Cakrawala News
Portal Berita Online

Gus Peyek “NU Tidak Harus PKB, Warga Nahdliyin Tak perlu khawatir semua Calon Bupati Sidoarjo adalah NU”

0 3,552

SIDOARJO, CAKRAWALA.CO – Jelang kontestasi Pilkada serentak 2020. suara Nahdatul Ulama (NU) selalu memikat para paslon untuk dapat mendulang kemenangan. Tak sedikit pula yang meyakinkan untuk semua para calon sebagai warga Nahdiyin demi mendapatkan simpati.

Pada pilkada Sidoarjo misalnya kandidat calon bupati dan wakil bupati tidak bisa dipungkiri semua adalah warga Nahdiyin. Sidoarjo yang merupakan basis Nahdatul Ulama menjadi daya tarik tersendiri.

Gus Peyek yang merupakan warga NU berpesan jika semua kandidat adalah NU bagi warga NU tak usah berlebihan untuk khawatir.

ads bukopin

“Semua kandidat calon bupati dan wakil bupati di Sidoarjo adalah NU, mereka sangat mencintai NU, jadi warga nahdiyin tak usah takut berlebihan nantinya Sidoarjo dipimpin oleh bukan warga Nahdiyin” Ujar ulama kultural saat dikonfirmasi melalui telepon Minggu 20 September 2020.

Gus Peyek menambahkan, Dari ketiga calon bupati dan wakil bupati sidoarjo, pihaknya menegaskan bahwa menurutnya NU tidak harus dari PKB tapi kader NU itu dimana – mana. Semua bisa menjadi Bupati dan wakil bupati selagi mempunyai integritas dan kemampuan untuk memajukan kota delta ini.

“Karena semua kandidat adalah warga NU, jadi, semua berhak menjadi pemimpin di kabupaten Sidoarjo, dan tak harus dari PKB yang penting adalah warga NU dan punya Integritas serta kemampuan kepimpinan “. Tegas Gus Peyek.

Ia juga menghimbau kepada warga dan jamaahnya tak perlu takut berlebihan jika nantinya Bupati dan Wakil Bupati bukan dari PKB, tapi mereka adalah warga NU dan mencintai NU.

“Semua jama’ah dan warga NU tak perlu takut yang berlebihan jika nantinya Bupati dan Wabub bukan dari PKB karena mereka adalah NU dan mencintai NU” “pungkasnya.

Untuk diketahui, NU (Nadlatul Ulama) berperan penting dalam berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam ranah politik, NU pernah menjadi sebuah partai besar yang disegani. Akhirnya ia memilih keluar dari lingkaran percaturan politik praktis melalui khittah NU 1926 yang dipuruskan melalui musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur pada tanggal 13-16 Robi’ul Awwal 1404 H 18-21 Desember 1983 M. Sejak saat itu NU dan politik terpisah secara praktis. (Win)

Leave A Reply

Your email address will not be published.