Cakrawala News
Portal Berita Online

Gorontalo Utara Dan Pengembangan Kawasan Indonesia Bagian Utara

Oleh: Dr. Muh. Amier Archam 

Ekonom Fakultas Ekonomi UNG 

Small Minds discuss people, Average Minds discuss events, Great Minds discuss ideas”. (Eleanor Roosevelt, Presiden USA ke 26)

Para kaum neo-klasik percaya bahwa kemajuan ekonomi suatu wilayah (negara) sangat ditentukan dari akumulasi modal bagi wilayah tersebut, dengan sendirinya disitu memerlukan resources yang besar sebagai input faktor produksi. Sementara wilayah yang minim resources cenderung akan tertinggal dibandingkan dengan wilayah yang kaya. Pandangan ini tidaklah keliru, teorinya demikian dan temuan hasil empiris juga menunjukkan gejala yang sama. Namun demikian pandangan ini mulai secara perlahan bergeser, karena pada kenyataannya terdapat beberapa wilayah (negara) yang miskin resources namun bisa meraih kesejahteraan yang lebih baik, dan sebaliknya tidak sedikit wilayah yang kaya akan resources namun rakyatnya tetap miskin.

 

Disini menjadi jelas bahwa sumber daya yang berasal dari alam tidak cukup, namun dibutuhkan faktor produksi lain berupa sumber daya manusia dan given teknologi untuk mencapai kemajuan. Malahan saat ini kekuatan sumber daya manusia yang dilandasi inovasi menjadi pelesat kemajuan, jadi inovasi menjadi kata kunci. Sekalipun dalam konteks sosial ekonomi ada hal yang tidak bisa diabaikan untuk menjadi komplementer kemajuan ekonomi dan kawasan. Dorodjatun Kuntjoro-jakti (2012) menyebutkan bahwa ada tiga unsur besar penentu nasib bangsa-bangsa kedepan, yakni geografi, demografi dan sejarah bangsa untuk bisa maju. Hanya saja menurut hemat saya persoalan sejarah asumsinya cenderung lemah secara teoritis dan kurang argumentatif, meskipun sejarah bisa menjadi cermin untuk dijadikan spirit kemajuan. Lain halnya faktor letak geografi dan demografi merupakan faktor determinan pembangunan ekonomi. Singapura sebagai negara kecil sudah dapat membuktikan dirinya sebagai negara maju yang bermodalkan letak geografis strategis dalam percaturan ekonomi global di kawasan Asia, meski tanpa sumber daya alam. Sementara China dapat membuktikan betapa strategisnya arti pembangunan yang dilandaskan faktor penduduk dan sangat mengandalkan pasar domestik sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi (Arham, 2013).

 

Dalam konteks ini  Singapura bisa menjadi rujukan untuk mengembangkan kawasan di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia secara spesifik Gorontalo, tentu tidak sama persis. Gorontalo Utara bukan hanya letak geografis, tetapi juga geografis alamnya memiliki potensi besar untuk bisa lebih cepat maju, ia berhadapan langsung dengan batas negara Asia lainnya sekaligus diapit dua provinsi (Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Disamping  bisa  memiliki akses yang paling dekat dengan Kalimantan Utara, juga berada diujung Selat Makassar dimana selat ini memiliki potensi arus pelayaran tersibuk kedepan sekaligus garis poros maritim di Indonesia bagian tengah untuk akses ke Asia Tenggara dan Timur. Secara historis Gorontalo Utara sudah lama memiliki sistem pemerintahan (Kewedanaan Kwandang), dan Attinggola merupakan salah satu wilayah di Gorontalo Utara memiliki akar kuat kebudayaan dan bagian dari limo lo pohala’a (lima bersaudara dalam lokus bumi dan akar kebudayaan yang sama).

 

Orang-orang Gorontalo Utara 50 tahun (Dokumen Resolusi Rakyat ex Kewedanaan Kwandang, Hasil Musyawarah Daerah Tanggal 15 – 17  Desember 1966) yang lampau sudah memiliki pandangan tentang arti pentingnya geostrategi pembangunan. Sekalipun secara demografi belum terlalu mendukung, tetapi secara geografis sangat strategis untuk dibangun. Agar bisa dilakukan percepatan pembangunan disegala bidang, pilihannya menjadi daerah otonom sendiri dianggap sebagai solusi. Sejalan dengan itu dimaksudkan untuk memudahkan kontrol dan rentang kendali pemerintahan dengan mengacu pada tiga unsur kekuatan ekonomi, diantaranya 1) kekuatan ekonomi riil, 2) Kekuatan ekonomi potensial yang belum terolah dan 3) Kekuatan ekonomi potensial yang memerlukan survey dan riset. Jika sebelumnya pusat pemerintahan berada di Limboto, dengan berdiri sendiri para pencetus resolusi memiliki keyakinan Gorontalo Utara akan lebih cepat maju, secara simultan mengurangi disparitas yang terjadi. Usaha ini tidak saja membangun Gorontalo, tetapi percepatan pembangunan wilayah pesisir utara Gorontalo sekaligus melakukan pembenahan pintu utara Indonesia.

