HMI Komisariat Al Batutah Cabang Surabaya Amati Deradikalisasi yang Terjadi di Tanah Air

SIDOARJO, CAKRAWALA.CO – HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Komisariat Albatutah Cabang Surabaya mengadakan kajian rutin dengan tema, “Membaca Deradikalisasi Secara Radikal: Redefinisi Rekonstektualisaasi Gerakan Sosial Organisasi Masyarakat”. 

Dilaksanakan di Kedai One di daerah Candi-Sidoarjo, yang juga turut mengundang beberapa organisasi mahasiswa : BEM, Himaprodi (Himpunan Mahasiswa Prodi, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), serta PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Kegiatan tersebut adalah hasil dari kegalauan para kader karena melihat kemanusiaan yang kian hilang dari masyarakat modern. 

Terbukti dari banyaknya kasus terorisme di berbagai dunia, paling baru adalah pembantaian yang dilakukan kelompok berideologi White Superior di Selandia Baru yang telah menewaskan lebih dari 40 muslim di sana.

Diskusi dipantik oleh dua pemateri, yakni Nyong Eka Teguh Imam, dan Kumara Adji Kusuma, serta tugas Dewa selaku moderator yang diskusinya berlangsung selama 3 jam.

Tiap pemateri memaparkan sesuai dengan bidang masing-masing. Kumara Adji menjelaskan tentang kesejarahan dari radikalisme.

Menurutnya, radikalisme adalah buah dari konsep sistem ekonomi kapitalisme yang berprinsip untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang sedikit-dikitnya.

Dan melahirkan eksploitasi oleh para kaum borjouis (agamawan, penguasa dan para pemilik alat produksi) terhadapat kaum proletar (buruh dan petani) secara besar-besaran.

“Radikalisme yang melahirkan terorisme ialah dampak traumatis dari modernisme dan kesenjangan ekonomi kapitalisme,” tuturnya. Sabtu, (23/3/2019).

Senada dengan Kumara Adji, Nyong Eka menyatakan bahwa,terorisme merupakan dampak dari ketidakpuasan terhadap sistem ekonomi dan politik, sistem politik yang eksploitatif terhadaap kaum bawah.

“Terorisme merupakan gerakan radikal yang meneror dengan memiliki ideological based, yaitu sebuah gerakan yang bertujuan untuk meneror dengan menggunakan ideologi sebagai dalaih mereka untuk melegitimasi gerakan meraka tersebut. 

Dalih-dalih keagamaan dan keunggulan rasial merupakan dalih-dalih yang paling sering dipakai,” bebernya.

Salah seorang peserta diskusi, bernama Fajar yang sekarang sedang menempuh semester 4 di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, memberikan pendapat bahwa, saat dia mengikuti Maiyaahan Padhang Bulan di Jombang, Jawa Timur, disampaikan di sana ada seorang Belanda yang melakukan penelitian tentang majelis Maiyah yang digawangi oleh Emha Ainun Najib. 

Dalam desertasinya menyatakan bahwa saat di majelis Maiyah, tidak ada orang yang bertugas untuk menjaga para jamaah, melainkan antar jamaah majelis itu saling menjaga satu sama lain. 

Di satu sisi ia menjaga dirinya sendiri dan untuk orang-orang yang ada di sampingnya, di sisi lain ia juga dijaga oleh orang yang ada di sampingnya.

Menurut Fajar, hal seperti inilah yang perlu untuk diterapkan di Indonesia, di mana ketika semua orang menjadi penjaga untuk dirinya sendiri dan menjaga juga memberi rasa aman untuk orang-orang yang berada di sekitarnya.

“Saya kira tujuan dari Islam sendiri adalah memberikan rasa aman, bukan berebut menjadi paling benar sendiri di antara yang lain. Dan ekstrimisme menurut saya dimulai dari sikap-sikap fanatis tersebut,” pungkasnya.

Dalam kajian tersebut ditutup dengan kesimpulan bahwa, gerakan yang membawa kekerasan itu bukan hanya soal kesempitan berfikir atas ideologi dan agamanya, namun juga merupakan dampak yang tercipta dari sistem kapitalisme yang sedang berlangsung pada saaat ini. (ari)

 

Facebook Comments