Cakrawala News
Portal Berita Online

Dinkesprov Gorontalo Terus Atasi Masalah Kematian Ibu dan Bayi

0 116

CAKRAWALA GORONTALO – Dinas Kesehatan Provinsi (Dinkesprov) terus mengatasi masalah kematian ibu dam bayi.

Kali ini, hal itu diwujudkan dengan melaksanakan kegiatan Pelatihan Penanganan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal.

Kegiatan yang dilaksanakan di Grand Q Hotel pada Senin (26/10/2020) itu dibuka langsung oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Misranda E. U. Nalole.

ads bukopin

Dalam sambutannya, Misranda mengatakan peningkatkan kompetensi bagi tenaga kesehatan, baik dokter, bidan, maupun perawat adalah salah satu cara untuk menekan angka kematian ibu dan bayi.

“Prinsip pada penanganan penderita gawat darurat harus cepat dan tepat,” katanya.

Dirinya menjelaskan penanganan kegawatdaruratan obstetrik tidak hanya membutuhkan sebuah tim medis yang menangani hal tersebut.

Namun, lebih kepada membutuhkan petugas kesehatan yang terlatih untuk setiap kasus-kasus kegawatdaruratan.

“Serta harus dilakukan segera oleh setiap orang yang pertama menemukan/mengetahui (orang awam, perawat, para medis, dokter), baik di dalam maupun di luar rumah sakit. Karena kejadian ini dapat terjadi setiap saat dan menimpa siapa saja,” ujar Misranda.

Misranda mengungkapkan berbagai langkah harus diperhatikan dalam melaksanakan perawatan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal. Penatalaksanaan meliputi pengenalan segera kondisi gawatdarurat.

Seperti stabilisasi penderita, pemberian oksigen, infus dan terapi cairan, transfusi darah dan pemberian medikamentosa (antibiotik, sedatif, anestesi, analgesik dan serum anti tetanus) maupun upaya rujukan lanjutan.

Semua langkah dan penatalaksanaan tersebut harus dikuasai oleh petugas kesehatan/staf klinik yang bertugas di unit gawatdarurat atau ruang tindakan obstetri dan neonatal.

Misalnya, pada kasus pendarahan yang mengancam nyawa selama kehamilan dan dekat cukup bulan meliputi perdarahan yang terjadi pada minggu awal kehamilan. Baik itu abortus, mola hidatidosa, kista vasikuler, kehamilan ekstrauteri atau ektopik.

Kemudian, pendarahan pada minggu akhir kehamilan dan mendekati cukup bulan (plasenta previa, solusio plasenta, ruptur uteri, perdarahan persalinan per vagina setelah seksio sesarea, retensio plasentae/plasenta inkomplet), perdarahan pasca persalinan, hematoma, dan koagulopati obstetri.

“Oleh karena itu, kemauan dan keterampilan tenaga medis yang menangani kelahiran bayi mutlak sangat dibutuhkan,” ucapnya.

Misranda menuturkan saat ini tidak semua tenaga medis memiliki kemampuan dan keterampilan dalam melakukan resusitasi pada bayi baru lahir yang dapat dihandalkan.

“Walaupun mereka itu memiliki latar belakang pendidikan sebagai profesional ahli,” pungkas Misranda.

(Aden)

Leave A Reply

Your email address will not be published.