Cakrawala News
Portal Berita Online

Etika di Seluruh Aspek Dunia Digital

0 94

KABUPATEN GARUT JABAR CAKRAWALA.CO – Pada perkembangannya etika telah menjadi sebuah studi tentang kebenaran dan ketidakbenaran. Berdasarkan konsep manusia yang diwujudkan melalui kehendak manusia dalam perbuatannya. Memang termasuk subjektivitas tetapi sudah disepakati oleh banyak orang.

Dalam zaman teknologi informasi yang terus berkembang ini perangkat digital seperti komputer juga memiliki etika. Dijelaskan oleh Ramlan Gumilar, Direktur Lembaga Pelatihan Kerja Bina Gatara Muda, etika komputer ialah sebagai analisis mengenai sifat dan dampak sosial terhadap komputer serta formulasi dan justifikasi kebijakan untuk menggunakan teknologi tersebut secara etis dikutip dari James H. Moor.

Alasan pentingnya etika komputer ini adalah kelenturan logika yakni kemampuan pemrograman komputer untuk melakukan apapun yang kita inginkan. “Dilihat juga dari faktor transformasi, komputer dapat mengubah secara drastis cara kita melakukan sesuatu. Terakhir faktor tak kasat mata yakni semua operasi internal komputer tersembunyi dari penglihatan,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (13/10/2021) pagi.

Tentu bukan hanya saja perangkatnya yang kita butuhkan dalam menjalankan teknologi informasi. Ada juga bagaimana etika dalam perilakunya. Ada etika berinternet atau Netiket, ada Netiket pada one to one communication kondisi dimana komunikasi terjadi antarindividu dalam sebuah dialog. Misalnya pada komunikasi menggunakan email dan chatting secara pribadi. Terkadang kita tidak memahami apa yang orang sampaikan, apakah bernada lurus, tinggi atau bernada biasa. Maka diperlukan tanda baca dalam setiap komunikasi yang berupa teks.

Ada juga netiket pada one to many communication kondisi dimana satu orang dapat berkomunikasi dengan beberapa orang sekaligus misalnya pada sebuah forum diskusi online mailing list dan lainnya. “Netiket ini misalnya dengan menyalakan kamera saat kita sedang lakukan diskusi online karena dikhawatirkan ketika ada seseorang yang berbicara ditujukan kepada orang lain padahal, dia sedang tidak ada di tempat,” jelasnya.

Ketika sudah masuk dalam internet, kita dapat mengerucutkan etika ini ke aktivitas ketika seseorang berada di ruang digital. Seperti saat sedang bertransaksi atau e-commerce. Secara garis besar e-commerce adalah sistem perdagangan yang menggunakan media elektronik. Ramlan meyakinkan, menjadi sebuah hal yang penting untuk kita dapatkan sebelum kita mengaplikasikan e-commerce ini. Tidak seperti saat jual-beli konvensional hanya akad lalu transaksi. Tetapi ada tahapan-tahapan tambahan yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak.

Dalam pelaksanaannya e-commerce memunculkan beberapa isu permasalahan tentang aspek hukum perdagangan antara lain juga masuk dalam prinsip yuridikasi dalam transaksi. Pada sistem perdagangan biasa memiliki prinsip-prinsip dalam sebuah transaksi misalnya menyangkut 4 hukum kontrak dan sebagainya sedangkan dalam e-commerce tempat transaksi dan hukum kontrak harus ditetapkan secara lintas batas, mengingat sifatnya yang cyberspace atau tidak mengenal batas-batas suatu negara. Jangan sampai ada kasus konsumen tidak paham mengenai cara cara membeli sehingga marah-marah terhadap kurir, karena konsumen tidak mengetahui bagaimana sistem Cash on Delivery (COD).

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (13/10/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Ronal Tuhatu (Psikolog), Erlangga Setu (Konsultan IT), Gabriella Jacqueline (Brand Activation Lead at Startup Agritech and Entrepreneur), dan Tresia Wulandari sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.