Cakrawala News
Portal Berita Online

Diduga Upahnya Digelapkan, Buruh Penanam Mangrove di Gresik Datangi Balai Desa

0 110

GRESIK, CAKRAWALA.CO – Ratusan buruh tani penanam Mangrove di Desa Pangkah Kulon, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur mendatangi balai desa setempat, Selasa (12/1/2021) guna meminta upah mereka menanam Mangrove segera dibayarkan.

Total ada sekitar Rp 900 juta upah untuk para penanam yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.

Diketahui, para buruh tani tersebut belum menerima upah sesuai masa kerjanya. Karena upah yang seharusnya sebesar Rp 7 juta, petani hanya menerima Rp 200.000 sampai Rp 2 juta di tabungannya.

ads bukopin

Upah yang bersumber dari corporate social responsibility (CSR) sebuah perusahaan itu dihitung selama masa kerja 70 hari dikalikan Rp 100.000 per hari, karena penanaman dilakukan sejak Oktober 2020.

Kenyataannya para penanam yang sebagian ibu-ibu hanya diberi Rp 200.000 dan pekerja pria mendapat Rp 2 juta. Padahal upah yang seharusnya diterima sekitar Rp 7 juta. Karena jika rata-rata uang yang diduga digelapkan mencapai Rp 6 juta, maka kalau dikalikan 150 orang akan ditemukan angka Rp 900 juta.

Kepala Desa Pangkah Kulon, Ahmad Fauron sebelumnya sempat berjanji akan mempertemukan para buruh tani dengan Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokwamas) dalam forum mediasi. Namun pada mediasi yang dipimpin Sekretaris Desa (Sekdes) Fathur Rozi tidak membuahkan hasil karena kepala desa justru tidak hadir. Sehingga, Sekdes hanya bisa membuatkan berita acara untuk mediasi itu.

“Dalam rapat tadi hanya dibuatkan berita acara. Isinya, para petani penanam mangrove dipertemukan dengan pengurus Pokmaswas. Padahal pokok masalahnya sudah jelas, para petani minta upahnya dikembalikan,” kata Fahrur, Salah seorang buruh tani kepada awak media.

Para buruh tani pun menduga bahwa pemotongan upah mereka dilakukan oknum Pokmaswas. Fahrur mengatakan, upah yang menjadi hak para petani penanam mangrove itu jumlahnya sangat besar.

“Uang upah kami ludes di tabungan. Seharusnya, uang itu bisa untuk menambah pendapatan para buruh tani penanam bibit mangrove di masa pandemi Covid-19,” imbuhnya.

Sampai saat ini, para buruh tani masih menunggu kejelasan sikap Pengurus Pokmaswas yang akan dimediasi pihak desa. “Kita menunggu kejelasan dari desa dan Pokmaswas,” katanya. (Zen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.