Cakrawala News
Portal Berita Online

Cek-cek Sebelum Belanja Online

0 112

KABUPATEN SUKABUMI JABAR CAKRAWALA.CO Perdagangan online di Indonesia memang memang sudah menjadi budaya tersendiri semua dibeli melalui online. Tidak heran menurut WeAreSocial di awal 2021 yang mendata 10 negara dengan persentase penggunaan e-commerce tertinggi di dunia. Indonesia berada di peringkat pertama dengan 84%. Kedua Inggris kemudian Filipina, Thailand dan Malaysia. Lalu di urutan keenam ada Jerman, Irlandia, Korea Selatan, Italia dan urutan 10 Finlandia.

Dengan masyarakat tinggi menggunakan e-commerce ada sisi buruknya yakni banyaknya penipuan online, menurut survei Polri tahun 2020 memang terjadi penurunan laporan. Penipuan online di 2019 ada 1600 laporan dan tahun 2020 ada 600 laporan.

Menurut, Nindy Tri Jayanti, entrepreneur sekaligus penggiat UMKM, meskipun pelaporan terus menurun tetapi masyarakat harus tetap berhati-hati untuk penipuan di online ini. Paling banyak terjadi saat belanja online di media sosial karena bertransaksi secara langsung. Berbeda jika dari marketplace cenderung sudah lebih aman karena ada jaminan sendiri.

Media sosial masih kurang pengawasannya, meskipun mereka sudah mengklaim memiliki marketplace seperti Instagram dan Facebook tetapi tetap tidak ada jaminan untuk keamanan bertransaksi di media sosial, jelasnya di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (13/9/2021).

Bentuk-bentuk dari penipuan online seperti barang yang dipesan tidak sesuai dengan kenyataannya. Jika sudah seperti itu sebagai konsumen sebaiknya bertanya mengapa produk yang kita terima itu tidak sesuai dengan yang ada di foto atau memang bahan yang datang itu tidak sesuai dengan deskripsi di informasi produk.

Sebagai penjual online, Nindy memberikan tips aman untuk berbelanja online dengan mencari tahu reputasi penjual. Cari tahu sudah berapa lama toko online tersebut beroperasi. Meskipun tidak ada jaminan yang baru itu toko bohong. Kita harus melihat aja faktor lain seperti testimoni dari para konsumen lainnya.

Cek followersnya bagaimana kedekatan dengan konsumen seperti apa? Followersnya 100 ribu tetapi like dan komennya hanya puluhan orang. Itu perlu di pertanyakan apakah itu memang followers asli ataupun hanya followers beli, ungkapnya.

Kita bisa juga melihat reputasi penjual itu dari ulasan konsumen sebelumnya. Kalau di Instagram kita bisa melihat bagian tagging atau siapa saja yang pernah men-tag akun tersebut. Ini khusus untuk akun di media sosial di Facebook ataupun di Instagram kalau memang dia terpercaya dan produk yang benar-benar bagus akan banyak yang tag dan memberi ulasan. Sehingga kita bisa langsung melihat langsung dari orang bersangkutan bukan dari si penjual itu yang mem-posting.

Nindya menambahkan, cek reputasi penjual juga bisa melalui marketplace rata-rata semua pedagang online sekarang sudah mempunyai marketplace. Dari situ dapat terlihat toko online terpercaya atau tidak. Untuk melindungi data pribadi kita jangan lupa untuk menghapus data pada paket belanjaan yang kita terima. Biasanya ada nama, alamat lengkap dan juga nomor HP data sangat berbahaya jika diketahui oleh yang tidak bertanggung jawab. Gunting bagian data diri di bagian depan kardus atau yang dibungkus sehingga tidak lagi terbaca.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (13/9/2021) juga menghadirkan pembicara Allana Abdullah (Pengusaha Online), Dian Nurawaliah Sonjaya (Founder Maleeha Skincare), Bukhori (Sosial Media Specialist), dan Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Leave A Reply

Your email address will not be published.