Cakrawala News
Portal Berita Online
idul harita

Gastrodiplomasi, Cara Lobi Soekarno Melalui “Politik Perut”

0 452

BLITAR CAKRAWALA.CO –Gastrodiplomasi adalah diplomasi melalui makanan atau tata boga yang diyakini menjadi salah satu bentuk diplomasi, khususnya soft diplomacy yang efektif dalam menjalin hubungan baik antar negara.

Itulah yang menjadi materi dalam edisi Soekarno Festival bertema Mustika Rasa, “Rasa Sebagai Diplomasi Media Soekarno” yang digelar secara virtual melalui Zoom dan YouTube pada 17 Juni 2021 lalu menuai sukses. Para peserta antusias mengikuti jalannya webinar. Hadir sejumlah narasumber diantaranya Agus Trihartanto, Ph.D (ahli gastrodiplomasi Indonesia), Dr Ir Iwan Taruna, M, Eng IPM (Rektor Universitas Jember).

“Bung Karno mencatat resep kuliner Nusantara dalam buku berjudul Mustika Rasa. Di situ beliau tak hanya menulis resep masakan tetapi juga memberikan pesan tersirat bahwa kuliner Indonesia sebagai media bagi Soekarno membangun diplomasi politik dengan tamu negara dan lawan politiknya,” kata Upi Suprianto koordinator festival.

ads harlah pkb

Ia yang juga Koordinator Indonesia Creative City Network Jawa Timur menyampaikan terimakasih atas hadirnya para narasumber di acara tersebut.

“Terimakasih atas kehadiran narasumber hebat dalam acara yang dapat terselenggara berkat gotong royong. Saya berharap Soekarno Festival ini bisa dijadikan literasi digital untuk melestarikan pemikiran Soekarno yang luhur demi membangun Indonesia yang lebih baik ke depannya,” ucapnya.

Sementara itu, Agus Trihartanto mengatakan, kala itu Presiden Soekarno menggunakan jamuan makan utama seperti di Korea, Jepang atau Thailand. Disamping memperkenalkan kuliner Nusantara, Soekarno sangat paham dengan “politik perut” untuk lobi-lobi khusus.

“Biasanya beliau mengadakan jamuan makan bersama tamu negara, termasuk ketika menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika,” ujarnya.

“Menurut Roeslan Abdulgani di bukunya, ketika makan adalah saat yang menggembirakan karena situasinya rileks dan gembira. Soekarno menyadari arti penting diplomasi di meja makan (politik perut) sejak ibukota masih di Yogyakarta hingga kembali ke Jakarta. Soekarno selalu ikut campur dalam urusan tamu-tamu negara di Istana sampai hidangan yang akan disuguhkan,” terang Agus.

Narasumber lain Dr Ir Iwan Taruna (Rektor Universitas Jember) menegaskan, warga Indonesia harus mengenalkan kulinernya kepada masyarakat Internasional. Maka upaya yang dilakukan bisa melalui diaspora-diaspora yang ada di luar negeri atau dengan branding budaya.

“Sangat penting untuk memperkenalkan kuliner Indonesia. Universitas Jember adalah satu-satunya universitas di Indonesia yang sangat peduli dengan Gastronomi atau Gastrodiplomasi tentang masakan asli Indonesia. Melalui Soekarno Festival ke 2 ini dapat menjadi wawasan bersama tentang pemikiran Soekarno yang sangat visioner karena hanya beliau yang memikirkan makanan sebagai sarana diplomasi negara,” tandasnya. (ek)

Leave A Reply

Your email address will not be published.