Cakrawala News
Portal Berita Online

Ini Catatan Polisi Tentang Kekejaman Ali Kalora di Poso

0 358

PALU CAKRAWALA.CO -Sepak terjang Ali Ahmad alias Ali Kalora akhirnya berhasil dihentikan Satuan tugas Operasi (Satgas Ops) Madago Raya di Desa Astina Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Sabtu pekan lalu (18/9/2021).

Keberadaan pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso dan para pengikutnya ini sangat meresahkan masyarakat petani khususnya di wilayah Kabupaten Poso, Parigi Moutong dan Sigi.

“Ekonomi warga Poso menurun karena Aksi teror Kelompok MIT” demikian diungkapkan Yasin Mangun, Wakil Bupati Poso usai rapat dengar pendapat dengan DPRD Provinsi Sulawesi Tengah terkait penanganan kasus terorisme di Poso pada tanggal 2 Juni 2021, (dikutip dari SKH Sulteng Raya, 4/6/2021).

Saat ini pemimpin teroris Poso Ali Ahmad alias Ali Kalora telah tewas bersama anak buahnya Jaka Ramadhan alias Ikrima alias Rama dalam baku tembak dengan Satgas Madago Raya.

Berikut catatan kekejaman dan fakta tentang Ali Ahmad alias Ali Kalora selama memimpin MIT Poso.

Nama asli Ali Kalora adalah Ali Ahmad, nama Kalora disematkan karena pernah tinggal di Desa Kalora Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso. Ali Kalora lahir tanggal 30 Mei 1981 di Gowa Sulawesi Selatan.

Ia menjadi pemimpin kelompok teroris MIT Poso pada 2016 silam, pasca tewasnya pimpinan sebelumnya yaitu Santoso.

Sebelumnya, Ali Kalora memimpin kelompok teroris MIT bersama Basri, namun setelah Basri ditangkap Pasukan Satgas Operasi Tinombala, ia kemudian menjadi pemimpin tunggal dan menjadi target utama Operasi Tinombala.

Ali Kalora disebut-sebut sebagai teroris yang ahli merakit bom lontong dan memiliki kemampuan bertahan hidup dalam pelarian.

Ali Kalora kerap menyamar sebagai warga biasa dan menjadi petani untuk menghindar dari kejaran pasukan pemburu teroris.

Pasukan Satgas Operasi Tinombala hingga berganti nama Satgas Operasi Madago Raya, selalu meminta agar Ali Kalora menyerahkan diri namun ia tidak mengindahkannya.

Sementara itu, Wakasatgas Humas Ops Madago Raya AKBP Bronto Budiyono menjelaskan, berdasarkan catatan Satgas Madago Raya setidaknya ada 10 kasus pembunuhan dan pembakaran yang menjadi bukti kekejaman Ali Kalora dkk, seperti disampaikan Bronto saat pers rilis Jum’at (24/9/2021).

Lebih lengkap Bronto menerangkan, 10 kasus yang dilakukan Ali Kalora mulai tahun 2017 hingga 2021 antara lain:

1. Kasus pembunuhan di Desa Parigi Mpu Kabupaten Parigi Moutong pada 3 Agustus 2017 dengan korban bernama Simon Suju.

2. Kasus pembunuhan di desa Salubanga Kecamatan Sausu Kabupaten Parigi Moutong 30 Desember 2018 korban Ronal Batau alias Anang.

3. Pembunuhan di Pegunungan Penghulu Kanan Desa Berdikari Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi 23 Mei 2019, korban Njue.

4. Pembunuhan di Pegunungan batu tiga desa Tindaki Kecamatan Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong pada 25 Juli 2019, korban Tamar dan Patte.

5. Pembunuhan di perkebunan dusun sipatuo desa Kilo Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso, 7 April 2020, korban Rattapo alias Daeng Tapo.

6. Pembunuhan di pegunungan Km 9 desa Kawende Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso tanggal 19 April 2020, korban Ambo Ajeng alias Papa Angga.

7. Pembunuhan di perkebunan Tahiti desa Sangginora Kecamatan Poso Pesisir Selatan Kabupaten Poso 9 Agustus 2020, korban Agus Balumba alias Papa Sela.

8. Penemuan mayat di Jalan trans Poso Napu desa Maholo Kecamatan Lore Timur Kabupaten Poso tanggal 14 Agustus 2020, korban Eliyas Lapulalang.

9. Pembunuhan dan pembakaran di dusun V trans lenovu desa Lembantongoa Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi pada 27 November 2020, korban 4 orang yaitu Nakka, Ferdy alias Pedi, Pinu dan Yasa

10. Pembunuhan di pegunungan Patiroa Desa Kalimago Kecamatan Lore timur Kabupaten Poso, 11 Mei 2021, korban 4 orang atas nama Lukas Lese Puyu, Paulus Papa, Simson Susa, Marten Solong.

Bronto menekankan, data kejahatan atau kekejaman diluar perikemanusiaan yang dilakukan Ali Kalora perlu dipublish agar masyarakat memahami perbuatan yang telah dilakukannya.

Berdasarkan fakta-fakta di atas dihimbau kepada masyarakat untuk tidak memberikan rasa simpati sekecil apapun terhadap kelompok ini (kelompok teroris Poso), karena mereka bukan pahlawan tetapi justru kebagai kelompok teroris yang selalu menyebar ketakutan.

“Jangan berikan bantuan logistik/makanan, informasi dan laporkan kepada Polri atau TNI apabila ada orang yang mencurigakan yang mempunyai ciri-ciri fisik seperti gambar DPO yang telah disebar oleh Satgas Madagoraya,” himbaunya.

“DPO saat ini tersisa 4 orang dan tim Satgas Madago Raya terus mengintensifkan pencarian. Mohon doa dan dukungan masyarakat Sulteng agar tugas dapat segera diselesaikan,” pungkas Bronto, Wakasatgas Humas Madago Raya. (NN95/ek)

Leave A Reply

Your email address will not be published.