 

Maka disini menjadi jelas bahwa orang-orang Gorontalo Utara memiliki keinginan yang kuat untuk membangun dan memperbaiki pintu utara Indonesia bagian tengah sejak tahun 1966. Inilah yang disebut oleh RooseveltGreat Minds Discuss Ideas— (pikiran besar membicarakan gagasan). Gagasan membangun pintu utara merupakan cara pandang orang-orang yang memiliki visi tentang masa depan Indonesia, tidak secara intrinsik semata sekedar ingin mendirikan daerah otonom untuk membagi jatah kekuasaan. Semenjak Indonesia merdeka terlebih pada masa Orde Baru, wilayah-wilayah perbatasan dan –Pintu Indonesia—diabaikan, sarana fisik dan infrastruktur sangat terbatas. Pada akhirnya pembangunan menjadi terkonsentrasi di wilayah Pulau Jawa sehingga menciptakan disparitas hingga sekarang sulit untuk dikoreksi. Alhasil pada umumnya wilayah-wilayah perbatasan sangat ketinggalan, sementara negara tetangga justru halaman perbatasan dibangun dengan baik. Dampaknya kemudian wilayah perbatasan Indonesia mengalami backwash effect terhadap negara lain, terutama dalam sistem perdagangan internasional.

 

Sistem pemerintahan yang terpusat selama Orde Baru mengakibatkan ruang gerak politik sangat sempit, gagasan-gagasan besar hanya sekedar menjadi wacana belaka, Gorontalo Utara kala itu tidak bisa diwujudkan menjadi daerah otonom sendiri. Empat dekade kemudian tepatnya tanggal 27 – 28 Desember 2006 rakyat Gorontalo Utara kembali menciptakan resolusi kedua. Semangatnya sama dengan resolusi pertama di tahun 1966 tidak sekedar keinginan dan menuntut berdirinya kabupaten semata tetapi ada landasan gagasan yang menjadi acuan. Menurut hemat saya resolusi pantura tahun 2006 sesungguhnya tidak lagi bagian dari Great Minds Discuss Ideas, tetapi masuk kategori Average Minds Discuss Events. Resolusi kedua merupakan kelanjutan dari resolusi pertama, tantangan politiknya tidak terlalu kuat seperti pada masa lampau, karena pemekaran daerah setelah Orde  Baru bukan lagi sesuatu yang ”tabu”. Karena itu sesungguhnya paling layak diberikan apresiasi mengenai gagasan pembangunan Gorontalo dibelahan utara dan Indonesia secara umum adalah pencetus resolusi pantura pertama, sekalipun mereka belum bisa mewujudkannya. Mereka ini apa yang disebut oleh Roosevelt ”….Kami selalu tidak dapat membangun masa depan bagi generasi muda kita, tetapi kita dapat membangun generasi muda kita untuk masa depan….”.

 

Para pencetus Resolusi Pantura Ke II tidak dapat dinafikkan merupakan generasi yang dibangun 40 tahun yang lampau. Setidaknya mereka ini memiliki gagasan dan konsep untuk membangun ekonomi Gorontalo Utara, ini tercermin dari dokumen yang mereka desain untuk bidang ekonomi dengan penguatan ekonomi kerakyatan dan pengembangan wilayah berbasis kawasan untuk menggerakkan pembangunan Gorontalo Utara.

 

Gorontalo Utara Wajah Masa Depan Ekonomi Gorontalo

 

Konsep pembangunan ekonomi kedepan adalah–blue economy–, laut menjadi sumber kesejahteraan masyarakat Indonesia, karena itu gagasan memperkuat poros maritim wilayah pesisir akan mendapatkan gain lebih besar. Daerah pesisir tentu meraih limpahan bilamana konsep ini diimplementasikan dengan baik, dan di Gorontalo yang bisa memanfaatkan peluang ini adalah Kabupaten Gorontalo Utara. Sekalipun di bagian selatan Gorontalo ada kawasan potensi perikanan dan kelautan (Teluk Tomini) namun kurang strategis secara geografis dibandingkan kawasan utara Gorontalo. Wilayah ex Kewedanaan Kwandang kini menjadi Kabupaten Gorontalo Utara memiliki 11 Kecamatan dimana seluruh kecamatan memiliki pesisir dan laut.

 

Dengan sendirinya Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) memiliki sumberdaya perikanan sangat potensial untuk dikembangkan, baik untuk penangkapan maupun budidaya. Namun saat ini walau potensi sektor perikanan di Gorut cukup besar, belum memberikan jaminan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dan nelayan. Sebagian besar mereka masih sangat rentan terhadap kemiskinan dan ketertinggalan. Nilai tambah yang dihasilkan dari sektor perikanan masih sedikit, padahal ikan memiliki industri turunan yang cukup luas. Selain sektor perikanan hasil laut lainnya serta pariwisata pesisir dan pulau tak kalah menariknya untuk dikembangkan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi Gorontalo Utara.

