Cakrawala News
Portal Berita Online

Gawai Sebagai Pengasuh Anak yang Tanpa Literasi

0 252

KABUPATEN CIANJUR JABAR CAKRAWALA.CO – Teknologi sudah masuk ke dalam semua lini kehidupan manusia tidak terkecuali pada kehidupan anak-anak. Terlebih saat sekarang aktivitas belajar mengajar dilakukan dari jarak jauh sehingga membutuhkan teknologi sebagai penunjang.

Gawai diberikan kepada anak bahkan yang di bawah usia sekolah untuk menemani mereka karena kesibukan orang tua. Akhirnya hingga kini gawai beserta internet menjadi teman anak-anak zaman sekarang. Istilahnya menjadi pengasuh mereka agar tetap tenang di rumah. Ditambah sekarang para orang tua bekerja di rumah, kerepotan mengurus anak bertambah sehingga mengasuh anak dengan gawai pun terus digunakan.

Dewi Tresnawati, dosen Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengatakan, orang tua perlu hati-hati dalam menjadikan gawai dan internet ini sebagai pengasuh anak-anak. Anak harus selalu diperhatikan saat menggunakan media digital, namun sayangnya tidak semua pendidik, orang tua dan masyarakat memahami atau bahkan memiliki keterampilan dalam penggunaan media digital.

“Ketidakpahaman inilah yang melahirkan persoalan dalam penggunaan media digital secara positif dan proposional,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021).

Padahal begitu banyak permasalahan bagi anak di dunia maya, sebut saja kecanduan gawai, kecanduan game online bahkan juga pornografi di dunia siber. Permasalahan lain cyberbullying bahkan cybercrime kerap terjadi.

Paling rawan sebenarnya adalah mereka yang sudah remaja sebab rasa ingin tahu mereka terhadap hal-hal yang baru ini sangat besar. Dari ketidaktahuan lalu mencari tahu dan melakukan ketidaksengajaan lalu bisa jadi mencoba hal baru itu.

Remaja juga tidak mau ketinggalan informasi, mereka menerima hal-hal update. Ini sebenarnya bagus jika dapat sesuatu yang positif keterampilan atau skill digital baru. Ilmu baru mengenai apapun bisa juga hiburan positif terbaru yang mereka sukai.

Karakteristik remaja juga narsistik dan sangat ekspresif tidak heran media sosial kerap digunakan untuk mereka memamerkan apa yang mereka punya. Mereka lebih cenderung untuk ekspresif dalam mengomentari atau menanggapi informasi yang luar biasa bagi mereka.

“Para remaja ini eksploratif selain ingin mencari tahu yang baru, mereka juga mencoba hal baru itu. Lagi-lagi ini sebenarnya bagus jika apa yang mereka lakukan hal yang positif kenapa tidak untuk mendapatkan ilmu baru dan kegiatan yang berguna untuk masa depan,” ungkap pengurus Relawan TIK ini.

Hal positif itu dapat ditentukan oleh perilaku apa yang dilakukan pengguna internet di Indonesia. Menurut survei sebanyak 25,3 persen meng-update informasi, mencari pekerjaan atau terkait pekerjaan 20,8 persen lalu bersosialisasi 10,3 persen. Mengisi waktu luang 13,5 persen, belanja, bisnis atau berdagang 8,5 persen. Hiburan 8,8 persen yang terkait dalam pendidikan 9,2 persen.

Survei tersebut dilakukan tahun 2016 bisa dibayangkan apa yang terjadi tahun 2021 diperkirakan update informasi, belanja hiburan dan pendidikan akan jauh lebih banyak.

Padahal menurut Yayasan Kita dan Buah Hati dan American Pediatric Association, durasi anak bermain gawai itu ada ketentuannya. Pada anak 0-2 tahun tidak diberikan gawai, 3-6 tahun itu hanya 10- 20 menit, 7-10 tahun 20-60 menit dan 11-12 tahun itu maksimal 2 jam. Batas waktu itu dalam sehari, jadi jika maksimal 2 jam itu bukan langsung 2 jam dan bisa dibagi-bagi berapa menit.

Situs jejaring sosial menjadikan anak dan remaja lebih mementingkan komunikasi maya daripada interaksi nyata sebab terkadang orang tua juga yang memberikan gawai tanpa batas. Di samping itu orang tua juga tidak memberikan pemahaman literasi digital, seperti apa yang harus mereka lakukan di dunia digital maupun di luar jaringan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara, Litani Wattimena (Brand & Communication Strategist), Dedy Helsyanto (Mafindo), Aditianata (Universitas Esa Unggul), dan Ida Rhinjsburger sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.***red

Leave A Reply

Your email address will not be published.