Fotografer Australia Pameran Foto Wayang dari Berbagai Negara di Asia Tenggara

JOGJAKARTA CAKRAWALA.CO ,- Keberadaan Wayang di Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara menarik perhatian Constantine Korsovitis, fotografer yang berasal dari Australia untuk mengabadikan dalam karya fotografi dokumenter. Setelah berhasil menggelar pameran di Bali beberapa waktu lalu, Fotografer asal Autralia ini mencoba tantangan baru dengan menggeloar Pameran yang lebih besar di Kota Yogyakarta yakni di Galeri RJ Katamsi Kampus ISI Yogyakarta. Pameran bertajuk ” A Life in Shadows ” akan dibuka oleh Rektor Prof Dr M Agus Burhan dan Dalang Ki Manteb Soedharsono pada tanggal 7 September 2019 pukul 19.00 WIB, dan pameran akan berlangsung hingga 27 September 2019.

Constantine Korsovitis mengatakan pameran ini menampilkan lebih dari 80 gambar yang mendokumentasikan salah satu tradisi mendongeng tertua di dunia yakni Wayang.

” A Life in Shadows mengeksplorasi nuansa, nilai tradisi, dan kecanggihan teater bayangan atau wayang di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Thailand, Malaysi dan Kamboja, serta orang-orang yang memainkannya. Masing-masing negara pasti memiliki karakteristik budaya yang berbeda,” Ujar Constantine disela – sela persiapan pameran Jumat sore ( 6/9/2019) di Galeri RJ Katamsi.

Namun demikian, imbuh Constantine, masih memiliki persamaan karakterikstik agama, bahasa dan ras. Dari beberapa kesamaan tersebut, wayang adalah suara tunggal dan benang merah yangmenyatukan negara-negara tersebut dengan penggunaan epos Hindu Ramayana dan Mahabharata sebagai sumber ceritanya.

” Pada tahun 1999, saya mulai memotret dan merekam komunikasi saya dengan para empu, musisi, dan pengrajin wayang di rumah mereka. Idenya adalah untuk mencari tahu siapa pria atau wanita itu dibelakang artis dan dibalik pertunjukan,” Katanya.

Constantine Korsovitis menambahkan bahwa dirinya mengagumi dan mencintai wayang sudah cukup lama. Namun dibalik rasa cintanya tersebut muncul kegelisahan darinya tentang kondisi seni tradisi hari ini, dimana banyak tekanan dan perubahan yang menyebabkan seni tradisi tersebut semakin terkikis dan kehilangan penerusnya karena beberapa pelaku terdahulu sudah meninggal. Korsovitis mencoba untuk mendokumentasikan, mengabadikan, sekaligus menunjukkan semangat papara seniman untuk terus menjaga seni tradisi yang sarat nilai-nilai kemanusiaan ini.

” Saya ingin pameran ini menceritakan betapa pentingnya cerita seni tradisi, keterampilan, serta dedikasi yang diperlukan untuk menjadi dalang. Para pelaku seni tradisi ini menghadapi kesulitan besar setiap hari hanya untuk membuat suara mereka didengar,” tandasnya.

Constantine Korsovitis mengatakan bahwa dirinya merasa bertanggung jawab sebagai seorang fotografer dan manusia untuk menceritakan kisah ini meskipun sebenarnya itu bukan miliknya.

“Ada keajaiban dalam bentuk seni, kecanggihan dan rasa sejarah yang tajam pada Seni tradisi Wayang.” Ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari proyek ini adalah untuk melampaui dokumentasi dan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi seni tradisional di wilayah Asia Tenggara dan di seluruh dunia. Proyek ini juga direncanakan akan mencapai puncaknya dalam publikasi dan arsip publik dari dokumentasi dan penelitian tentang wayang. Setelah Yogyakarta, pameran serupa juga akan digelar di Singapura, Sydney, Kuala Lumpur dan Jakarta. Khusus di Yogyakarta, pameran ini terselenggara atas dukungan dari ISI Yogyakarta, Museum Kekayon dan Karma Images. ( Okta/ Santosa )

Facebook Comments
%d bloggers like this: