” ujarnya.

Hendardi menambahkan pemanggilan Komnas HAM terhadap pimpinan KPK dan BKN ingin mengesankan seolah ada aspek pelanggaran HAM yang terjadi. Semestinya Komnas HAM meneliti dan menjelaskan dahulu ruang lingkup dan materi dimana ada dugaan pelanggaran HAM yg terjadi sebelum memanggil pimpinan KPK dan BKN.

” Analoginya, misalkan ada mekanisme seleksi untuk pegawai Komnas HAM dan kemudian ada sebagian kecil yang tidak lulus apakah mereka bisa otomatis mengadu ke Komnas HAM dan langsung diterima dengan mengkategorisasi sebagai pelanggaran HAM. Dalam setiap pengaduan ke Komnas HAM diperlukan mekanisme penyaringan masalah dan prioritas yang memang benar-benar memiliki aspek pelanggaran HAM, agar Komnas HAM tidak dapat dengan mudah digunakan sebagai alat siapapun dengan interes apapun,” Kata Hendardi.

Komnas HAM, imbuh Hendcardi, harus tetap dijaga dari mandat utamanya sesuai UU untuk mengutamakan menyelesaikan dan menangani kasus-kasus pelanggaran HAM berat (gross violation of Human Rights).

“Dalam persoalan alih status menjadi ASN dimanapun, sangat wajar jika Pemerintah menetapkan kriteria-kriteria tertentu sesuai amanat UU. Karena untuk menjadi calon pegawai negeripun memerlukan syarat-syarat tertentu termasuk melalui sejumlah test antara lain tentang kebangsaan,” jelas Hendardi.

Hendardi menambahkan ini menjadi ironi ketika di berbagai instansi negara lainnya untuk menjadi calon ASN maupun menapaki jenjang kepangkatan harus melewati berbagai seleksi termasuk TWK, namun ada segelintir pegawai KPK yang tidak lulus (kurang dari 5,4%) yang menuntut diistimewakan.

” Dalam konteks seleksi ASN memang bisa saja pelanggaran terjadi misalnya seseorang tidak diluluskan (dicurangi/diskriminasi) atau karena tidak dipenuhi hak-haknya ketika diberhentikan dari pekerjaannya (pelanggaran HAM). Tapi tentu harus dibuktikan dengan data yang valid,” tegas Hendardi.

Hendardi berpendapat sudah waktunya polemik dan manuver politik pihak yg tidak lulus TWK ini dihentikan karena tidak produktif dan tersedia mekanisme hukum PTUN untuk memperjuangkan aspirasi mereka.

” Seyogyanya lembaga-lembaga seperti Komnas HAM dan lain – lain tidak mudah terjebak untuk terseret dalam kasus yang kendati cepat populer tapi bukan merupakan bagian mandatnya dan membuang-buang waktu,” pungkas Hendardi.( Okta/ Santosa )

Leave A Reply

Your email address will not be published.