Cakrawala News
Portal Berita Online

Ini Dia Kata-kata Bully yang Kerap Dipakai di Indonesia

0 163

KABUPATEN SUKABUMI JABAR CAKRAWALA.CO – Banyak hal yang membahayakan anak di ruang digital, sebenarnya hampir seperti halnya di dunia nyata. Jika di dunia nyata ketakutan orang tua adalah saat menyebrang jalan, bergaul dengan lingkungan yang salah, untuk dunia digital mungkin kasusnya berbeda namun dampaknya hampir sama.

Namun bukan berarti kita bisa langsung mencap dunia digital hanya menyodorkan hal negatif saja. Banyak hal positif didapat dari internet. Mudahnya saat ini anak-anak dipaksa melakukan sekolah formal lewat dunia maya. Di luar dari hal tersebut banyak ilmu juga yang bisa diperoleh secara nonformal di internet.

Tapi juga banyak hal yang perlu dikhawatirkan. Anak-anak bisa terpapar konten pornografi, perundungan siber juga hal-hal bermuatan kekerasan, ujar Fiqri Hassan Relawan TIK Kab Sukabumi ketika berbicara sebagai narasumber dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (22/9/2021) pagi.

Fiqri pun menjelaskan ada beberapa aspek keselamatan anak di media digital seperti cyberbully, pencurian data, pelecehan online, pornografi, tontonan atau game dengan kekerasan, hingga kecanduan. Namun kali ini kita akan fokus pada cyberbullying.

Perploncoan, penghinaan, perundungan kini bergeser ke ruang digital. Mulai dari menyebarkan rumor tidak sedap, foto dan video yang mengundang rasa malu, pelecehan seksual lewat bahasa yang tidak senonoh, menggunakan ras, agama dan etniks sebagai gurauan hinggal penghinaan isu orientasi seksual. Perundungan terjadi 74% di media sosial, 51% smartphone, 46% online chat room dan 44% lewat website, data diambil dari sumber Femina.

Penyebaran perundungan ini sangat luas. Bisa ditemukan hampir di semua jenis platform ruang digital, jelas Fiqri.

Yang laing kentara di dunia digital adalah perundungan lewat kata-kata. Ini dia kata yang digunakan untuk mem-bully di Indonesia:

Kata yang terkait binatang seperti bangsat, anjing, babi, monyet, kunyuk dan sebagainya.
Kata yang terkait kebodohan atau sifat seperti goblok, idiot, geblek, gila, tolol, rasap dan lainnya.
Kata yang terkait ketidakmampuan seseorang seperti buta, budek, jelek dan sebagianya.
Kata secara umum seperti setan, iblis, keparat, gembel, brengsek dan sebagainya.
Kata yang terkait kelakuan seperti bejat, sompral dan sebagainya.

Karenanya orang tua punya kerja eksta untuk terus mendampingi anak. Batasi waktu bermain gadget, orang tua harus mengerti situs apa saja yang anak akses, orang tua harus tahu website atau aplikasi edukasi, dampingin anak saat bermain di ruang digital, gunakan perangkat digital bersama, hingga memonitor aktivitas histori pemakaian anak. Apabila anak sudah kecanduan, orang tua harus mengajak anak beraktivitas dan bermain langsung. Sehingga interaksi orang tua semakin erat dan anak tidak terlalu fokus ke internet.

“Bersama-sama kita jaga keamanan digital anak, agar tercipta ruang digital yang lebih aman, edukatif dan produktif, tutupnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (22/9/2021) pagi juga menghadirkan pembicara Dera Firmansyah (Founder & Podcaster Teman Tidur), Tim Hendrawan (Creative Director), Rabindra Soewardana (Directur OZ Radio Bali), dan Inayah Chairunnisa sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.