 

Keanekaragaman hasil laut serta pulau-pulau yang eksotik menjadi modal besar bagi Gorontalo Utara untuk dapat berkembang menjadi kawasan ekonomi cepat tumbuh di Gorontalo. Potensi itu tidak bisa dibiarkan tumbuh secara alamiah, diperlukan re-enginering untuk merebut pasar dari berbagai macam aspek.  Gorontalo Utara tidak hanya bicara perikanan dan hasil laut, wilayah ini diapit oleh dua provinsi dimana daerah tetangganya belum berkembang sehingga Gorontalo Utara dapat dijadikan sebagai daerah fider berbagai macam komoditi dan kegiatan ekonomi. Adanya re-enginering pembangunan kawasan ekonomi, kedepannya Gorontalo Utara dengan Pelabuhan Anggrek dan Pelabuhan Kwandang dapat mendrive berbagai macam komodoti ekspor ke pasar Asia Tenggara dan Asia Timur.

 

Jika kawasan ekonomi dikembangkan di Gorontalo Utara bukan tanpa alasan karena terletak dikoridor Sulawesi dan perairan internasional. Segala sesuatunya menjadi lebih efisien untuk akses pasar dan kegiatan ekspor impor bilamana dilakukan di Pelabuhan Anggrek dan Pelabuhan Kwandang  dibandingkan dengan pelabuhan yang ada di Kota Gorontalo, Tilamuta dan Marisa. Lahan pengembangan pelabuhan di Kota Gorontalo tidak lagi memungkinkan sementara di Gorontalo Utara masih didominasi lahan kosong. Pada saat yang sama sektor pertanian dan perkebunan cukup besar potensinya, kesemuanya membutuhkan pengolahan. Sebagai wilayah yang berada di koridor pulau dan perairan internasional kawasan industri juga paling tepat dikembangkan di Gorontalo Utara dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di Provinsi Gorontalo.

 

Sekalipun ada kondisi geografis mendukung untuk bisa maju namun membutuhkan perencanaan dan perancangan masa depan Gorontalo Utara dengan baik. Tidak bisa hanya mengharapkan pemimpin yang berpikir bussines as usual semata, berjalan apa adanya, Gorontalo Utara membutuhkan —Great Minds–. Acemoglu dan Robinson (2015) dalam bukunya —Why Nations Fail; The Origins of Power, Prosperity and Poverty– mengurai dengan baik, mengapa negara gagal memberikan kesejahteraan pada rakyatnya pada sebagian wilayah Asia Tengah, Afrika dan Amerika Latin. Setidaknya menurut mereka ada tiga maenstrem berpikir para ekonom melihat terjadinya kemiskinan di suatu negara. Pertama, kemiskinan lahir karena faktor geografis dimana negara miskin tersebut karena hanya ada gurung pasir dan minim curah hujan. Kedua, melekatkan atribut-atribut kultural sebagian negara di Asia Tengah, Afrika dan Amerika Latin tidak bisa kaya dan maju ekonominya karena tidak memiliki etos kerja, sebagian besar dari mereka masih memegang teguh keyakinan dan ajaran yang tidak sejalan dengan kemajuan dan kesuksesan ekonomi, dan Ketiga, sesungguhnya para pemimpin negara-negara yang miskin itu tidak tahu cara memakmurkan rakyatnya dan menerapkan kebijakan-kebijakan serta menerapkan strategi pembangunan yang salah kaprah.

Mainstream berpikir ekonom dan ahli kebijakan publik yang pertama dan kedua di atas sesungguhnya tidak lagi menjadi relevan untuk dijadikan referensi. Kebijakan dan strategi yang tepat dengan mengikuti saran dari para ahli sekalipun negara secara geografis kurang potensi bisa mewujudkan kemakmuran dan dapat mengurangi angka kemiskinan. Pada umumnya negara-negara miskin yang bermukim di Asia Tengah, Afrika dan Amerika Latin karena tata kelola pemerintahan, ketamakan para pemimpin politik serta rezim yang korup menjadi biang penciptaan kemiskinan. Sumber daya yang tersedia hanya dikuasai oleh elit-elit politik dan kekuasaan, sementara rakyat dikorbankan urai Acemoglu dan Robinson lebih lanjut. Maka tugas kepemimpinan Gorontalo Utara kedepan jelas memerlukan konsep dan strategi yang tepat serta bersinergi dengan perencanaan pembangunan di level provinsi dan nasional. Ini sejalan dengan isi resolusi pantura tahun 1966 dimana potensi ekonomi ex Kewedanaan Kwandang cukup besar baik yang ada di darat maupun yang ada di dalam air, hanya saja masih banyak masalah, hambatan karena itu diperlukan organisasi (manajemen) pemerintahan yang kuat. Itu semua dapat terbangun dengan syarat; 1) Ada kerja sama yang baik dan harmonis serta pengertian dari semua pihak, 2) Adanya tenaga-tenaga ahli, konseptor yang mempunyai kesanggupan dan kemauan sebagai pioner/ terutama dalam fase-fase permulaan (Resolusi Pantura, 1966).

%d bloggers like this: