Oleh Syaefurrahman Al-Banjary.

Suasana adem -ayem di Yogyakarta tiba-tiba mencekam ketika tersiar Gereja Santa Lidwina Bedog, Trihanggo Sleman, diserang lelaki berpedang yang mengincar pendeta dan jemaatnya. Lelaki itu melukai empat orang di dalam gereja.

Untung saja ada polisi lepas dinas bernama Aiptu Al Munir yang masuk gereja menembak pelakunya sehingga lumpuh dan berhasil ditangkap, meski polisi itu juga terkena sabetan parang.

Kejadian ini pun akhirnya menuai reaksi nasional, karena terjadi hampir selang beberapa waktu dengan kasus pembunuhan ulama dan ustad. Pertama menimpa Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hiadayah Santiong K.H. Emon Umar Basri. Umar Basri dianiaya di dalam Masjid Al-Hidayah Santiong, Kampung Santiong, Desa Cicalengka Kulon, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Sabtu (27/1/2018).

Kedua, kembali terjadi penganiyaan terhadap seorang Ustadz di Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kidul, Bandung, Jawa Barat. Korban adalah Ustadz Prawoto, Komandan Brigade Persatuan Islam (Persis) Pusat. Peristiwa terjadi di kediaman Ustadz Prawoto di Blok Sawah, Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kidul, Bandung. Korban dianiaya di rumahnya pada Kamis subuh (1/2/2018). Prawoto meninggal dunia sore harinya di Rumah Sakit Santosa di daerah Kopo, Bandung.

Sesungguhnya masih ada kasus lain yang tak banyak dipublikasikan meluas.  Misalnya kasus Penembakan rumah mantan Deputi Operasi Basarnas Mayjen (Purn) TNI Tatang Zaenudin di Jl. Bukit Pasir No. 49 RT 001/RW 012 Depok oleh orang gila tak dikenal. Ada juga Sulaiman di Bogor, juga dikabarkan sebagai ustad dibacok orang gila. Namun polisi mengklarifikasi bahwa Sulaiman bukan ustad melainkan hanya seorang petani.

Apa arti semua ini? Berbagai analisa telah disampaikan oleh para ahli. Misalnya Mahfud MD dalam tayangan ILC Tvone Selasa malam (6//2/2018) telah menjelaskan bahwa banyak kemungkinan pembunuhan ulama dan sekarang merembet ke pendeta/jemaatnya, adalah terkait dengan Pilkada maupun Pilpres dan operasi intelijen.

Tujuannya kemungkinan ada kaitannya dengan PKI atau cara-cara PKI seperti terjadi pada puluhan tahun silam. Kedua, agar masyarakat takut untuk melakukan oposisi, dan ini adalah adu domba antar ummat beragama. Bisa jadi memang pelakunya adalah orang yang pura-pura gila yang disuruh pihak tertentu untuk membuat kekacauan, atau memang gila beneran. Bisa jadi karena perselingkuhan.

Tetapi terlepas dari analisa yang disampaikan Mahfud MD dan mungkin juga para ahli kriminologi akan mengaitkan kasus “Ninja Banyuwangi” menjelang Pemilu tahun 2004. Para “ninja” itu melakukan pembunuhan kyai dengan tuduhan dukun santet.

Kejadian ini semua harus menjadi peringatan semua pihak. Jangan sampai terjadi saling curiga antar umat beragama, karena yang akan rugi adalah mereka sendiri. Kabar baiknya, dengan adanya kasus pembunuhan ulama, semua santri dan masyarakat menjadi waspada. Beberapa kota malah tumbuh pasukan atau brigade pengaman ulama, seperti di Purwakarta ada Badan Anti Teror Mujahidah Pembela Islam. Ini adalah sebuah kesadaran baru bangkitnya anak muda beramai-ramai masuk organisasi melawan pengacau keamanan.

Banser kemana?

Kalau demikian kemana para Banser yang selama ini terkenal dengan pasukannya yang ikut menjaga gereja? Pertanyaan ini sengaja saya kemukakan karena masih banyak orang mempertanyakan sikap Banser yang lebih membela non muslim daripada muslim. (Mungkin yang benar adalah membela muslim dan non muslim yang damai dan melawan muslim yang dianggap radikal menurut pandangan mereka). Banser selama ini dikenal berseberangan dengan FPI karena FPI dianggap radikal. Banser juga membela Ahok, karena Ahok lebih toleran dan katanya berpihak pada orang Islam (?), ketimbang mendukung Anies Baswedan.

Ketua Banser Yaqut Cholil Qoumas (dok)

Terkait dengan sikap Banser, kemarin Minggu (11/2/2018) Walikota Surabaya Tri Risma Harini meminta Banser terjun mengamankan masjid dan mushalla agar tidak dikuasai oleh kelompok radikal. Karena kelompok radikal itu tidak pernah berjuang, katanya (JPNN, 12/2/2018).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menduga pelaku penyerangan gereja di Jogja adalah orang gila. Bisa gila beneran, bisa tergila-gila agama. Pelakunya adalah orang yang gila karena pemahaman agamanya salah. Bahkan Yaqut mengaku mendapat laporan bahwa pelakunya bernama Suliyono, yang terindikasi mulai terpapar radikalisme agama pasca Pilkada DKI Jakarta.

Pelaku diketahui juga sebagai mahasiswa dan menjadi santri di Pondok Pesantren Sirojul Muhlisin, Topo Lelono, Secang, Magelang, Jawa Tengah.

Menurut Gus Yaqut, dengan latar belakang pelaku seperti itu, jelas ada motif di balik serangkaian kasus teror belakangan ini. Selain motif agama, sangat mungkin ada motif politik di belakangnya, katanya.

Karena itu semua pihak memang sepakat sebaiknya polisi mengusutnya dengan tuntas agar tidak menimbulkan saling curiga. Kesalahan munculnya radikalisme juga musti diterapi dengan sikap membimbing dan mengurai apa penyebab munculnya sikap radikal, sebagaimana dipahami publik selama ini. *** Wallahu a’lam.

Artikel ini sudah tayang di UCNews