Cakrawala News
Portal Berita Online

Fraksi PDIP DPRD DIY Tinjau Sejumlah Pabrik Terdampak Covid

1 38

JOGJAKARTA,CAKRAWALA.CO-Fraksi PDI Perjuangan DPRD DIY dalam beberapa hari terakhir inj  melakukan kunjungan ke beberapa pabrik yang ada di kawasan kabupaten Sleman , salah satunya adalah PT Primissima , yakni pabrik textile yang memproduksi kain yang menjadi bahan dasar para perajin batik .

 

“Kami sebetulnya datang ke pabrik untuk memastikan nasib karyawan  di tengah wabah Covid 19 ini, tetapi di dalamnya ternyata tidak hanya masalah karyawan saja, namun juga kondisi pabrik,” ungkap RB Dwi Wahyu B selaku ketua Fraksi PDIP DPRD DIY kepada wartawan di DPRD DIY, Kamis, (30/4/2020).

 

Pabrik yang pernah menjadi “idola “ para perajin batik di era tahun 80 hingga 90 an , merupakan pemasok bahan baku kain batik , dan hampir 30 persen omset pabrik ini merupakan hasil penjualan kepada para perajin batik.

 

ads bukopin

” Namun akibat Wabah virus Corona atau Covid-19 membuat pabrik tersebut kesulitan operasional. Salah satu penyebabnya adalah kapas sebagai bahan baku kain harus impor dari Australia atau Amerika.i Harganya sangat mahal. Jika memakaii kapas produk Indonesia tidak cocok. Kadar airnya tinggi dan  gampang putus. saat wabah Corona ini omzet masih ada tetapi untuk beli bahan baku pabrik itu kekurangan anggaran. Sebenarnya bisa dengan skema yang dipakai oleh salah satu bank BUMN tetapi tidak optimal,” jelas Dwi Wahyu. .

 

Dwi Wahyu B, meminta salah satu badan usaha milik daerah (BUMD) Pemda DIY yaitu Bank BPD DIY ikut turun tangan  membiayai pabrik kain PT Primissima.

 

Dalam kunjungannya bersama anggota DPRD DIY lainnya  Yuni Satia Rahayu, Dwi Wahyu ditemui langsung Sekretaris Perusahaan, Ishaq Nur Khozain beserta jajarannya.

 

. “Saya ingin Bank BPD DIY membiaya pabrik kain, daripada membiaya pembangunan hotel,” lanjut Dwi Wahyu.

 

Menurut Dwi, NPL (Non Performance Loan) atau kredit bermasalah Bank BPD DIY sangat tinggi disebabkan membiayai pembangunan hotel.

 

“NPL Bank BPD DIY hampir 4,5 persen melebihi angka NPL nasional, salah satunya karena pembangunan hotel.” ujarnya.

 

Dari penjelasan manajemen pabrik kain, Dwi heran PT Primissima adalah BUMN tapi faktanya dukungan dari pusat tidak ada.

 

“Contohnya, pernah mengajukan sekitar Rp 24 miliar untuk pengelolaan aset namun sampai hari ini tidak dikabulkan.Akibat Covid-19 banyak mesin nganggur. Masih beruntung  dari 700-an karyawan hanya sekitar 91 orang yang dirumahkan. itu pun karena kontraknya habis. Selebihnya masih dipekerjakan,” jelas Dwi.

 

Sementara uru sekretaris PT Primissima Ihsaq Nur Khozain mengatakan  supaya perusahaan tetap bisa jalan maka dibuat sistem sehari masuk sehari libur, sehingga gajinya dihitung hanya 15 hari kerja. Selain itu, mereka yang gajinya di atas UMR dikurangi 25-60 persen.

 

” Kami dari pabrik memohon pemerintah jangan melakukan lockdown.  Banyak warga mau bekerja tetapi tidak diperbolehkan padahal SOP kesehatan di perusahaan itu diberlakukan sangat ketat,” ujar Ishaq Nur Khozain.

 

Selain pabrik Textil anggota DPRD DIY ini juga mengunjungi pabrik Sarung Tangan yang juga berada di Kabupaten Sleman . ( Okra/ Santosa )

Leave A Reply

Your email address will not be published.

  1. […] Artikel Selengkapnya di cakrawala.co […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.