Cakrawala News
Portal Berita Online

Disintegrasi Yugoslavia, Pelajaran untuk Keutuhan & Integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia

0 20

JAKARTA, Cakrawala.co – Duta Besar (Dubes) Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) untuk Republik Serbia merangkap Republik Montenegro, H.E. Mochamad Chandra Widya Yudha mengatakan Disintegrasi atau pecahnya negara Yugoslavia merupakan topik yang sangat luas dan kompleks sehingga dapat diambil pelajaran untuk mendorong terjadinya satu hubungan yang harmonis selalu antara komponen negara. Hal tersebut disampaikan pada Webinar Series Ketiga IPCRA dan IKA Unhan dengan KBRI Beograd Rabu (09/10/2020).

Secara geografis, Yugoslavia terletak pada posisi yang strategis di wilayah Balkan. Secara geopolitik, Yugoslavia berperan penting dalam keseimbangan kekuatan internasional. Pada masa perang dingin, Yugoslavia tidak menjadi anggota Pakta Parsawa, ataupun NATO malah Yugoslavia menjadi salah satu negara penting dalam Gerakan Negara Non-Blok. Dari peran sejarah ini menjadi posisi yang sangat penting menentukan jatuh bangunnya Yugoslavia.

Pada awalnya Republik Federasi  Rakyat Yugoslavia itu terdiri dari 6 republik, yaitu Serbia, Slovenia, Kroasia, Bosnia  Herzegovina, Montenegro dan Makedonia. Pemerintahan bersifat sentralistik dengan sistem satu partai, yaitu Partai Komunis dibawah kepemimpinan Presiden Broz TiTo yang memiliki moto untuk mempersatukan etnis-etnis tersebut yaitu, “Unity and Brotherhood atau Bersatu dan Persaudaraan”.

ads bukopin

Pemerintahan yang sentralistik ini ditopang oleh 3 pilar pokok, yaitu sosok Josiph Broz Tito sendiri, Partai Komunis Yugoslavia, dan Tentara Rakyat Yugoslavia (Jugoslavenska Narodna Armijo/JNA).  Wafatnya Presiden Josiph Broz Tito pada tahun 1980 menimbulkan krisis di Yugoslavia, yang ditandai dengan pertikaian antar etnis sentimen nasionalisme di masing-masing republik.

Untuk pertama kalinya diselenggarakan pemilu multi partai pada tahun 1990 di Yugoslavia, Kroasia, dan Slovenia. Pemilu multipartai tersebut dimenangkan oleh kaum  nasionalis. Kroasia dan Slovenia meminta diadakannya desentralisasi oleh Pemerintahan Federal Yugoslavia. Sementara Serbia,  sebagai republik yang terbesar di pimpin oleh Slobodan Milosevic, menggalang dukungan dari etnis Serbia di seluruh Yugoslavia untuk mengukuhkan sistem yang sentralistik dan melanjutkan Serbia Raya. Kemudian, kemerdekaan segera diberikan oleh Uni Eropa (UE) dan negara barat lain, ketika Kroasia dan Slovenia menyatakan kemerdekaan.

“Ini merupakan bibit-bibit atau awal terjadinya pertikaian dan perang di wilayah Kroasia dan Slovenia, dibawah Negara Federal Yugoslavia” ungkap H.E. Mochamad Chandra Widya Yudha.

Masyarakat Internasional juga mengakui pernyataan kemerdekaan rakyat Bosnia ini. Seperti yang terjadi di Kroasia, Slobodan Milosevic juga membantu etnis Serbia di Bosnia, yang dipimpin oleh Radovan Karadzic, yang militernya adalah Ratko Mladic, untuk memerangi muslim dan etnis Kroasia. Etnis Serbia kemudian juga mendeklarasikan wilayah yang mereka kuasai di Bosnia menjadi Republik Srpska (Serbia/Bosnia/Kroasia).

H.E. Mochamad Chandra Widya Yudha mengisahkan, “Perang di Bosnia ditandai dengan tragedi kemanusiaan, kita tahu bersama dalam berbagai literatur dan sejarah disebutkan betapa brutalnya peristiwa yang terjadi dan juga terjadinya etnis cleansing. Selama 44 bulan pasukan etnis Serbia yang dipimpin oleh Radovan Karadzic dan Ratko Mladic, itu mengepung Sarajevo, Ibukota  Serbia hingga lebih kurang 350 ribu penduduknya harus berjuang kerang untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari”.

Serangan NATO pada posisi etnis Serbia mengakhiri perang Bosnia, dan memaksa para etnis di Bosnia, etnis Bosnia, etnis Kroasia, dan etnis Serbia untuk melakukan perundingan yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) dan menghasilkan Dayton Agreement. Perjanjian ini memang telah menghentikan pertumpahan darah tapi tidak memberikan platform untuk membuat pemerintahan yang efektif.

Konflik bersenjata kemudian terjadi kembali pada tahun 1998. Perang di Kosovo (Provinsi Otonom Serbia Bagian Selatan) antara etnis pemberontak Albania yang menginginkan kemerdekaan dengan Angkatan Bersenjata Serbia. Perang di Kosovo berakhir pada 1999 setelah selama 11 minggu NATO melakukan pemboman terhadap Beograd dan kota-kota lain di Serbia.

Pada 2008, Kosovo menyatakan kemerdekaannya dari Serbia. Unilateral Declaration of Indepence, dikenal dengan UDI Kosovo ini, tidak diakui oleh Serbia. Persoalan ini tengah dibahas dalam 2 proses yang difasilitasi oleh UE dan AS. Kita ketahui bersama, kalau kita ikuti baru beberapa hari yang lalu di Washington DC, Presiden Aleksandar Vucic dari Serbia dan Pemimpin Kosovo Avdullah Hotti menandatangi kesepakatan yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump.

Perkembangan yang cepat di Yugoslavia juga dipicu karena berakhirnya perang dingin. Transisi demokrasi yang mengambil momentum berakhirnya perang dingin di negara-negara pecahan Uni Soviet dan di Cekoslowakia  contohnya juga berlangsug relatif damai. Namun, tidak demikian halnya dengan Yugoslavia, disintegrasi negara tersebut terjadi dengan dibarengi konflik bersenjata atau perang dan tragedi kemanusiaan.

Berakhirnya perang dingin juga telah mengubah standing Yugoslavia di mata AS. Konflik antara Stalin dengan Broz Tito pada tahun 1948 ketika mereka mencoba membuat suatu kerjasama tetapi tidak berhasil mendorong AS bersahabat dan mendukung persatuan dan integritas wilayah Yugoslavia.

Yugoslavia dipandang sebagai buffer state untuk ekspansi pengaruh Uni Soviet melalui laut artik ke wilayah mediterania hingga ke wilayah selatan dan timur tengah. Dengan bubarnya Uni Soviet maka Yugoslavia yang bersatu tidak lagi diperlukan. Selain itu, kebijakan mengakui (recognition) dari negara-negara barat terhadap suatu wilayah yang mendeklarasikan suatu kemerdekaan juga menjadi suatu metode untuk memecah belah suatu negara kesatuan. Oleh karena itu, kita dapat memetik pelajaran  dari perjalanan sejarah bangsa-bangsa lain di dunia termasuk di Yugoslavia tentang keutuhan dan integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia. (sdk)

Leave A Reply

Your email address will not be published.