Cakrawala News
Portal Berita Online

Eva, Bocah Penderita Thalasemia di Purbalingga, Tetap Semangat Sekolah Meski Harus Jalan Kaki Lewat Hutan

0 25

PURBALINGGA. JATENG. CAKRAWALA.CO – Sembuh, tak harus makan obat, dan tak perlu merasakan sakitnya jarum transfusi darah, mungkin cuma mimpi bagi Eva Tiana. Gadis kecil, menginjak 13 tahun, namun ia sudah akrab dengan jarum dan obat selama separuh hidupnya.

Tujuh tahun sudah, setiap bulannya ia harus bolak-balik dari rumahnya, di Dusun Bawahan, Desa Gunung Wuled, Rembang, Purbalingga ke RS Goetheng Tanudibrata untuk transfusi darah. Bosan dan lelah tentu saja menghinggapinya. Namun ia bisa apa ketika hanya itu yang bisa menguatkannya untuk bertahan hidup.

Saat umur enam tahun, ia telah divonis mengidap thalasemia, sebuah penyakit kelainan darah bawaan yang ditandai dengan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari normal. Hingga mengharuskannya menerima transfusi darah seumur hidupnya untuk bisa bertahan hidup.

Tak dipungkiri, Eva ingin seperti anak-anak pada umumnya. Bisa sekolah tanpa harus sering bolos karena sakit. Karena tiap mendekati jadwal transfusi darah, kondisi tubuhnya secara otomatis langsung drop. Muka Eva pucat, tubuhnya lemas seakan tak mempunyai tenaga.

“Ingin sekolah secara normal seperti anak-anak yang lain, nggak harus sering bolos karena sakit,” ungkap Eva dengan lemas dan muka pucat karena memang sudah waktunya untuk transfusi darah, saat ditemui di rumahnya Minggu (21/6).

Tahun ini, Eva sudah masuk SMP. Untuk sampai ke sekolah barunya di SMP Ma’arif NU Rembang, Eva harus berjalan kaki selama satu jam melalui jalur hutan. Kondisi perekonomian keluarga yang terbatas tak memungkinkan baginya untuk memanfaatkan jasa tukang ojek kampung.

“Biayanya mahal. Dulu sepupu saya juga jalan kaki dari sini untuk ke sekolah. Sekarang dia sudah lulus dari SMP Ma’arif NU Rembang,” kata dia.

Keterbatasan ekonomi kadang membuat Eva pesimistis, apakah dia bisa mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Terlebih saat pandemi seperti sekarang ini, banyak tugas yang diberikan guru via online. Melalui layanan pesan singkat WhatApps.

Untuk itu, pekan lalu tim Sedekah Sepatu Layak Pakai berkesempatan berkunjung ke rumah Eva. Tim yang datang, tak hanya membawa beberapa pasang sepatu sekolah untuk Eva. Tim juga membawa satu unit handphone hasil donasi untuk menunjang pembelajaran online.

“Semangat Eva untuk tetap sekolah di tengah kondisinya fisik dan ekonominya yang lemah sangat menginspirasi kita semua. Mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah,” ujar inisiator Gerakan Sedekah Sepatu Layak Pakai, Yuspita Palupi. (tim redaksi cakrawala.co)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: