Cakrawala News
Portal Berita Online

Ditolak Orang Tua Murid 14 Anak Pengidap HIV/ AIDS Di Solo Tidak Bisa Sekolah

38

SOLO JATENG CAKRAWALA.CO,-Sebanyak empat belas siswa yang diduga mengidap HIV/AIDS di kota solo terpaksa tercabut  haknya untuk mendapatkan pendidikan. mereka harus meninggalkan bangku sekolah di salah satu sekolah dasar di kota solo,jateng. karena ditolak orang tua siswa lain yang was was anaknya tertular.

para wali siswa itu tidak ingin anak-anak mereka yang menempuh pendidikan di sekolah itu tertular virus HIV/AIDS. Kini ke-14 siswa yang masing-masing duduk mulai dari kelas 1 hingga 4 di salah satu sekolah dasar negeri di Solo dikembalikan ke rumah khusus anak dengan HIV/AIDS atau ADHA di Yayasan Lentera Kompleks Makam Taman Pahlawan Kusuma Bakti, Jurug, Solo, Jawa Tengah.Ketua Yayasan Lentera Solo Yunus Prasetyo mengatakan awalnya wali siswa mengadakan pertemuan dengan komite dan pihak sekolah yang pada intinya keberatan dengan keberadaan ke-14 siswa yang diduga mengidap HIV/AIDS

Bahkan, wali siswa membuat berita acara yang ditandangani koordinator mereka diketahui komite dan pihak sekolah. “Dalam isi surat itu intinya mereka keberatan dan meminta anak itu untuk tidak sekolah di situ. Komite mengamini berarti menyetujui, sekolah menandatangani berarti sekolah juga menyetujui. Itu yang terjadi,” kata Yunus ditemui di Yayasan Lentera Solo, Jawa Tengah, jumat (15/2/2019).

 

ads bukopin

Penolakan terhadap anak dengan HIV/AIDS tersebut merupakan hal yang biasa baginya. Pasalnya, penolakan ini tidak hanya sekali terjadi. Pernah anak dengan HIV/AIDS yang ditampung Yayasan Lentera ditolak saat masuk taman kanak-kanak. “Cuma saya menyayangkan program dari Dinas Pendidikan yang melaksanakan proses regrouping sekolah tanpa ada sosialisasi yang jelas. Sehingga terjadi gejolak. Karena sebelumnya tidak ada masalah sebelum ada regrouping. Sudah tiga tahun, empat tahun tidak ada masalah,” ujar dia.

Pihaknya mengatakan telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Anak dan Dinas Sosial untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. “Sekali lagi ini tanggung jawab pemerintah karena hak anak, hak pendidikan menjadi tanggung jawab pemerintah. Kami inginnya mereka tetap sekolah formal bukan non formal, bukan home schooling, bukan solusi. Karena kebutuhan anak ini bukan masalah membaca, berhitung. Kebutuhan anak ini mereka bisa bersosialisasi, bermain dengan anak di luar panti, anak sebaya mereka,” kata dia.

Sementara itu, karwi kepala sekolah dasar, sd purwotomo,purwosari,solo,tempat salahsatu 14 anak pengidap hiv/ aids tersebut bersekolah,saat ditemui di kantornya kamis( 14/02/19) membenarkan jika 14 siswa sudah tidak mengikuti kegiatan pembelajaran. alasanya ada penolakan dari sejumlah orang tua murid lain, yang membuat surat pernyataan. yang intinya orang tua siswa lainnya akut kalau anaknya nanti tertular hiv/aids. penolakan sendiri terjadi pada akhir januari 2019 lalu, ungkap karwi.

karwi menambahkan/ padahal pihak sekolah sudah gencar melakukan sosialisasitentang hiv/aids agar muncul kesadaran agar mereka dapat menerima anak-anak pengidap hiv/aids.AGb

 

 

Comments are closed.