Cakrawala News
Portal Berita Online

Cacing Pita 10,5 Meter Ditemukan di Perut Warga Simalungun

8

JAKARTA, CAKRAWALA.CO,- Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU) menemukan cacing pita sepanjang 10,5 meter di Nagori (Desa) Dolok, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Cacing pita ini diduga terpanjang di dunia (Tribun Medan, 27/3/2018).

Dokter Umar Zein selaku Ketua Tim Peneliti cacing pita FK UISU menyebutkan, penemuan itu bermula pada Oktober 2017 saat ada pasien berobat ke kliniknya. Pasien itu mengaku saat dia membuang kotoran mengeluarkan potongan-potongan cacing.

Berangkat dari pengakuan itu, Umar Zein mengajak tim dari FK UISU menuju ke lokasi asal pasien tersebut di Nagori Dolok, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, 21 Oktober 2017.

ads bukopin

Setelah melakukan penelitian beberapa hari, tim memberikan obat untuk dikonsumsi warga.

Lalu, pada 2 November 2017, ditemukan kasus saat seorang warga membuang kotoran, dia mengeluarkan cacing pita sepanjang 10,5 meter.

“Bisa jadi ini merupakan cacing pita terpanjang di dunia,” ujar Umar seperti diberitakan Tribun Medan (27/3/2018).

Lebih jauh, tim FK UISU menemukan 171 kasus serupa dengan cacing pita yang panjangnya beragam, mulai dari 2 meter hingga 8,6 meter.

“Total yang kami temukan 171 kasus. Ada juga warga yang membuang kotoran yang kemungkinan juga ada cacing pita,” kata Umar.

Dia memperkirakan, mayoritas warga di enam desa di Kecamatan Silau Kahean juga terkena pengakit cacing pita. Penyebab penyakit ini, menurut Umar, yaitu konsumsi daging babi yang tidak dimasak atau kurang sempurna memasaknya.

“Di sini kan ada makanan khas Simalungun, yakni hinasumba atau holat yang bahan makanannya dari daging babi yang memang tidak dimasak,” ujar Umar.

Atas temuan ini, pihak FK UISU melakukan kerja sama dengan tiga universitas asal Jepang dan empat universitas di Indonesia untuk melakukan penelitian.

Kepala Bidang Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun, Surbabel Saragih mengatakan, pihaknya tidak memiliki obat untuk penyakit itu. “Obat cacing itu tidak ada sama kita, mungkin dari luar negeri baru ada. Kalau anak-anak sudah kita berikan,” kata Surbabel.

Kasus ini makin membenarkan mengapa Alqur’an mengatakan “diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah (QS. Al-Maidah: 3). (fur/UCNews).

Comments are closed.