Cakrawala News
Portal Berita Online

Callysta Si Putri Maggot, Sulap Sampah Jadi Berkah

0 13

SURABAYA, CAKRAWALA.CO – Kantor perpustakaan Kota Surabaya menggelar launching bedah buku “Callysta Si Putri Maggot BSF-Budikdamber kesayangan warga”. di lantai 2 Gedung Perpustakaan Kota Surabaya, Jln Rungkut Asri Tengah no 5-7, Surabaya.

Pada acara ini dihadiri oleh 3 Sekolah Dasar, yakni, SDN Medokan Semampir 1, SDN Rungkut Menanggal 2 dan SDN Jemur Wonosari 1 yang didampingi oleh masing-masing guru pembimbing. Hadir pula Kepala Sekolah SDN Kaliasin 1, Sastro, M.Pd., yang merupakan kepala sekolah tempat Callysta menimba ilmu.

Menurut Sastro, dengan digelarnya launching ini, ia ingin memberikan edukasi terkait sampah yang bisa didaur ulang bahkan bisa menghasilkan nilai ekonomis seperti yang dilakoni oleh Callysta. Ia pun berharap anak-anak ini dari kegiatan tersebut bisa menginspirasi jejak Callysta yang saat ini sebagai finalis Pangeran Putri Lingkungan Hidup 2022.

“Edukasi terkait sampah di Surabaya harus dilakukan dan diajarkan pada anak-anak yang hadir pada saat itu dan juga anak-anak sekolah di Surabaya pada umumnya, agar anak-anak ini nantinya mengerti bagaimana cara mengelola sampah, yang semula dianggap tidak berguna, ketika dikelola dengan benar akan menghasilkan dan menguntungkan,” ungkapnya.

“Kita ingin agar anak-anak kita ini disiplin soal sampah, artinya tidak membuang sampah sembarangan,” imbuhnya.

Callysta sendiri merupakan murid kelas 4A, SDN Kaliasin 1 Surabaya. Menurut Astri, Guru pembimbing Tita (sapaan akrab Callysta, red), ia merasa bersyukur karena Tita menjadi finalis putri lingkungan hidup. Hal ini bisa menambah wawasan Tita untuk menjadi lebih baik dan menambah pengalamannya.
“Tita anak yang lincah dan supel di kelas,” tuturnya.

Siapa Callysta Kusuma Azalia?

Callysta Kusuma Azalia (Tita), usia 9 tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Kaliasin 1 kelas 4A Surabaya. Tita tertarik membudidayakan lele karena sepengetahuannya, lele mengandung protein sangat tinggi dan mudah dibudidayakan.

Namun dalam benaknya, ia berpikir bagaimana cara membudidayakan lele di lahan yang terbatas. Hingga pada akhirnya atas bimbingan dari orang tua dan gurunya menemukan cara membudidayakan lele di ember bekas.

Tidak itu saja di dalam ember tersebut juga ditanami kangkung dengan sistem hidroponik. Sehingga proyeknya ini dinamakan “Budikdamber” yakni, Budidaya ikan dan sayur dalam ember.

Dijelaskan, untuk menunjang makanan lele agar cepat tumbuh, Tita awalnya memakai pelet lele pabrikan, namun kemudian terbentur masalah biaya, hingga akhirnya Tita Maggot, yaitu larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF).

“Alhasil dengan mengembangkan dan membudayakan maggot sampai saat ini Tita tidak kesulitan dalam hal pakan lele,” ujar Astri, guru pembimbing Tita.

“Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya proyek Budikdamber kemudian mulai dikenal oleh masyarakat sekitar yang kemudian diajak Tita untuk ikut membudidayakan ikan dalam ember,’ tambahnya.

Hingga saat ini, sudah berhasil membudidayakan lele sebanyak 20.210 ekor dan tanaman kangkung sebanyak 37.100 batang, mempunyai 20 kampung binaan, 2 SD binaan, 18 RW binaan dan sudah membuat Budikdamber sebanya 262 buah.

“Untuk Maggot, sampai saat ini saya membudidayakannya sebanyak 20.786 kg,” pungkasnya (mos)

Leave A Reply

Your email address will not be published.