Cakrawala News
Portal Berita Online

Idah Syahidah Perjuangkan Prof Aloei Saboe Jadi Pahlawan Nasional

0 19

CAKRAWALA GORONTALO – Anggota Komisi VIII DPR – RI Idah Syahidah terus memperjuangkan Prof Aloe Saboe agar dinobatkan menjadi pahlawan nasional.

Hal inilah yang menjadi salah satu impian Idah, saat ini. Dirinya menginginkan jika Prof. dr. Aloei Saboe yang merupakan salah satu tokoh pejuang kemerdekaan berdarah Gorontalo tersebut masuk sebagai daftar Pahlawan Nasional.

Itu disampaikannya ketika menjadi pembicara dalam webinar nasional dengan tema Kiprah kepahlawanan Seorang dokter Pejuang dalam rangka pengusulan Prof. dr. Aloei Saboe sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia, Minggu (16/07/2020).

ads bukopin

“Jika dilihat dari persyaratan khusus penetapan gelar sebagai pahlawan nasioanal yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 Pasal 25 dan 26, Prof. dr. Aloei Saboe sudah memenuhi kriteria tersebut,” ujarnya.

Diketahui Prof. dr. Aloei Saboe lahir di Gorontalo pada 11 November 1911 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 31 Agustus 1987 pada umur 75 tahun. Dirinya  merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia di Gorontalo bersama dengan Nani Wartabone dan Kusno Danupoyo.

Saat ini namanya diabadikan menjadi salah satu nama Rumah Sakit di Provinsi Gorontalo yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Aloei Saboe. Menurut Idah Syahidah, Prof. dr. Aloei Saboe bukan hanya seorang pejuang, akan tetapi juga sebagai politisi dan sebagai pelayan masyarakat.

Idah menjelaskan alasannya mengatakan Prof. dr. Aloei Saboe memiliki jiwa pejuang karena sudah terlibat langsung memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan mengangkat senjata dan membangun pergerakan pemuda.

Dalam sejarah 23 Januari 1942, Aloe Saboe bersama dengan Nani Wartabone mengambil alih pemerintahan Hindia Belanda di Gorontalo, yang kemudian membentuk pemerintah daerah di Gorontalo sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Aloe Saboe juga memimpin laskar Gorontalo untuk melawan NICA dan tentara sekutu yang di pimpin Mayor Wilson datang untuk menduduki Gorontalo kembali. Bahkan, semangatnya dalam memperjuangkan kemerdekaan membawa dirinya merasakan kerasnya jeruji besi Belanda di berbagai wilayah Nusantara sejak tahun 1943.

“Hingga terjadinya pemberontakan PRRI/PERMESTA saja, beliau ikut terlibat dalam penumpasan pemberontakan tersebut. Hingga akhir hayatnya beliau tidak pernah menyerah pada musuh selama dalam perjuangan,” ucap Idah.

Alasan lain Idah mengatakan  Prof. dr. Aloei Saboe memiliki jiwa politisi karena sejak zaman kemerdekaan hingga Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, Aloe Saboe sering terjun langsung ke dunia pergerakan politik.

Tercatat pada tahun 1926, ia pernah menjadi anggota Jong Islamieten Bond dan juga sebagai Anggota Indonesia Muda pada tahun 1930. Setelah kemerdekaan RI di Proklamasikan, ia menegaskan komitmennya dalam karir politik dengan menjadi Leader pembubaran parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) pada masa itu karena tidak sesuai dengan konstitusi.

Selain itu, Prof. dr. Aloei Saboe juga pernah menjadi anggota Badan Konstituante RI pada tahun 1955 mewakili rakyat Sulawesi Utara dan Tengah.

“Itulah sedikit kiprah beliau dalam perjalanan hidupnya, yang menjadi alasan saya mengatakan beliau memiliki jiwa politisi,” ungkapnya.

Idah juga menyampaikan alasannya mengatakan Prof. dr. Aloei Saboe memiliki jiwa sebagai pelayan masyarakat karena profesinya sebagai seorang dokter. Prof. dr. Aloei Saboe melakukan pengabdiannya kepada masyarakat kurang lebih 30 tahun. Secara rutin, dirinya mengobati pasien dari ujung utara sampai selatan Gorontalo.

Bahkan, ketika Gorontalo diserang wabah lepra dan kusta, Prof. Aloei terus berupaya mengobati warga yang terkena penyakit tersebut. Hingga akhirnya penyakit tersebut menjadi keahliannya.

“Bahkan, kala itu dirinya berhasil mendirikan Rumah Sakit Kusta di Desa Toto Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo yang mampu menampung sekitar 300 pasien,” ujarnya.

Tidak hanya itu, menurut Idah Syahidah, jasa Prof Aloei Saboe sangat banyak apalagi dalam dunia kesehatan. Misalnya juga pernah melahirkan gagasan atau karya besar yang bermanfaat dan menunjang pembangunan bangsa dan negara yakni penulisan buku “Hikmah Kesehatan Sholat”. Buku ini kemudian menjadi rujukan para dokter dan pemerhati kesehatan secara islami.

Keberhasilannya dalam menangani wabah lepra yang pernah melanda Indonesia sampai saat ini juga masih menjadi rujukan bidang kesehatan. Prof Aleoi juga menjadi orang yang paling berjasal di dunia kedokteran gigi dengan menjadi pendiri Fakultas Kedokteran Gigi di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, hingga kemudian menjadi Guru Besar Kesehatan Masyarakat UNPAD.

“Ini semua dapat menjadi penguat betapa beliau memang layak untuk dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional dari Gorontalo,” tegasnya.

Idah menyampaikan berbagai penghargaan yang didapati Prof Dr. Aloei Saboe, seperti Penegak dan Satya lencana Karya Satya Tingkat II. Atas jasa-jasa itu, namanya kemudian diabadikan sebagai nama Rumah Sakit di Kota Gorontalo dan di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Srrikandi Golkar itu juga menambahkan konsistensi jiwa dan semangat  kebangsaan yang tinggi telah terlihat hingga Prof Aloei diakui dan mendapatkan berbagai penghargaan bintang.

“Menurut saya sudah sangat tepat jika beliau dinobatkan sebagai pahlawan nasional.Sekarang, tinggal negara mengakui dan menghormatinya sebagai Pahlawan Nasional dari Gorontalo, agar menjadi panutan dan suritauladan bagi generasi muda Indonesia dan khususnya di Provinsi Gorontalo,” tandas Idah Syahidah.

(Aden)

Leave A Reply

Your email address will not be published.