Cakrawala News
Portal Berita Online

Empat Pelanggar Syariat Islam Dicambuk, Satu Wanita Non Muslim

1

LHOKSEUMAWE – CAKRAWALA.CO-Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe kembali melaksanakan eksekusi cambuk terhadap empat terpidana pelanggar syariat islam di Lapangan Stadion Tunas Bangsa Kota Lhokseumawe, Selasa (7/8).

Proses pelaksanaan uqubat cambuk ini dimulai sekitar pukul 10.00 WIB itu, dengan menghadirkan empat terpidana, dua laki-laki dan dua orang wanita paruh baya, satu diantara diantaranya wanita tersebut adalah non muslim, namun meminta untuk diproses secara hukum syariat islam.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah, M Irsyadi,kepada Cakrawala.co mengatakan, dari empat terpidana ini, satu diantaranya non muslim bernama Dippos Boru Nainggolan wanita berusia 56 tahun “, Dia memilih untuk dihukum cambuk daripada dihukum pidana penjara, dan kepadanya yang dihukum dengan Uqubat Ta’zir cambuk sebayak 20 kali di muka umum”, Kata Irsyadi.

ads bukopin
Salah satu Wanita non Muslim dari empat terpidana eksekusi cambuk, dihukum dengan cambukan 20 kali dimuka umum.Eksekusi cambuk dilakukan Selasa (07/08) dilapangan Stadion Tunas Bangsa Kota Lhokseumawe.(Foto/MS)

Selain itu, lanjutnya, tiga terpidana lain yaitu, Jailani alias Joy Bin H.M.Nur terlibat jarimah pelecehan seksual terhadap anak Uqubat Ta’zir cambuk sebanyak 30 kali di muka umum.

Kemudian Bahrum M alias Wak Baang terlibat jarimah pelecehan seksual terhadap anak Uqubat Ta’zir cambuk sebanyak 25 kali di muka umum dan Asiyah melakukan jarimah menyimpan dan menjual khamar dengan hukuman cambuk 25 kali di muka umum,” ungkapnya.

Selanjutnya, Aisyah binti Abduk Gani perbuatan jarimah menyimpan dan menjual khamar dihukum dengan uqubat Ta,zir cambuk sebanyak 25 kali.

Dikabarkan sebelumnya, DI (56) nenek non-muslim yang ditangkap karena menjual minuman keras di Gampong Jawa, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, memilih dihukum sesuai dengan qanun syariat islam atau hukuman cambuk di muka umum.

“Walaupun saya beragama nasrani, tetapi saya memilih lebih baik dicambuk saja sesuai dengan syariat Islam,” kata DI saat ditanyai wartawan.

DI menambahkan, dalam sehari dirinya mampu menjual hingga lima botol minuman keras. Dengan harga sekitaran Rp 90 ribu per botol. Sementara untuk pembeli sendiri rata-rata sudah berusia dewasa, dirinya memesan minuman itu melalui ekpedisi atau jaringan telelpon dan dikirim ke Lhokseumawe.

“Sekali pesan dua lusin, dan habis terjual dalam jangka waktu dua minggu,” ungkapnya.

Usai pelaksanaan eksekusi, para terpidana kembali dimasukkan kedalam mobik tahanan Kejaksaan Negeri Lhokseumawe, guna dilakukan pemeriksaan kesehatan.(MS)

Comments are closed.