Cakrawala News
Portal Berita Online

Gerakan Anti Riba Serukan Pilih Hafidz-Hanies

0 1.265

REMBANG, CAKRAWALA.CO – Gerakan Riba Haram (GERAH) Kabupaten Rembang melakukan kajian atas buku KH M Sai’d Abdurracjim dan Debat Pilkada Rembang guna menentukan sikap dalam Pilkada Rembang 9 Desember 2020.

Kajian dikemas dalam halaqoh bertema “Kiprah Santri dalam Politik Lokal” yang digelar di BPPM-NU Islamiyah Syafiiyah Gandrirojo Sedan, Jumat (27/11/2020).

Hadir sebagai nara sumber KH M Sa’id Abdurrahim, Gus Imam Rahmatullah dan Gus Ghonim Humaidi, sedangkan moderator oleh Kiai M Fachruddin. Pertemuan dihadiri 50 kiai-kiai muda dari berbagai pondok pesantren.

Ketua Gerakan Riba Haram (GERAH) Muhtar Nurhalim mengatakan halaqoh ini dilatarbelakangi diskusi kecil yang membahas masa depan santri dan pesantren di Rembang akibat pandemi Covid-19 yang belum juga selesai.

“Rembang memiliki kiai yang telah menjadi tokoh nasional dan internasional, juga dikenal memiliki pesantren pesantren unggul. Santri juga sudah menunjukkan kiprahnya dalam pemerintahan baik di tingkat pusat maupun daerah. Maka dalam momentum tertentu santri harus ambil peran yang tegas,” kata Muhtar, yang dikenal sebagai aktivis kaderisasi NU dan SISNU (Sistem Informasi Strategis NU).

Halaqoh terselenggara untuk menjawab sekaligus melawan atas merebaknya isu masif di masyarakat bahwa siapa saja yang memiliki banyak uang untuk membeli setiap hak pemilih pasti akan menjadi pemimpin Rembang.

“Dalam konteks pemilu serentak besok pada 9 Desember 2020, khususnya di Rembang karena sebagian besar warga Rembang adalah santri, wajib hukumnya mendukung calon yang memiliki basis nyantri yang jelas,” tambah Muhtar yang berjanji akan masif menyuarakan keputusan halaqoh ke seluruh masyarakat Rembang sebagai wujud takdim santri kepada kiai.

Sememtara itu, Gus Sa’id menjelaskan Islam itu agama komprehensif yang mengatur segala aspek kehidupan mulai dari aspek ibadah muamalah, juga masalah politik. Semua terurai lengkap dalam kajian fikih. Maka setiap kiai dan santri, lanjut dia, wajib mengetahuinya untuk disampaikan kepada umat karena Pilkada ini diatur dalam perundang-undangan, perlu lebih dipertegas melalui kajian fikih.

“Jika kemudian ada yang mengatakan bahwa Pilkada tidak ada kaitannya dengan agama, sebenarnya pernyataan tersebut didasari dari ketidakpahaman tentang teks dan tafsir ajaran agama yang harus diimplementasikan dalam kehidupan, semampu kita,” jelas Gus Said.

Menjawab pertanyaan peserta halaqoh tentang dua paslon yang ada, Gus Said menegaskan untuk memilih paslon 02.

“Jika yang satu alim agama dan yang satu jahil agama, maka semua ulama sepakat bahwa hanya alim keagamaan itulah yang layak menjadi pemimpin. Demikian juga soal ketakwaan. Semua ulama bersepakat calon pemimpin harus manusia bertakwa,” tegas Gus Said. (Rom)

Leave A Reply

Your email address will not be published.