Cakrawala News
Portal Berita Online

Dualisme Perkebunan Indonesia

Oleh Ersa Budi Sutanto, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Jakarta.

Perkebunan merupakan subsektor dengan penyumbang PDB terbesar dalam sektor Pertanian yakni sebesar 34,55% dibandingkan sektor lainnya. Namun, tidak menutup kemungkinan dibalik kontribusi yang cukup besar dalam subsektor perkebunan juga masih memiliki permasalahan didalamnya. Salah satu masalah yang sering menjadi perbincangan yaitu dualisme antara perkebunan rakyat dan perkebunan besar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dualisme merupakan paham bahwa kehidupan ini ada dua prinsip yang saling bertentangan atau keadaan bermuka dua, yaitu satu sama lain saling bertentangan atau tidak sejalan. Hal tersebut pernah dialami oleh Negara Indonesia waktu di zaman presiden Soekarno. Tetapi dualisme pada perkebunan Indonesia kali ini berbeda. Dualisme yang dimaksud yaitu dualisme ekonomi antara perkebunan rakyat dan perkebunan besar.

Secara umum, perkebunan di Indonesia dibagi menjadi dua yaitu perkebunan besar yang diselenggarakan atau dikelola secara komersial oleh perusahaan yang berbadan hukum yang didalamnya termasuk Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS) dengan perkebunan rakyat yang diselenggarakan atau dikelola oleh rakyat/pekebun yang didalamnya termasuk usaha kecil tanaman dan usaha rumah tangga perkebunan rakyat.

Pada kenyataanya, Perkebunan Besar yang hanya memiliki luas 7,6 juta Ha atau sekitar setengah kali dari Perkebunan Rakyat tetapi memiliki perhatian yang intensif dari pihak pemerintah. Teknologi yang digunakan pun jauh lebih canggih dibandingkan dengan perkebunan rakyat yang masih menggunakan alat-alat tradisional. Selain dari segi fasilitas, perlindungan dan jaminan yang diberikan pemerintah juga belum memadai.

Subsistensi atau pembudidayaan petani rumah tangga yang hanya memfokuskan hasil panennya untuk kebutuhan mereka sendiri menjadi salah satu faktor timbulnya dualisme ekonomi dalam perkebunan Indonesia.

Selain disebabkan oleh dualisme ekonomi, subsektor perkebunan lebih memprioritaskan produksi tanaman kelapa sawit dibandingkan dengan produksi lainnya seperti karet, teh, kopi, tembakau yang hasil produksinya relatif sedikit. Sebagai contoh, luas panen pertanian perkebunan besar kelapa sawit yaitu sebesar 6,68 juta Ha setara dengan 10 kali luas panen produksi karet di Indonesia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa subsektor perkebunan sangat mengandalkan produksi kelapa sawit yang cukup besar. Namun, disisi lain, hal tersebut bisa jadi bomerang untuk subsektor perkebunan apabila terjadi fluktuasi harga pada minyak sawit.

Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa kontribusi subsektor perkebunan terhadap PDB Indonesia dalam 5 tahun terakhir mengalami penurunan. Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan subsektor industri pengolahan makan yang mengalami kenaikan yang cukup besar yaitu 0,93% atau hampir mendekati angka satu triliun rupiah. Hal ini menandakan bahwa pertumbuhan sektor industri tidak diikuti oleh sektor pertanian yang disebabkan oleh beberapa faktor yang ada didalamnya termasuk duelisme ekonomi yang terjadi pada subsektor perkebunan.

Dari berbagai aspek tersebut, peran pemerintah dalam menentukan kebijakan yang tepat sangat diperlukan untuk mengembalikan eksistensi sektor pertanian terutama subsektor perkebunan dalam kontribusi terhadap PDB Indonesia.
Penekanan pada konflik dualisme ekonomi antara perkebunan rakyat dengan perkebunan besar harus dilakukan seperti halnya memberi pelatihan khusus bagi petani untuk mengembangkan usahanya secara ekonomis. Kelembagaan yang diterapkan pemerintah seperti kelembagaan pendidikan, informasi, dan pemasaran masih juga belum optimal.

Selain itu, terjadinya praktek-praktek kegiatan monopoli, oligopoli, dan monopsoni membuat ketimpangan yang cukup besar antara perkebunan besar dan perkebunan rakyat. Hal ini perlu dilakukan pengkajian lebih dalam mengingat kedua sistem hidup secara berdampingan dalam meningkatkan usahanya.(*)

%d bloggers like this: