Cakrawala News
Portal Berita Online

Gelombang-2 Covid dan Ambruknya Sistem Kesehatan Kapitalis

0 540

Oleh : Nor Hilmi (Mahasiswi)

Untuk kesekian kalinya Indonesia mengalami lonjakan kasus Covid-19 setelah sebelumnya sempat mengalami hal yang sama. Jumlah kasus pasien Covid-19 terus mengalami peningkatan tajam sejak Mei 2021. Dikutip dari laman www.kompas.com berdasarkan data kasus harian dari Satgas Covid-19, pada 15 Mei 2021, angka penambahan kasus Covid-19 yaitu 2.385.

Kemudian kasus perlahan meningkat dan semakin meningkat tajam. Tercatat pada 15 Juni 2021 ada 8.161 kasus harian, 16 Juni 2021 dilaporkan 9.944 kasus dan pada 17 Juni 2021 sebanyak 12.624 kasus. Sehingga mengakibatkan rumah sakit di berbagai daerah nyaris penuh. Situasi wabah yang makin tak terkendali ini menunjukkan sistem kesehatan yang diterapkan oleh kepemimpinan kapitalistik sudah kolaps.

ads harlah pkb

Berbeda dengan lonjakan kasus sebelumnya, lonjakan kasus ini diakibatkan adanya kemunculan beberapa varian baru dari Covid-19 yang berasal dari luar negeri, yakni Covid-19 varian Alpha, Beta dan Delta. Masuknya virus corona varian baru di Indonesia ini tak lain karena mudahnya akses keluar-masuk orang-orang dari atau ke Indonesia.

Lonjakan kasus yang beberapa kali telah terjadi sebelumnya tidak dijadikan sebagai peringatan dan momen untuk berkaca pada upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi Covid-19, ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan yang sering dijadikan dalih sejatinya menunjukkan ketidakmampuan negara dalam mengurusi rakyat, baik dalam menetapkan maupun menerapkan aturan yang masih belum tepat dan tegas. Sekaligus menunjukkan hilangnya wibawa kepemimpinan mereka di mata rakyat.

Pada dasarnya sejak awal Negara memang sudah salah langkah ketika dominan menjadikan pertimbangan ekonomi dalam menyikapi wabah. Seperti pembukaan tempat-tempat pariwisata yang memicu kerumunan masyarakat dan keluar-masuknya orang-orang dari satu wilayah ke wilayah lain bahkan dari lingkup negara sekalipun.

Kemudian diperparah dengan penerapan kebijakan-kebijakan yang kian menjauhkan jarak antara mereka dengan rakyat, hal ini membuat rakyat justru merasa tidak percaya dan enggan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan. Padahal jika saja negara benar-benar fokus berupaya mengatasi permasalahan wabah, bukan suatu ketidakmungkinan bisa saja saat ini Indonesia sudah terbebas dari belenggu wabah atau setidaknya situasi tidak akan sekacau ini dan masih dapat dikendalikan.

Jika negara terus saja berdiam diri tanpa mengambil langkah yang tepat untuk mengatasi hal ini, maka bukan hanya mempengaruhi aspek ekonomi tapi juga akan berimbas pada aspek lainnya seperti pendidikan. Terhitung sudah satu setengah tahun lebih sejak pembelajaran berlangsung secara daring banyak masalah pendidikan yang bermunculan, ketika setiap kali pembelajaran tatap muka diwacanakan maka tak lama setelahnya rencana tersebut akan diundur sampai batas waktu yang tidak ditentukan karena situasi belum kunjung membaik atau bahkan justru terjadi peningkatan kasus.

Di tengah lonjakan kasus saat ini, pembelajaran tatap muka yang direncanakan akan dimulai pada bulan Juli pun agaknya kemungkinan besar akan dihentikan jika mempertimbangkan resiko-resiko yang ada, meskipun begitu hal ini belum dapat dipastikan apakah pembelajaran tatap muka akan tetap dilaksanakan atau dihentikan.
Maka dengan melihat kesemua ini, hendaknya menyadarkan kita bahwa Kapitalisme tidak mampu mengatasi pandemic bahkan di negara adidaya sekalipun. Terbukti hingga detik ini, manusia belum bebas beraktivitas masih terkekang dengan virus kecil Covid-19. Oleh Karena itu, hendaknya kita berhenti dan tidak lagi berharap pada sistem Kapitalisme yang berkuasa pada hari ini, dan mencari suatu hal lain yang dapat menyelesaikan permasalahan dengan tuntas.

Untuk mengatasi situasi tak terkendali hari ini seharusnya dimulai dengan perubahan sistemis yang mendasar, dengan begitu akan terbangun sistem kesehatan yang kuat. Dimulai dari perubahan sistem politik dari kapitalisme ke sistem politik Islam yang berbasis kesadaran ideologis umat. Dalam hal ini, solusi-solusi pragmatis tetap harus dijalankan oleh masyarakat seperti penerapan protokol kesehatan secara patuh, lockdown, social distancing, dan sebagainya.

Namun, itu tetap tidak akan cukup apabila sistem kapitalisme masih diterapkan, karena akan memunculkan perbenturan dengan kepentingan-kepentingan lainnya. Oleh karena itu perlu adanya dakwah Islam ideologis yang mengokohkan keimanan akan kebenaran dan kesempurnaan sistem Islam, termasuk pengaturan soal kesehatan. Wallahu’alam bisshawab.

Leave A Reply

Your email address will not be published.