Cakrawala News
Portal Berita Online

Detik-detik Penangkapan Tommy Soeharto (5)

225

Oleh Syaefurrahman Al-Banjary

“Ini adalah kisah lanjutan perburuan terpidana Tommy Soeharto, yang setelah bebas kini sedang berjuang  untuk kebaikan bangsanya.”

 

ads bukopin

SETELAH melakukan pengintaian sejak 6 Agustus 2001 dan pengembangan informasi yang didapat, Tim Kobra pimpinan Tito Karnavian (kini Kapolri) kemudian melakukan surveillance, yakni pengusutan, penyamaran, penyadapan terhadap orang-orang yang diduga memiliki hubungan dengan Tommy Soeharto.

Rabu, 28 November 2001 sekitar jam 16.05 mungkin menjadi hari naas bagi Tommy Soeharto. Hari itu ia harus menyerah pada tim Kobra pimpinan Tito Karnavian. Tito menangkap Tommy di rumah persembunyiannya di Jalan Maleo II No. 9 Blok JB-4-7, Sektor IX, Kompleks Bintaro Jaya, Pondok Aren, Tangerang Banten. Ini adalah hari ke 387 pelarian Tommy sejak dinyatakan buron pada 3 November 2000.

Rumah persembunyian Tommy itu milik seorang janda bernama Ibu Rossana Hasan atau sering dipanggil Ibu Cana, yang ketika digerebek tengah ditemani anaknya Bill Haq alias Iqbal. Waktu itu Tommy telah berganti identitas dengan nama Ibrahim. Ketika ditangkap, Tommy sedang tidur. Di sebelahnya terdapat seorang wanita yang sedang hamil tujuh bulan. Wanita itu adalah Lani Banjaranti, yang sebelumnya memang pernah dikunjungi Tommy waktu tinggal di Jalan Dempo Menteng, Jakarta Pusat. Bahkan Lani juga pernah diperiksa Polisi selama lima jam pada 21 Maret 2001.

Sebelum penangkapan, polisi sebenarnya sudah mengamati rumah itu sejak tiga bulan lalu. Namun baru intensif sejak sepuluh hari terakhir. Ketika polisi melihat ada mobil masuk  garasi dan seorang lelaki bertubuh tegap, kulit putih tanpa kumis, bertopi, turun dari mobil masuk rumah, polisi menduga itu adalah Tommy Soeharto. Tim Kobra pun meningkatkan kewaspadaan, sampai tiga hari tidak pulang dan tidak mandi, hanya ganti baju saja.

Tito selanjutnya mengatur strategi. Seorang anggota tim kobra ditugaskan menyadap suara di dalam rumah itu pagi subuh dengan memanjat tembok belakang setinggi empat meter dan memasukkan alat perekam suara sebesar bungkus rokok. Alat itu ditaruh di lubang ventilasi depan ruang utama. Alat ini mampu menyadap suara dalam radius 100 meter.

Sekitar jam 07.00 terdengar pembicaraan antara seorang perempuan dengan seorang lelaki yang diduga keras adalah Tommy. Maka Tito memutuskan untuk melakukan pengepungan. Semua kekuatan difokuskan ke Bintaro. Pasukan yang di sekitar Cendana diperintahkan untuk bergabung. Empat sisi rumah dijaga masing-masing empat anggota.

Sekitar pukul 09.00 Tito membawa rekaman pembicaraan yang tersadap itu ke Polda Metro Jaya, untuk dikonfirmasi dengan para pengawal Tommy yang sudah ditangkap lebih dahulu yakni Dedi Yusuf, Doddy Harjito, dan Mulawarman, kemudian ke rumah tahanan Salemba, karena ada juga yang sudah ditahan di sana. Mereka pun membenarkan itu suara Tommy, bos mereka.

Tito dan beberapa anggota lain kemudian kembali ke posko pengintaian di dekat restoran McDonald (depan rumah persembunyan Tommy) dengan percaya diri memastikan ada Tommy di rumah sasaran. Sejumlah anggota lain terus mengamati, kapan ada orang masuk rumah sasaran, agar mereka dapat menyelinap dan tidak menimbukan kegaduhan.

Sekitar pukul 16.00, delapan anggota tim kobra pimpinan Tito Karnavian memang akhirnya dapat masuk rumah bersamaan dengan masuknya Ibu Cana yang datang dengan taksi bersama anaknya, Bill Haq. Terjadi dialog antara Ibu Cana pemilik rumah dan Bripka M. Sodiq  tentang maksud kedatangan para Polisi.

Tidak mau mengambil risiko, tiga orang anggota naik ke kamar atas, sisanya di bawah. Tito masuk kamar nomor satu, kosong. AKP Syafei masuk kamar nomor dua, juga kosong. Kamar tiga dimasuki Ipda F. Danang, menemukan Tommy sedang tidur.  “Angkat tangan, jangan bergerak,” kata Danang sambil menodongkan senjata.

Tommy terbangun dan bertanya, “Anda siapa.”  Tito yang cepat bergeser dari kamar satu ke kamar tiga menjelaskan bahwa ia hendak menangkapnya. “Saya menyerah,” kata Tommy tanpa perlawanan. Tampangnya sangat memelas dan Tito pun memeluk Tommy.

Tommy yang mengenakan kaos putih dan celana jins biru pun bergeser ke ruang tengah. Terjadi dialog basa basi Ibu Cana dengan polisi. Merekapun ikut dibawa ke Polda Metro Jaya dengan mobil kijang polisi. Dalam perjalanan menuju Polda, kendaraan yang membawa Tommy sempat berhenti di warung depan Plaza Senayan untuk membeli minuman dan makanan berbuka puasa, karena jam menunjukkan pukul 18.00 WIB.

Sampai di Polda jam menunjukan pukul 18.30, di sana sudah banyak wartawan menunggu untuk mendengarkan penjelasan Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Sofjan Jacoeb, tentang keberhasilan anak buahnya menangkap buronan nomor wahid saat itu, yaitu Tommy Soeharto.

Kapolda menganggap tindakan Tommy yang menyerah kepada Polisi  sebagai tindakan yang jantan. Selain menangkap Tommy, Tim Kobra juga menyita sejumlah uang dalam bentuk dolar dan beberapa buah telepon genggam.

Publik pun sebagaimana dilansir sejumlah media kala itu seperti bersorak-sorai atas prestasi polisi. Nama baik polisi melambung atas prestasinya memburu orang yang sedang dicari-cari karena kasus kriminal yang dilakukan seorang anak dari mantan orang terkuat di negeri ini.

Kapolda Metro Jaya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu usaha penangkapan, dan mohon maaf kepada semua pihak yang merasa terganggu. “Saya dengan sepuluh jari ditambah satu kepala sangat berterimakasih. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya baik kepada keluarga dari Pak Tommy, pengacara, maupun masyarakat, yang ikut berusaha, ternyata belum bisa memuaskan. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ujar Sofjan Jacoeb.

Ia menyatakan, dengan tertangkapnya Tommy, maka operasi penangkapan dinyatakan selesai. Ia menyatakan puas atas kinerja anak buahnya dan akan memberikan penghargaan yang setimpal atas prestasi dan kerja keras mereka.

Sumber:

  1. Tito Karnavian dalam Pusaran Terorisme(Syaefurrahman Al-Banjary), PT Warta Mandiri Multimedia, 2017.
  2. Liku-liku Penangkapan Tommy Soeharto(Hendrowinoto dkk), PT Gria Media Prima Jakarta, 2001

Comments are closed.